Rabu, 20 Mei 2026

Citizen Reporter

Padi Air Asin dan Masa Depan Ketahanan Pangan Indonesia

Kolaborasi ini mencapai tonggak penting pada kunjungan USK ke Guangdong Ocean University (GDOU) pada 20–23 November 2025.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
Serambinews.com/HO
Kunjungan tiga Guru Besar USK ke Guangdong Ocean University (GDOU), China pada 20–23 November 2025. 

Laporan Prof Muhammad Irham dan Prof Sabaruddin Zakaria dari China

KEBERHASILAN ilmuwan Tiongkok mengembangkan varietas padi toleran salinitas, yang populer disebut sebagai padi air asin, telah mengubah lanskap global riset pangan.

Di berbagai wilayah pesisir dan lahan salin Tiongkok, varietas ini mampu menghasilkan 4,6 hingga 9 ton per hektare.

Angka tersebut tidak hanya menantang pandangan lama bahwa tanah intrusi air laut adalah tanah mati, tetapi juga membuka peluang bagi negara-negara yang lahan pesisirnya terus terancam kenaikan muka laut.

Indonesia, negara kepulauan dengan lgaris pantai sepanjang lebih dari 108.000 kilometer, menghadapi ancaman yang tidak kecil.

Laporan BRIN menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 3,2 juta hektare lahan salin, dan angka ini diperkirakan meningkat akibat perubahan iklim dan degradasi pesisir. Dalam kondisi ini, inovasi padi air asin bukan lagi opsi, melainkan urgensi.

Universitas Syiah Kuala (USK) adalah salah satu institusi di Indonesia yang merespons tantangan tersebut dengan langkah konkret.

Pengembangan riset padi air asin di USK memiliki tiga figur penggerak utama.

Prof Sabaruddin menjadi motor ilmiah yang mendorong inisiatif ini melalui kompetensinya di bidang pemuliaan tanaman dan agronomi adaptif.

Rektor USK, Prof. Marwan, memberikan dukungan kelembagaan yang kuat, memastikan agenda ini naik ke tingkat strategis universitas.

Sedangkan Prof Irham dari Fakultas Kelautan dan Perikanan berperan sebagai jembatan akademik yang menghubungkan USK dengan pusat-pusat riset internasional di Tiongkok.

Kolaborasi ini mencapai tonggak penting pada kunjungan USK ke Guangdong Ocean University (GDOU) pada 20–23 November 2025.

Dalam pertemuan tersebut, kedua institusi secara resmi menyepakati dimulainya penelitian bersama tentang padi toleran air asin, berfokus pada pemuliaan varietas yang sesuai dengan kondisi pesisir Aceh dan Indonesia umumnya.

Kesepakatan itu lebih dari sekadar nota diplomatis namun ia dilengkapi dengan komitmen nyata yaitu GDOU menyediakan pembiayaan penuh bagi satu calon mahasiswa PhD dan dua calon mahasiswa master dari USK untuk intake September 2026, khusus dalam bidang pertanian pesisir dan pemuliaan tanaman padi yang tahan terhadap salinitas tinggi.

Skema beasiswa penuh ini menjadi bagian langsung dari implementasi kerjasama akademik jangka panjang USK–GDOU.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved