Istana 44 Jenderal, Simbol Cinta Soekarno
PENGANTAR: Sebanyak 60 wartawan dari 34 provinsi se-Indonesia diundang ikut Kegiatan Peningkatan Kompetensi Kebudayaan bagi Wartawan Ke-2
Pada masa pemerintahan Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856), bangunan lama yang terkena gempa dirobohkan dan dibangun baru bergaya arsitektur Eropa Abad IX. Pembangunan kembali Istana Bogor selesai pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Charles Ferdinan Fahud de Montager (1856-1861).
Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachouwer (1936-1942) merupakan penghuni terakhir Istana Bogor. Ia akhirnya terpaksa harus menyerahkan Istana Bogor kepada Jenderal Imamura, sebagai pemerintah pendudukan Jepang.
“Pada tahun itu Istana Bogor mengalami catatan kelam. Pemerintah Jepang menjadikan Istana Bogor markas pertahanan. Semua barang-barang dalam istana dikosongkan dan hanya sebagian kecil yang tersisa. Jepang juga menutup kolam di depan istana dengan semak-semak untuk menghindari pantulan cahaya, agar tak terdeteksi musuh,” tutur Endang. Istana Bogor diambilalih pemerintah RI pada 1949 dan berfungsi sebagai Istana Kepresidenan.(bersambung)