Cerpen
Meugang Kelabu
Mak Beuransah diam. Tanpa terasa bulir-bulir embun di matanya menetes. Bidah, bungsunya telah menghujam kenangan
“Bagaimana mungkin dengan kerja serabutan kamu bisa beli benda ini buat mak. Uang kuliah saja kamu sering minta pada mak. Kamu tidak menipu Mak, kan?”
“Tidak, Mak. Saya membelinya dengan uang yang halal. Tak usah berpikir yang bukan-bukan. Udahlah. Saya istirahat dulu.”ujar Fazil.
Mak Beuransah menghela nafas panjang. Ucapan Fazil benar juga. Berprasangka buruk justru membuat jiwa menjadi tidak tentram. Lebih baik menyiapkan makan siang dan penganan istimewa buat Fazil, batinnya.
***
Baru saja Mak Beuransah selesai mengambil wudhu untuk menunaikan salat Zuhur, terdengar pintu depan diketuk. Ketika ia membuka, dua orang berjaket hitam menyalami Mak Beuransah. Mereka mengaku sebagai petugas kepolisian. Mak Beuransah terperanjat.
“Betul ini Ibu Fazil!”ujar seorang petugas.
“Ya!.. Saya ibunya… Ada apa ..dengan anak saya?”ujar Mak Beuransah dengan terbata-bata.
“Anak Ibu telah melakukan kesalahan. Ia dengan komplotannya telah mencuri seekor sapi. Izinkan kami menangkapnya!”
Tanpa pikir panjang seorang petugas mendorong Mak Beuransah. Rupanya ia menangkap sekelebat bayangan yang berusaha melompat melalui jendela kamar. Petugas tadi cepat-cepat masuk ke kamar dan menodongkan pistol. Akhirnya Fazil dapat diringkus.
“Kenapa kau lakukan perbuatan ini, Nak?”ujar Mak Beuransah seraya memukul punggung Fazil. Pemuda itu bungkam. Mak Beuransah menangis meraung-raung tatkala melihat bayangan anaknya lenyap dibalik mobil polisi. Kepergiannya diiringi dengan tatapan benci warga. Kepergiannya juga menyimpan masalah yang belum terjawab untuk Mak Beuransah.
* Hendra Kasmi, mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah