Tafakur
Sombong
Didengarnya beberapa dalil Allah yang dikemukakan kepadanya, kemudian dia tetap menyangkal dengan sombongnya, seolah-olah dia tak mendengarnya
“Didengarnya beberapa dalil Allah yang dikemukakan kepadanya, kemudian dia tetap menyangkal dengan sombongnya, seolah-olah dia tak mendengarnya. Karena itu, gembirakanlah dia dengan siksaan yang pedih” (QS. al Jatsiyah: 8).
Menolak kebenaran, itulah hakikat kesombongan yang disebutkan Rasulullah SAW dalam suatu haditsnya. Dan kebenaran yang hakiki itu tentunya adalah Alquran. Terbukti, meskipun Alquran diciptakan untuk dijadikan sebagai pedoman hidup manusia, tak semua insan mau memedomaninya, meskipun mengetahuinya. Bahkan, yang telah mampu menghafal sejumlah ayat kitab suci tersebut dan menggunakannya sebagai penguat dalam berbicara pun, ada yang lebih memilih mengikuti hawa nafsu ketimbang memilih kebenaran.
Memang telah disebutkan dalam Alquran (Surah al Baqarah), ada golongan manusia yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hati. Bahkan dipersaksikannya kepada Allah terhadap kebenaran isi hatinya. Namun, kata Allah, itulah sebenarnya penentang kebenaran yang paling keras. Dia lah perusak yang sesungguhnya. Dengan kata lain, dia lah orang yang paling sombong, karena sengaja berpaling dari petunjuk Allah, meskipun sangat memahami dalil-dalil kebenarannya.
Makanya tidak mengherankan, bila ada orang yang menggunakan ayat-ayat Alquran hanya untuk petunjuk hidup yang seluas sajadah. Sedangkan kehidupan di luar itu, penuh dengan kecurangan di sana-sini. Allah dilupakan, meskipun kerap bersumpah dengan namaNya. Ini suatu indikasi adanya upaya sebahagian orang untuk menyempitkan kegunaan Alquran dan memperolok-olokkannya. Padahal Alquran diturunkan untuk kehidupan luas yang mencakup segala bidang.