Kegigihan Adan
KULIT putih bersihnya berubah memerah. Lambat laun menghitam setelah terus menerus terbakar terik sinar matahari
KULIT putih bersihnya berubah memerah. Lambat laun menghitam setelah terus menerus terbakar terik sinar matahari. Di sudut kelopak matanya mulai muncul garis keriput, padahal usianya masih terbilang muda. Penampilannya yang kelimis, berubah drastis. Bahkan boleh dibilang keseharianya menjadi sangat sederhana.
“Menjadi petani penampilan harus menyesuaikan, dengan petani,” kata Adan, menjawab protes istrinya.
Penampilan itu, berbalik seratus delapan puluh derajat, bila dibadingkan ketika Adan, baru datang dari Pulau Jawa. Begitupun dengan warna kulit istrinya, gadis kota yang selalu berpenampilan modis. Ia mulai sedikit menghitam akibat ikut menemani suami bertani. Sebuah perofesi yang tak terbayangkan sebelumnya.
Orang-orang yang mengenalnya tak sedikit memuji, lantaran ia mau menjadi petani. Banyak juga mencemooh. Menilai, Adan, manusia tak tahu untung. Tidak mau menikmati rezeki yang telah diterimanya selama ini. Ia tidak perlu repot-repot mencari tambahan dengan bekerja pakai otot. Biarkan profesi sebagai petani dijalankan Herman, Zaka dan Badin yang memang terlahir dari keluarga petani. Badan ketiga tetangganya itu kekar dan fisiknya kuat, cocok dengan pekerjaanya sebagai petani.
Bagi pencemooh, Adan, tak perlu lagi repot-repot bertani. Perbuatannya justru dinilai merebut lahan petani, yang mencari sesuap nasi dari bercocok tanam. Penghasilnya sebagai PNS golongan III B, sudah lebih dari cukup menghidupi keluarganya. Adan dituding telah merebut lapak petani.
Tinggal di kabupaten kecil, gaji Adan, sudah cukup membeli kebutuhan rumah tangga, sesekali bisa jalan-jalan. Malahan berkat kemampuannya mengelola proyek miliaran bisa memberi penghasilan besar. Tinggal maunya saja menerima lobi-lobi dari rekanan yang mengantre minta jadi pemenang tender.
Adan dikenal atasannya, sebagai pegawai yang memiliki kemampuan di atas rata-rata PNS lain. Adan acap dipercaya memimpin sebuah proyek. Di tangannya pula program yang dimiliki pemerintah kabupaten tempatnya mengabdi, akan berjalan sukses. Malah lebih sering keberhasilan yang diperoleh melebihi ekspektasi pada saat perencanaan.
* * *
Adan tidak terlalu memperdulikan umpatan orang. Keyakinannya siapa menanam kebaikan maka akan menuai kebaikan, begitupun sebaliknya. Tanam cabai pasti panen cabai. Rasanya pun pasti pedas, sangat mustahil cabai rasanya manis. “Kalau manis gula namanya, bukan cabai,” batinnya.
Berkat kegigihanya, Adan, menuai hasil. Ia telah berhasil membangun rumah. Bila dirupiahkan nilainya jauh di atas rumah milik pegawai dengan golongan sama. Ia juga sanggup membeli mobil dengan harga ratusan juta. Malahan pada bulan haji tahun kemarin, bersama sang istri melaksanakan rukun Islam kelima ke tanah suci Mekah Al Mukaromah.
Iri mungkin cocok disematkan bagi mereka yang dangkal pemahaman agamanya. Tapi Adan menyebutnya cobaan. Belakangan Ia harus bolak-balik berurusan dengan penegak hukum. Ia dituding bermain proyek. Sehingga penghasilannya di atas pegawai yang memiliki golongan sama dengan dirinya.
“Saya tidak takut, silakan mereka mau periksa. Saya punya rumah, mobil dari hasil bertani bukan korupsi,” cerita Adan pada istrinya.
Kegiatan bertani Adan, sama sekali tidak menggangu pekerjaan pokoknya sebagai abdi negara. Adan tidak tidur ketika menimba ilmu di bangku kuliah. Ilmu manajerial yang diperolehnya benar-benar bisa diterapkan dengan sempurna. Senin sampai Jumat, Ia bekerja di kantor. Berangkat maupun pulang dinas selalu tepat waktu. Tidak pernah terdengar celotehan yang mengatakan Ia bolos atau terlambat kerja.
Sepulang dinas Adan, buru-buru menggarap sehektar tanah pinjaman. Kalau Sabtu dan Ahad, sudah pasti Ia ditemani sang istri merawat tanamannya. Termasuk sebelum berangkat kerja, pengganti olah raga pagi Adan pergi ke kebun. Di kebun ada saja yang dikerjakanya. Mencabut rumput, membetulkan posisi tanaman atau sekedar berkeliling memeriksa adakah hama yang menyerang.
Bagi Adan, tanaman ibarat anak. Mengurusnya harus penuh kasih sayang, diberi makananan bergizi secukupnya, dielus dan dimanja. Perlakuan istimewa itu, sebanding dengan penghasilan yang diraih. Tetangganya yang petani, sama-sama menanam cabai bersebelahan. Namun dalam kurun waktu tiga pekan terlihat perbedaan. Bila tinggi cabai milik tetangganya baru sejengkal, maka tanaman Adan telah dua kali lipat.
Sudah bisa ditebak begitu panen cabai milik Adan, hasilnya melimpah. Rasa lelah selama empat bulan lebih sirna terganti lembaran uang kertas yang diterima hasil penjualan cabai. Selama masa panen, tetangganyapun tidak perlu lagi beli cabai, selagi masih ada di kebun Adan.
Begitu ditanya rahasia bertaninya bisa berhasil. Adan, penuh sumaringah segera menceritakannya. Tidak peduli siapapun yang bertanya. Dalam benaknya tidak terlintas akan datang pesaing bila ada orang pintar melebihi dirinya. Sebenarnya kemurahan Adan, berbagi ilmu diakui teman sekantornya. Namun tidak ada yang sanggup menyaingi keberhasilnya.
Memang yang pintar darinyapun jauh lebih banyak. Yang membedakan, Adan, rajin, tidak pemalas. Bagi Adan, orang pintar itu harus banyak. Akan lebih baik lagi bila kepintaran itu, disempurnakan dengan kecerdasan, ulet, rajin dan gigih. Baginya bila makin banyak orang pintar maka, pekerjaanya akan semakin mudah dan cepat tuntas. Bukan sebaliknya, menyingkirkan orang cerdas karena takut tersaingi.
* * *
Kembali lagi ke manajemen menanam cabai ala Adan. Lahir dari keluarga kantoran, keahliannya juga master akuntansi, sudah pasti tidak memiliki pengetahuan bertani. Kelemahan itu, diisi dengan rajin membaca buku dan internet. Satu lagi rahasia keberhasilannya bertani yaitu, menggunakan pola gotong royong.
Secara keuangan Adan, lebih dari mampu bila menaman cabai seluruhnya mengupahkan ke tetangganya yang bekerja serabutan. Tapi tidak demikian. Ia memilih mengajak tiga tetangganya yang tidak memiliki pekerjaan tetap, sama-sama menanam cabai.
Caranya ya itu tadi dengan bergotong royong mengerjakannya. Adan, hanya mengupahkan pekerjaan yang tidak bisa dilakukannya, seperti mencangkul. Tiga tetangganya, mendapat modal membeli bibit dan pupuk dari upah yang diberikan Adan. Sementara pekerjaan ringan dikerjakan berbarengan. Sistem kerja seperti itu, berhasil menekan biaya hingga lima puluh persen. Kerja bareng ternyata, menambah semangat, pada masa istirahat bisa membahas penanganan terhadap tanaman yang terserang penyakit.
Sibuk membanting tulang, Adan jatuh sakit. Kondisi itu, sebetulnya sudah sangat dikhawatirkan istrinya. Istrinya tahu, sang suami bukan laki-laki berotot, fisiknya tidak akan tahan menjadi petani.
Sakit, sebenarnya sudah dirasakan ketika Adan mulai menanam cabai. Telapak kakinya sering pegal, begitupun kepalanya sering sakit akibat terkena hujan dan panas matahari. Namun ia menganggap hal itu, lumrah karena belum terbiasa.
Empat bulan lebih Adan, terbaring di tempat tidur setelah berbagai upaya pengobatan belum jua membuahkan hasil. Istrinya yang telaten merawat nyaris kehilangan harapan sang suami akan kembali sehat seperti sedia kala.
Pada Ahad siang, langit di tempat tinggal Adan, bergelayut mega hitam. Adan, tiba-tiba sanggup bangun dari tempat tidur. Ia mendatangi rumah Herman, dengan bantuan sokongan tongkat. “Saya doakan semoga menjadi haji mabrur,” ucap Adan, kepada tetangganya yang akan berangkat naik haji pekan depan, berkat penghasilanya dari menanam cabai. Sementara Zaka dan Badin, mesti bersabar menunggu kuota haji tahun berikutnya. (*)
* Penulis adalah Jurnalis di Aceh Singkil
email: dr_tukangtulis@yahoo.co.id