Breaking News:

KAI

Pengertian dan Syarat Beramal dengan Maslahat

Akhir-akhir ini, banyak kita lihat, maslahat atau kemaslahatan sering digunakan sebagai dalil hukum syariat, tanpa memperhatikan

Editor: bakri

Diasuh oleh Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA.

Pertanyaan:
Yth. Ustadz Pengasuh ruangan KAI “Serambi Indonesia”
Assalamualaikum wr wb.

Akhir-akhir ini, banyak kita lihat, maslahat atau kemaslahatan sering digunakan sebagai dalil hukum syariat, tanpa memperhatikan dalil syara’ yang lain. Malah pernah terdengar, kalaulah kemaslahatan umum bertentangan dengan ayat-ayat yang qath’ie dalaah, kita wajib beramal dengan maslahat tersebut.

Oleh karena itu, bersama surat ini saya ingin mengetahui tentang pengertian maslahat yang sebenarnya serta kriteria atau ketentuan-ketentuan dalam penggunaannya. Demikian, atas kesediaannya memberikan jawaban, saya mengucapkan banyak terima kasih.

Mukhtar Hasbi
Mahasiswa satu PTN di Aceh

Jawaban:
Saudara Mukhtar Hasbi, yth.
Waalaikumussalam wr wb.

Benar sekali, banyak kita dengan akhir-akhir ini ada orang yang ber-istidlal dengan maslahat. Maslahat yang digunakan terkadang yang ghairu muktabarah, alias yang dilarang syara’, seperti menabung zakat shinif fakir miskin dan yang dibagikan-bagikan hanyalah bunganya saja.

Itu adalah salah satu dari jutaan contoh maslahat yang sering digunakan sebagai dalil untuk menetapkan hukum tanpa mengindahkan batasan-batasan dan kaedah-kaedah yang baku (bi ghairi hududin wa laa dlawabith).

Pemahaman dan penggunaan mashlahat yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah hukum Islam tersebut, telah mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam menetapkan hukum Islam sehingga menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.  

Untuk itu kita merasa amat perlu memelihara dan mendudukkan hukum Islam secara proporsional. Sampai-sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI) memandang perlu menetapkan fatwa tentang kriteria maslahat untuk dijadikan pedoman agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.   

Untuk memahami maslahat secara benar, marilah kita merujuk terlebih dulu kepada beberapa firman Allah Swt: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya: 107).

“Dan Kami turunkan (Alquran itu dengan sebenar-benarnya dan Alquran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. al-Isra’: 105).

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan  membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.” (QS. Fathir: 24).

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu.” (QS. al-Maidah: 6).

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan suatu kesempitan untuk kamu dalam agama.” (QS. al-Hajj: 78).

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...” (QS. al-Baqarah: 185)

“Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Naml: 77).

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. al-Mu’minun: 71).

Mari kita perhatikan juga beberapa sabda Rasulullah SAW, antara lain: “Kalian diutus untuk memberikan kemudahan, dan bukan untuk memberikan kesulitan.” (HR. Bukhari).

“Tidak boleh menimbulkan mudarat bagi diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Imam Ibnu Majah, al-Daraquthni, dan yang lain, dari Abu Sa’id al-Khudri).

Lalu mari kita perhatikan pula pendapat para fuqaha tentang maslahat, antara lain: Pendapat al-Khawarizmi sebagaimana dikutip oleh al-Syaukani dalam kitab Irsyad al-Fuhul, h. 242: “Mashlahat adalah memelihara tujuan hukum Islam dengan menolak/menghindarkan bencana (kerusakan, hal-hal yang merugikan) dari makhluk (manusia).”

Pendapat Hujatul-Islam Imam al-Ghazali dalam al-Mustashfa, juz 1, h. 286-287): “Maslahat menurut makna asalnya berarti menarik manfaat atau menolak mudharat (hal-hal yang merugikan). Akan tetapi, bukan itu yang kami maksud, sebab meraih manfaat dan menghindarkan mudharat adalah tujuan makhluk (manusia). Kemaslahatan makhluk terletak pada tercapainya tujuan mereka. Yang kami maksud dengan maslahat adalah memelihara tujuan syara’ (hukum Islam). Tujuan hukum Islam yang ingin dicapai dari makhluk ada lima; yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta mereka. Setiap hukum yang mengandung tujuan memelihara kelima hal ini disebut maslahat; dan setiap hal yang meniadakannya disebut mafsadat dan menolaknya disebut maslahat.”

Pendapat Asy-Syathibi (al-Muwafaqat, juz 2, h. 39-40): “Setiap dasar agama (kemaslahatan) yang tidak ditunjuk oleh nash tertentu dan ia sejalan dengan tindakan syara’ serta maknanya diambil dari dalil-dalil syara’, maka hal itu benar, dapat dijadikan landasan hukum dan dijadikan rujukan. Demikian itu apabila kemashlahatan tersebut --berdasarkan kumpulan beberapa dalil-- dapat dipastikan kebenarannya. Sebab dalil-dalil itu tidak mesti menunjukkan kepastian hukum secara berdiri sendiri tanpa digabungkan dengan dalil yang lain, sebagaimana penjelasan terdahulu. Hal tersebut karena yang demikian itu tampaknya sulit terjadi.”

Dari uraian di atas, kiranya kita sudah dapat menyimpulkan bahwa maslahat/kemaslahatan menurut hukum Islam adalah tercapainya tujuan syariah (maqashid al-syari’ah) yang diwujudkan dalam bentuk terpeliharanya lima kebutuhan primer (al-dharuriyyat al-khams), yaitu agama, akal, jiwa, harta, dan keturunan.

Maslahat yang dibenarkan oleh syariah adalah maslahat yang tidak bertentangan dengan nash. Oleh karena itu, maslahat tidak boleh bertentangan dengan nash, karena --sesungguhnya-- sebagaimana disebut dalam ayat dan hadis-hadis tersebut di atas, agama itu sendiri sudah maslahat. Semuanya maslahat. Jangan mencari-cari yang yang ujung-ujungnya nanti akan meninggalkan agama. A’uzubillah...

Yang berhak menentukan maslahat-tidaknya sesuatu menurut syara’ adalah lembaga yang mempunyai kompetensi di bidang syariah dan dilakukan melalui ijtihad jama’i. Bukan oleh pribadi-pribadi seenaknya doang. Demikian, wallahu a’lamu bish-shawaab.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved