Pilkada Subulussalam
Namo Buaya Penentu Pemimpin Subulussalam
PUTUSAN Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan sebagian permohonan pasangan calon nomor urut 1
PUTUSAN Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan sebagian permohonan pasangan calon nomor urut 1, Affan Alfian/Pianti Mala (AMAL) dan pasangan nomor urut (4) H.Asmauddin/Salihin A. Pthn (ASLI), membuat Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam menjadi rebutan.
Perintah MK kepada KIP untuk melaksanakan pemungutan suara ulang pada dua TPS di Desa Namo Buaya, membuat desa yang memiliki 632 pemilih -- seperti tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT)-- ini, mendadak jadi primadona dan buah bibir masyarakat Kota Sada. Desa ini akan menjadi penentu bagi, setidaknya, tiga pasangan calon yang hingga kini masih bersaing untuk menjadi pemimpin Subulussalam periode 2014-2019 mendatang.
Beberapa sumber Serambi menuturkan, pasca putusan MK Senin (26/12) lalu, desa yang berada persis di perbatasan Kecamatan Simpang Kiri dengan Sultan Daulat ini, mulai ramai dengan aktivitas politik. Para pendukung masing-masing pasangan, mulai bergerilya menebar pesona dengan berbagai cara, di desa yang berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat kota. “Sejak putusan MK banyak yang datang ke desa ini,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Uniknya, kebanyakan tim sukses yang datang ke Namo Buaya merupakan kaum hawa. Mereka melakukan pendekatan kepada ibu-ibu di desa. Ada pula sejumlah pria yang datang dan duduk berbincang-bincang dengan warga di warung-warung kopi. “Saya lihat yang datang kali ini kebanyakan ibu-ibu, saya tidak terlalu tau sih, tapi mereka mulai berdatangan sejak putusan MK,” kata warga itu.
Kepala Desa Namo Buaya, Dewano yang ditemui Serambi mengakui putusan MK yang memerintahkan pemungutan ulang, membuat desa yang dia pimpin ramai pengunjung. Namun, kata Dewano, hingga kini desa berpenduduk sekitar 1.300-an jiwa ini masih kondusif. Dewano pun berharap agar tidak ada kekacauan pasca pemungutan suara ulang di desanya. “Memang terkenal sih, tapi terkenalnya karena masalah pilkada ini, mudah-mudahan tidak ada masalah lagi lah nanti,” harap Dewano.
Pantauan Serambi dalam dua hari terakhir, isu pilkada kembali menjadi topik paling hangat di warung-warung kopi dan tempat berkumpulnya warga. Para pengamat politik yang semula mulai tiarap pascapencoblosan 29 Oktober silam kembali bermunculan. Meerka memperbincangkan sosok yang mereka perkirakan akan mengungguli pemungutan suara ulang mendatang.
Salah satu topiknya adalah membasah tentang Desa Namo Buaya, serta hitung-hitungan dan prediksi hasil pemungutan ulang di Namo Buaya, dan penghitungan ulang pada enam TPS lainnya. Namun mayoritas warga berharap, apapun hasilnya, Pilkada Subulussalam harus berakhir secara damai, sehingga tidak mengganggu kehidupan rakyat, yang menjadi alasan utama dari pelaksanaan pilkada ini.(khalidin)