Rabu, 10 Juni 2026

Tuasan Daleem Kaoy

Sekira tujuh karung teratur diletakkan sejajar pada pinggiran pagar rumah sederhana itu. Setengah bulatan ban bekas muncul di permukaan

Tayang:
Editor: bakri
Karya  Nazar Djeumpa

Sekira tujuh karung teratur diletakkan sejajar pada pinggiran pagar rumah sederhana itu. Setengah bulatan ban bekas muncul di permukaan, sebagiannya tertanam dalam adonan semen yang telah membatu dalam karung. Beberapa potongan temali seukuran gagang sapu tergulung rapi juga tergeletak di sana. Kaoy berdiri mematung sembari berkacak pinggang. Sedang menanti seseorang kiranya. “Lama sekali kau, Manyak,” seru Kaoy setelah becak motor berhenti tepat di depannya.

Manyak tidak menjawab. Dengan cekatan dia  mengangkat ratusan potong pelepah nyiur dan tangkai-tangkai iboih berdaun ke atas becak motor. Lantas ia membantu Kaoy mengangkat karung-karung berbatu itu.

“Kita berangkat sekarang, Daleem (Abang, red)?” tanya Manyak.

“Apa mesti menunggu malam? Lekaslah,” Ucap Kaoy dengan nada tinggi. Manyak hanya tersenyum. Tak perlu gentar ataupun murka, karena suara menggelegak. Manyak sudah terbiasa. Dia hanya menyambut dengan senyuman saja. Karena Manyak sangat memahami, gelegar suara itu bukan sebab kedongkolan hati. Memang begitulah peradaban di tepian pantai. Berbeda jauh dengan kebiasaan di tempat asalnya. Di sana, suara meninggi hanya untuk menghalau ternak yang menerobos pagar.

Petang telah turun. Becak motor yang dikendarai Kaoy berhenti tepat di sisi perahu berukuran sedang. Beberapa pria di dermaga membantu memindahkan bawaan mereka ke dalam perahu. Perahu itu milik Toke Piyan. Di sewa sehari oleh Kaoy untuk mengangkut bahan-bahan pembuat tuasan (rumpon)

Perahu terus bergerak. Tidak terlalu lama menembus buaian gelombang. Kaoy berujar pada nakhoda, “Kukira sampai di sini. Setakar tiga mil cukuplah sudah.” Nakhoda pun serta merta menghentikan laju perahu. Mematikan mesin dan melemparkan sauh.

Satu per satu karung diturunkan. Terikat dengan tali temali panjang. Karung-karung membatu itu sebagai pemberat. Kemudian dilanjutkan dengan menurunkan pelepah-pelepah berdaun. Dedaunan tersebut mengambang antara dasar lautan dengan permukaan air. Dan terakhir pelampung diikatkan pada ujung temali. Mengapung di permukaan. Pelampung juga berguna sebagai penanda, bahwa di lokasi itu dibenamkan tuasan.

Setelah selesai mereka rehat sejenak melepas penat. “Sungguh indah sekali,” ucap Manyak. Matanya menerawang jauh membelai gugusan perbukitan nun jauh di daratan. “Di sinilah kita akan menghabiskan hari-hari. Kita tidak lagi memburu kawanan ikan. Kita hanya memancing di tuasan ini,” ujar Kaoy tersenyum. Bahagia kiranya karena Kaoy telah memiliki tuasan sendiri. Itulah mimpinya tatkala remaja.

Berbulan-bulan Kaoy membujuk sang istri agar merelakan gelang tangan yang dipersembahkan sebagai mahar dahulu untuk  diuangkan guna mendapatkan sebuah sampan. Pun kini keratan kedua berbentuk kalung yang diharap dijual, sebagai modal membangun tuasan. Bagi Kaoy, membujuk istrinya itu merupakan perjuangan terberat. Serasa lebih berat dibandingkan tatkala menantang amukan badai di tengah lautan demi mengumpulkan keping-keping rupiah untuk mahar. Jua serasa lebih berat daripada merayunya agar sudi dinikahi. Bagi setiap wanita lumrah saja jika keberatan  melepaskan sesuatu yang telah dimiliki.

“Pokoknya Abang harus mengembalikannya. Aku tidak mau tahu dan tanpa alasan. Titik,” terngiang ujaran  kalimat istrinya  yang  sesunggukan setelah menyerahkan kalung itu.

“Sabarlah, Dik. Insya Allah, Abang mengembalikannya,” Gumam Kaoy.

***

Pagi ini mereka tampak bahagia. Kaoy tersenyum melihat Manyak bersiul girang sembari mengayuh sampan. Ini adalah hari pertama mereka mendatangi tuasan. Setelah dua pekan membiarkannya. Dua pekan cukuplah sudah masa untuk menjadikannya sebagai rumah bagi ikan. Ganggang-ganggang laut telah tumbuh pada sampah yang dibenamkan itu. Ikan jadi  betah berlama-lama, juga berumah di sana. Dan mereka hanya datang saja untuk melemparkan mata kail kemudian memungutnya ekor per ekor.

Radio transistor kecil merupakan yang ketiga di antara mereka berdua. Itulah teman yang selalu menyuguhkan lagu maupun berita. “Daleem, dengar berita radio barusan?” ujar Manyak sembari terus mengayuh sampan.

“Tentang apa?” Kaoy balik bertanya. “Tentang ladang minyak di seberang kampung kita.” Manyak diam sebentar,  karena memindahkan kayuhan ke bagian sebelah. Lantas dia melanjutkan, “Sekarang ladang itu sudah mati. Tapi mereka sedang mencari ladang minyak di laut. Sepanjang pantai ini.”

Kaoy tidak menjawab. Dia terus saja memasangkan umpan-umpan pada puluhan mata kail. Manyak bercerita mengenai kapal besar yang telah beberapa hari dalam pekan ini kerap menyusuri pantai. Kapal besar itu tampak jelas dari pantai. Bergerak perlahan mencari-cari minyak dengan benda yang dibenamkan ke laut dari perut kapal. Beberapa nelayan ada yang mencoba merapat ke kapal itu, namun dilarang. Tapi pekerja bertopi kuning di kapal tersebut  sepertinya baik budi pekerti. Mereka sering mengapungkan makanan atau minuman kaleng untuk perahu-perahu nelayan yang berpapasan dengan mereka. “Asalkan kampung kita tidak digusur seperti cerita ayahku semasa beliau kecil,” Sahut Kaoy.

“Mereka ambil minyak di laut. Bukan lagi di darat, Daleem.” ujar Manyak.

Sekira dua puluh menit sudah sampan itu dikayuh. Kiranya telah tiba ke tuasan. Namun keduanya bingung. Tidak ada lagi pelampung sebagai penanda. Apakah salah tempat? Tidaklah mungkin. Kaoy paham benar lokasi ini. Persis di antara lekukan terjal dua bukit yang samar-samar nun di jantung daratan. Posisi bujur sampan tepat pula dengan mulut kuala yang membayang di kejauhan sana.

“Apakah tali pelampung telah di potong orang?” Gumam Kaoy pada diri sendiri.

“Lihat di sana, Daleem” ujar Manyak sembari menunjuk sampah-sampah dedaunan terserak mengapung. Di kejauhan sekira seribu kayuhan dari posisi mereka sekarang,  sampah timbul tenggelam diayun ombak. Manyak bergegas mengayuh sampan ke sana.

“Itu milik kita. Aku menandai bekas potongan itu. Semua pangkal pelepah ku potong meruncing. Itu tuasan kita telah hancur, Daleem!” Manyak berseru gemetar.

Pelepah-pelepah itu telah lepas dari pengikat pada karung-karung batu pemberat. Hanya seutas temali yang masih tersisa. Perlahan-lahan sampah itu  terseret menepi. “Ini pasti tadi malam tuasan kita di rusak” Manyak menceracau panik. Kaoy terperangah. Tidak ada kata terucap. Tidak ada ikan besar yang akan dikail dari tuasan barunya. Tuasan itu sudah tidak ada lagi, telah hancur sebelum sempat mendulang hasil.

“Apakah orang-orang dengki yang merusak tuasan kita?” Gumam Manyak.

“Ataukah… “ Kaoy berucap keras laksana tersentak. “Apa, Daleem?” tanya Manyak

“Ataukah seperti ceritamu, kapal besar pencari minyak itu memporak-porandakan  tuasan kita.” Kaoy mencoba menerka-nerka. Manyak melirik Kaoy. Dia menemukan raut gulana di wajah abang iparnya. Apalagi yang mesti ditunggu, perlahan Manyak pun  memutar haluan. Mengayuh pelan, kembali menuju daratan. Kaoy hanya termenung. Entah pun nanti Nyakmah, istrinya, dapat memahami. Sekira  10 manyam kalung  emas itu telah karam.

* Nazar Djeumpa (Muhammad Nazar),  cerpenis.  Berdomisili di  Kota Juang, Kabupaten Bireuen.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved