Citizen Reporter

Kereta Api Aceh Tetap Merayap

Pihak PT Kereta Api Indonesia seperti memegang serius komitmen untuk menghidupkan kembali moda transportasi kereta api di Aceh.

Editor: snajli
Kereta Api Aceh Tetap Merayap - 20140203_keretaapi.jpg
FOTO IRFAN M NUR
Calon penumpang di stasiun KA Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Kamis(30/01/2014).
Kereta Api Aceh Tetap Merayap - 20140203_keretaapi_1.jpg
Penulis bersama keluarga di dalam gerbong kereta api Aceh, di Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Kamis (30/01/2014).

Laporan Jurnalis Warga | Irfan M Nur

Pihak PT Kereta Api Indonesia seperti memegang serius komitmen untuk menghidupkan kembali moda transportasi kereta api di Aceh. Meski menghadapi banyak tantangan, kereta api jenis komuter ini tetap setia merayapi jalur Krueng Mane-Krueng Geukueh yang hanya berjarak 11,3 kilometer.

Hal ini saya rasakan sendiri saat mencoba merasakan pengalaman naik kereta api Aceh bersama keluarga pada Kamis (30/01/2014) lalu. Saat itu, jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. "Setengah jam lagi kereta tiba dari Krueng Mane," kata seorang petugas di Stasiun Krueng Geukueh menjawab pertanyaan saya.

Benar saja, tepat pukul 16.00 WIB, kereta berwarna biru itu mulai terlihat dari kejauhan. Seorang petugas cepat-cepat meraih topi masinis kereta. "Priiiip," peluit di mulutnya melengking sembari memberi isyarat dengan tangan agar kereta berhenti.

Kereta pun berhenti sesuai aba-aba. Tapi hanya ada lima orang yang turun. Saya sendiri tidak bisa memastikan, apakah kelima orang itu penumpang atau petugas yang mengawasi perjalanan kereta api.

Sejurus kemudian terdengar pengumuman dari pengeras suara, memberitahukan kepada calon penumpang untuk membeli tiket pada loket yang telah ditentukan. Diberitahukan bahwa kereta akan kembali menempuh perjalanan ke Krueng Mane dalam waktu 15 menit ke depan.

Selain rombongan kami yang berjumlah delapan orang, kira-kira hanya ada 4 orang lainnya yang membeli tiket. Setiap orang dikenakan tiket sebesar Rp 1000. "Beli saja 10 lembar, dua lembarnya kita simpan untuk kenang-kenangan," kata kakak ipar saya, Juliani.

"Nanti akan menjadi sejarah, jika kereta ini betul-betul menjadi kenyataan menghubungkan seluruh Aceh. Akan menjadi sejarah juga jika nasib kereta ini berakhir hanya di rute Krueng Geukueh-Krueng Mane," tambahnya seakan menepis rasa heran saya dengan anjurannya.

Jadilah, sore itu kami menempuh perjalanan perdana kami dengan kereta api Aceh. Anak saya dan anak-anak abang saya terlihat cukup senang. Mereka berlari-lari dalam gerbong kereta berkapasitas 2000 penumpang, yang saat itu nyaris kosong melompong. Apalagi, kereta juga hanya merayap pada kecepatan 20 kilometer per jam.

Dalam hitungan menit, kami tiba di stasiun Bungkah. Dari dalam kereta saya melihat Stasiun Bungkah lebih bagus daripada stasiun Krueng Geukueh. Setelah lima menit, kereta pun kembali melanjutkan perjalanan. Ada satu penumpang yang naik di Bungkah.

Pemandangan dari Bungkah ke Krueng Mane terasa menyenangkan, karena jalur kereta berada dekat dengan pantai, sehingga saya bisa menikmati pemandangan yang berganti-ganti, antara sawah di sebelah kiri dan laut di sebelah kanan.

Hampir sepanjang perjalanan kami kereta tidak henti-hentinya membunyikan klakson. Pasalnya, selain banyak ternak berkeliaran di hampir sepanjang jalur, beberapa kali terlihat warga yang melintasi rel. Beberapa kali juga petugas di dalam kereta terlihat memotret rel yang nyaris tertimbun tanah, karena dilewati kendaraan warga.

Akhirnya setelah setengah jam berada di dalam kereta, kami pun tiba di Stasiun Krueng Mane. Stasiun ini terlihat cukup rapi dan bersih. Menurut saya, inilah stasiun terbaik di antara tiga stasiun yang sudah selesai dibangun. Fasilitasnya lengkap dengan rumah pegawai Kereta Api dan lokasi parkir untuk kendaraan antar jemput penumpang.

Raza, staf Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) yang kebetulan kena giliran tugas di Stasiun Krueng Mane mengaku cukup optimis dengan nasib kereta api Aceh ini. "Informasinya mulai bulan depan jalur kereta akan ditambah hingga menjangkau Bireuen dan Lhokseumawe. Pada tahun 2015 sudah sampai ke Banda Aceh,"kata pria yang mengaku pegawai PT Kereta Api wilayah Sumut ini.
Saya hanya mengangguk-angguk mendengar optimisme Raza. Meski merasa pesimis, tapi saya juga berharap kereta ini akan benar-benar mencapai Banda Aceh. Tapi larinya tentu musti dengan kecepatan tinggi, bukan 20 kilometer per jam.

Pada dinding loket penjualan tiket di Stasiun Krueng Mane saya melihat "Jadwal Perjalanan KA Perintis Aceh". Di situ tertulis keberangkatan KA dari Krueng Mane-Krueng Geukueh berlangsung dua kali satu hari, yakni pukul 07.00 WIB dan pukul 17.00 WIB. Serta satu kali untuk Bungkah yakni pada pukul 09.00 WIB.(*)

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved