KUPI BEUNGOH
Harga Emas Meroket: Alarm Krisis?
Ayat ini tidak mengagungkan emas, melainkan menjelaskan kecenderungan manusia mencari pegangan ketika masa depan terasa rapuh.
Oleh: Dr. Muhammad Nasir*)
Ketika Dunia Terlihat Baik-Baik Saja, Emas Justru Berteriak
Dunia seolah diyakinkan bahwa segalanya berada dalam kendali.
Bank-bank sentral berbicara optimisme, inflasi diklaim mulai jinak, dan pertumbuhan ekonomi dipresentasikan seakan bergerak di jalur pemulihan yang aman. Narasi itu terdengar rapi dan menenangkan.
Namun, pada saat yang sama, emas justru bergerak berlawanan arah, seolah berteriak menantang seluruh klaim ketenteraman tersebut.
Per Januari 2026, harga emas dunia menembus USD 2.500 per troy ounce, tertinggi sepanjang sejarah.
Di Indonesia, harga emas batangan Antam melampaui Rp1.250.000 per gram. Ini bukan lonjakan biasa dan bukan pula gejolak sesaat pasar komoditas.
Kenaikan ini terjadi justru ketika dunia tampak stabil, risiko disebut menurun, dan publik diminta percaya bahwa badai telah berlalu.
Baca juga: Tak Terbendung! Harga Emas di Banda Aceh Melonjak ke Rp 8,96 Juta per Mayam, Edisi 26 Januari 2026
Di titik inilah emas memainkan perannya yang paling klasik sekaligus paling jujur. Ia tidak membaca pidato bank sentral, tidak terbuai optimisme statistik, dan tidak tunduk pada narasi resmi.
Emas merespons ketakutan yang belum diucapkan, kecemasan yang belum diakui, serta risiko yang belum sepenuhnya diartikulasikan.
Ia menjadi indikator psikologis pasar global yang sering kali lebih jujur daripada laporan ekonomi mana pun.
Pertanyaannya pun tak terelakkan. Apakah lonjakan harga emas ini sekadar refleksi permintaan investasi, atau justru alarm dini atas krisis yang belum diumumkan, tetapi mulai dirasakan oleh para pelaku pasar dunia?
Emas dan Naluri Manusia Mencari Pegangan
Sejak ribuan tahun lalu, emas hadir sebagai simbol rasa aman. Al-Qur’an mengungkap naluri ini secara jujur:
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu harta yang banyak dari emas dan perak…” (QS. Ali Imran: 14).
Ayat ini tidak mengagungkan emas, melainkan menjelaskan kecenderungan manusia mencari pegangan ketika masa depan terasa rapuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Muhammad-Nasir-dosen-politeknik-lhokseumawe.jpg)