Selasa, 26 Mei 2026

Cerpen

Perihal Cantik

KETIKA aku beranjak tidur dan istriku masih saja menatap kaca solek, tiba-tiba ia bertanya, “Menurutmu, apa aku

Tayang:
Editor: bakri

***

“Apakah aku cantik?” suatu hari istriku mengejutkanku lagi.

Sebulan setelah mertuaku meninggal, istriku dan saudaranya sangat berhasrat dengan harta warisan ayah mereka. Sebagai suami, tentunya aku harus mendampingi istriku saat perundingan pembagian harta warisan dilakukan. Mereka mengadakan rapat keluarga ditemani pengacara keluarga. Lima bersaudara - lima perempuan -  itu menjadi yatim piatu setelah kematian mertuaku.  Adapun istriku anak keempat. Dalam rapat keluarga, istriku tampaknya yang paling serakah di antara kakak dan adiknya. Hasratnya yang begitu menggebu terhadap harta itu dibayang-bayangi oleh kakak pertamanya yang segera merasa didaulat sebagai pemimpin keluarga. 

Aku jelas terkejut melihat sikap istriku. Sangat tak mengenakkan melihat wajahnya yang diliputi kekesalan, kemarahan, dan sinis terhadap saudara kandungnya. Berbeda sekali ketika ia duduk di samping jasad ayahnya pada saat melantunkan doa-doa. Dalam keadaan begini, bukankah sudah kukatakan pada engkau bahwa dia benar-benar terlihat jelek? Kali ini ia menambah hina dirinya karena dibutakan oleh harta.

Setelah berdebat semalaman, rapat akhirnya selesai. Aku menemuinya. “Apa sudah kau dapatkan apa yang kauinginkan?” tanyaku. “Aku tak suka dengan sikapmu ketika rapat tadi.”

“Tenang, Sayang,” katanya. “Kau tak mengetahui siasatku. Aku bersikeras seperti itu karena kakak pertamaku memiliki sifat buruk. Dia sangat suka menghamburkan uang di tempat-tempat hiburan. Aku tak ingin harta peninggalan ayah digunakan untuk hal yang hina seperti itu,” jawab istriku berlinang airmata.

“Maafkan aku!”

“Aku ingin harta itu disumbangkan untuk sebuah panti asuhan,” sambungnya sedih.

Hatiku tersentuh oleh niat istriku yang ternyata tulus dan tidak serakah sebagaiman dugaanku. Aku berusaha menenangkan dirinya. Dia  akhirnya tersenyum. Senyum yang memancarkan keanggunan. Istriku kembali terlihat cantik. Cintaku kepadanya semakin bertambah.

Setelah dia tenang dan aku berjanji untuk terus mencintainya tiba-tiba sifat tidak terduganya kembali muncul. “Apakah sulit untuk menjawab pertanyaanku?” bentaknya.

“Maaf. Apa maksudmu? Aku tidak paham,” jawabku.

“Apakah aku cantik? Berkali-kali sudah aku tanyakan. Berkali-kali engkau mengalihkan persoalan. Kamu tinggal menjawab iya atau tidak. Apakah itu sulit?” dia marah dan mematikan lampu kamar. (*)

* Amek Barli, pegiat di Komunitas Jeuneurob dan Mahasiswa Gemasastrin angkatan 2012

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved