Opini

Kasihan Aceh

AKSI rusuh di Kantor Gubernur Aceh di pengujung 2013 lalu, masih saja terngiang miris di benak sebagian masyarakat kita

Editor: hasyim

Ketika sudah muncul turbulensi maka akan banyak hal-hal yang muncul tanpa prediksi sebelumnya, misalnya kerusuhan tiba-tiba terjadi di sebuah kota yang selama ini penduduknya dianggap lemah lembut seperti di Kalimantan pada konflik Dayak-Madura. Di Maluku, genosida terjadi di satu wilayah yang selama ini terkenal religius. Pembantaian manusia tiba-tiba terjadi di sebuah daerah yang selama ini terkenal dengan kerukunan umatnya (forumkeadilan.com).

Hesoid, seorang Yunani yang hidup pada abad ke 8 SM. Dalam sebuah puisinya yang berjudul Theogony, ia menulis: “Awal dari segalanya adalah chaos, baru sesudahnya segalanya menjadi stabil”. Dengan demikian orang Yunani percaya bahwa dari ketidakteraturan akan muncul keteraturan (Sardar dan Iwona, 2004:4). Kahlil Gibran dalam sajak yang sama menggambarkan: “Kasihan bangsa, yang orang sucinya dungu, menghitung tahun-tahun berlalu dan orang-orang kuatnya masih dalam gendongan”.

Itu berarti, pada saat pemerintah dan elite politik tak lagi jadi tumpuan, masyarakat membutuhkan kehadiran cendikiawan dan ulama yang berani mengambil sikap, menjadi teladan dalam menentukan arah Aceh ke depan dan menyelamatkannya dari kehancuran peradaban. Semoga!

Helmy N. Hakim, Pemerhati sosial politik Aceh. Email: hsamahani@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved