Gempa Aceh
Ratusan Anak Korban Gempa Belajar di Tenda
Proses belajar-mengajar (PBM) di lima sekolah dalam Kecamatan Tangse, Pidie, yang jumlah muridnya mencapai 597 orang, berlangsung
* Korban Capai 2.613 Orang
* Tanggap Darurat hingga 3 November
SIGLI - Proses belajar-mengajar (PBM) di lima sekolah dalam Kecamatan Tangse, Pidie, yang jumlah muridnya mencapai 597 orang, berlangsung di bawah tenda, Kamis (24/10), karena gedung sekolah mereka rusak diguncang gempa 5,6 SR pada Selasa (22/10) siang.
Lima sekolah yang muridnya belajar di tenda itu adalah SDN Neubok Badeuk 1 (160 orang), SDN Neubok Badeuk 2 (101 orang), dan SDN 3 Keude Tangse (183 orang), MIN Pulo Kawa (101 orang), dan TK Harapan Ibu Pulo Kawa (52 orang).
“Sekolah-sekolah tersebut tergolong rusak berat akibat gempa,” kata Kepala Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Pendidikan Wilayah IX Tangse, Saibullah SPd, kepada Serambi, Kamis (24/10).
Diakuinya, sehari sebelumnya PBM di SDN Neubok Badeuk terhenti karena murid takut ke sekolah di bawah bayang-bayang gempa susulan. Namun, Kamis (24/10) kemarin PBM di sekolah itu sudah berlangsung kembali. “Cuma anak-anak belajarnya di bawah tenda darurat,” ujar Saibullah.
Murid di tiga sekolah yang kini belajar di tenda itu diperkirakan mencapai 300 orang. Cuma tingkat kehadiran murid kemarin belum maksimal. Ia berharap anak-anak segera aktif sekolah kembali.
UPTD Pendidikan Wilayah IX Tangse yang bernaung di bawah Dinas Pendidikan Pidie mendata ada 19 SD yang dirusak gempa kali ini. Secara terpisah, Kepala SDN Neubok Badeuk 2, Abdul Muthaleb SPd yang ditanyai Serambi menyatakan, hingga pukul 11.00 WIB kemarin, aktivitas belajar-mengajar di sekolah itu sudah normal. “Cuma dari 101 murid, yang hadir cuma setengahnya,” ujar Abdul Muthaleb.
Pihak relawan dibantu masyarakat setempat sudah mendirikan tenda di halaman sekolah. “Tenda sudah dipasang, insya Allah anak-anak tidak libur lagi,” sebutnya.
Menurutnya, kehadiran guru juga sudah normal seperti biasa. Semua PBM dilaksanakan di halaman sekolah. Cuma anak-anak masih dirundung trauma psikis, karena khawatir terjadi gempa susulan. “Gempa sesekali dalam skala kecil memang masih terjadi pada saat anak-anak belajar,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie menyebutkan, hingga Kamis (24/10) jumlah korban gempa di Tangse mencapai 2.199 jiwa (547 kepala keluarga). Sementara jumlah rumah rusak mencapai 547 unit di 16 desa.
“Tiga puluh persen dari korban akan tinggal di tenda karena rumah mereka rusak berat. Mereka tak berani tinggal di rumah lantaran gempa berskala kecil masih terus terjadi,” ujar Kepala BPBD Pidie, Apriadi.
Total kerugian, menurutnya, belum diketahui pasti, karena masih ditaksir satu demi satu, sesuai tingkat kerusakan bangunan dan lainnya. Sejauh ini BPBD Pidie sudah mengusulkan 150 unit tenda keluarga dan 10 tenda pleton. “Tenda keluarga dipasang di dekat rumah yang rusak berat. Tenda peleton untuk aktivitas anak-anak sekolah,” tukas Apriadi.
Di sisi lain, ia informasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta sudah membantu kegiatan tanggap darurat berupa uang Rp 200 juta. Bantuan itu diserahkan Direktur Kedaruratan BNPB Pusat, Junjungan Tambunan yang diterima Bupati Pidie, Sarjani Abdullah di Pendapa Bupati Pidie, Rabu (23/10) malam.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Jarwansyah, mengatakan, berdasarkan hasil rapat di Pendapa Bupati Pidie, Rabu (23/10), telah ditetapkan bahwa gempa Tangse berstatus bencana kabupaten. Penetapan itu berdasarkan jumlah korban, jumlah kerusakan, dan jumlah kerugian sebagai dampak gempa berkekuatan 5,6 SR yang terjadi Selasa (22/10) pukul 12.40 WIB itu.
“Eskalasi gempa di Tangse tidak sama dengan gempa di Gayo. Kalau di sana warga yang meninggal dunia mencapai puluhan, sehingga status gempanya digolongkan bencana nasional,” ujarnya.