Banjir Kepung Aceh

Setidaknya enam kabupaten di Aceh hingga tadi malam dikepung banjir dengan tingkatan ringan, sedang, dan berat

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Banjir Kepung Aceh
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Petugas BPBD Nagan Raya terpaksa mengantar puluhan murid SDN Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya, menggunakan speedboat ketika banjir dengan ketinggian mencapai 1 meter merendam sebagian besar wilayah itu akibat meluapnya aliran Krueng Nagan, Senin (6/5) pagi.

Di Kecamatan Beutong, luapan Krueng Nagan juga menyebabkan sepanjang 100 meter areal persawahan amblas ke sungai. Sedangkan di kawasan pedalaman Gunong Kong, Kecamatan Darul Makmur, sebuah jembatan patah menyebabkan terganggunya transportasi.

Banjir di Nagan Raya juga mengganggu proses UN SD/MI di Kecamatan Tripa Makmur dan Tadu Raya karena lokasi sekolah terendam. “Lokasi UN dipindah ke lokasi aman untuk maksimalnya pelaksanaan ujian,” kata Kabag Humas Setdakab Nagan Raya, Asda Kesuma.

Sekolah yang dipindahkan lokasi ujian meliputi SD Lueng Keubeu Jagat, Kecamatan Tripa Makmur ke SMPN Tripa Makmur, SDN Alue Bata dipindahkan ke SMP 7 Alue Bata, dan SD Kuala Tuha dipindahkan ke lantai II sekolah yang sama.

Kadis Sosial Aceh melalui Kabid Banjamsos, Burhanuddin Usman kepada Serambi menginformasikan, pada Senin sore, 6 Mei 2013 pihaknya memobilisasi bantuan ke zona bencana banjir di Kabupaten Nagan Raya, Abdya, dan Pidie Jaya.

Bantuan masa panik yang disalurkan meliputi mi instan 250 duz, beras 2.000 kg, minyak goreng 200 kg, sarden 50 duz, kid ware 50 paket, food ware 50 paket, family kit 50 paket, baju kaos 200 lembar, daster 200 lembar, dan kecap 25 duz.(yus/c38/az/nun/edi/nas)

BMKG: Gelombang dan Curah Hujan Tinggi
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh memprakirakan dalam seminggu ke depan potensi gelombang laut di Aceh tinggi, mencapai 2,5 sampai 5 meter. Seiring dengan memanasnya suhu muka laut, maka dalam periode yang sama banyak terbentuk uap air, sehingga sebagian Aceh pun terpengaruh untuk hujan dengan curah sedang hingga tinggi.

Prakiraan itu diutarakan Koordinator Analisis BKMG Aceh, Khairul Akbar menjawab Serambi per telepon, Senin (6/5), menanggapi kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir, ditandai dengan meningkatnya curah hujan, sehingga banyak daerah di Aceh yang dilanda banjir.

Khairul menambahkan, suhu permukaan laut di Aceh dalam sepekan ke depan berkisar antara 30-31 derajat Celsius. Ini menyebabkan banyak terbentuk uap-uap air, sehingga Aceh berpeluang diguyur hujan lagi.

Selain itu, ia ingatkan warga Aceh perlu mewaspadai cuaca periode Mei-September karena pada kisaran bulan tersebut bersamaan dengan terjadinya musim hujan di India.

Menurut Khairul, Indonesia umumnya dipengaruhi oleh monsun Asia dan Australia. Monsun adalah iklim yang ditandai oleh pergantian arah angin dan musim hujan atau kemarau dengan masa selang lebih kurang enam bulan, mengikuti posisi matahari pada bulan Juni dan Desember, terdapat di daerah tropis dan subtropis yang diapit oleh benua dan samudra.

Saat berlangsung monsun Asia, angin datang bersamaan dengan musim dingin di Asia sehingga musim hujan terjadi di Indonesia. Pada musim kemarau, angin dari Australia dipengaruhi adanya tekanan tinggi dari Australia dan tekanan rendah dari Asia, sehingga uap air yang terbentuk banyak.

Selain dipengaruhi dua monsun tersebut, Aceh juga dipengaruhi monsun barat daya di Asia Selatan yang berpengaruh pada suhu permukaan laut panas. Ini karena, Aceh terletak di ujung barat-utara yang berhadapan langsung dengan Lautan India dan bertetangga dengan sistem cuaca Teluk Benggala dan Bangladesh.

Musim kemarau di Aceh tidak sama dengan tempat lain, karena ada satu monsun yang tidak sama dengan wilayah lain, yaitu adanya monsun barat daya di India karena pada saat itu banyak pembentukan tekanan-tekanan rendah di Teluk Benggala dan Bangladesh. “Tekanan rendah yang terjadi di Samudera Hindia dan barat Sumatera berakibat banyaknya penumpukan awan, dan karena angin mengarah ke Aceh sehingga terjadi hujan,” tambah Khairul.

Sementara itu, Khairul memprediksi, selama dua hari ke depan (7-8 Mei), tinggi gelombang di perairan Aceh maksimal 2,5 meter. Tapi, lima hari berikutnya (9-13 Mei) berpotensi terjadi gelombang setinggi 5 meter.

Fenomena alam itu, antara lain, disebabkan atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan cukup kuat dan suhu permukaan laut yang panas. Ditanya tentang peluang guntur dan petir, menurut Khairul, frekuensi paling besar terjadinya pada musim hujan atau pada masa transisi (peralihan musim). Tapi karena di Aceh sekarang sedang musim kemarau, maka frekuensi petir dan guntur tidak seperti pada musim hujan atau transisi. (hs)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved