Culik Pekerja Asing
Elemen Sipil Kutuk Penculikan Warga Asing
Sejumlah elemen sipil dari beberapa lembaga mengutuk keras aksi penculikan warga asing yang bekerja di subkontrak PT Medco E&P
Koordinator GeMPAR, Auzir Fahlevi SH kepada Serambi, Rabu (12/6), mengatakan, penculikan itu semakin menunjukkan bahwa walaupun Aceh sudah dikatakan damai, tapi seakan-akan damai di Aceh saat ini seperti damai pura-pura Soalnya, aksi kekerasan, penculikan, teror, dan intimidasi masih saja terjadi.
Dalam amatan Auzir, Aceh Timur saat ini sedang menjadi pusat perhatian investor asing. Namun, kasus penculikan pekerja asing di PT Medco tersebut menyiratkan bahwa iklim investasi di Aceh Timur tidak kondusif. “Aksi-aksi liar seperti itu jelas merugikan nama baik daerah dan masyarakat Aceh Timur dan Aceh secara keseluruhan,” kata Auzir.
Ia berharap, Pemkab Aceh Timur beserta aparat keamanan perlu secepatnya membangun komunikasi intensif dengan berbagai pihak, sehingga Malcom Primsore bisa secepatnya dibebaskan.
Sekretaris LSM Tim Operasional Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia (Topan-RI), Aceh Timur, Edi Safaruddin juga mengutuk penculikan warga asing itu, karena akan sangat mengganggu suasana damai Aceh yang sedang dinikmati bersama.
Menurutnya, dalam tahun ini sudah terjadi tiga kali penculikan di Aceh Timur, yakni penculikan anggota TNI AL di Sungai Raya dan penculikan warga Malaysia yang sampai sekarang korbannya belum ditemukan.
Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM) yang diketuai Nasruddin berpendapat sudah sepatutnya masyarakat Aceh Timur ikut membantu aparat penegak hukum memberantas kelompok penculik dengan memberikan informasi kepada aparat penegak hukum tentang tempat persembunyian mereka. “Kita tidak mau perdamaian yang sedang kita rasakan ini diusik oleh kelompok tertentu untuk tujuan mencari keuntungan pribadi,” pungkas Nasruddin. (yuh/na)