Jumat, 1 Mei 2026

Opini

Melihat SDM Aceh 2050

BERDASARKAN data penerima beasiswa Pemerintah Aceh 2005-2011 yang di-publish di laman website Lembaga

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Syamsul Bahri

BERDASARKAN data penerima beasiswa Pemerintah Aceh 2005-2011 yang di-publish di laman website Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh (LPSDMA) --yang sebelumnya bernama Komisi Beasiswa Aceh (KBA)-- jumlah penerima beasiswa Aceh sudah mencapai 2.114 orang. Dengan beasiswa ini, selain di dalam negeri, mereka melanjutkan pendidikannya ke lebih dari 20 negara tujuan masing-masing ke Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, Jepang, Cina, Australia, Jerman, Turki, Rusia, Inggris, Perancis, Belanda, India, Tunisia, Sudan, Maroko, Yaman, Liga Arab, Mesir, Suriah, Amerika Serikat (AS), dan Italia.

Kuota pengiriman mahasiswa paling banyak pada 2008 yaitu 761 orang, dibawah kuota itu pada 2011 sebanyak 453 orang. Dilihat dari negara dituju paling banyak adalah di dalam negeri (Indonesia) yaitu 989 orang, disusul Malaysia sebanyak 395 orang, Australia 178 orang, Mesir 134 orang, dan Taiwan 121 orang. Selainnya terletak dibawah angka seratus. Yang paling sedikit adalah Jepang (program Master, 2008) dan India (program doktoral, 20011) yaitu 1 orang, disusul di atasnya Perancis 2 orang, dan masing-masing 3 orang ke Italia dan Singapura.

Sebagaimana kita ketahui, hampir semua ilmu pengetahuan modern dan teknologi sekarang ini diprakarsai oleh negara-negara maju seperti AS, Rusia, Inggris, Belanda, Australia, Singapura, Jepang dan Cina. Di AS sendiri, misalnya, kini memiliki banyak ilmuan dan telah menghasilkan beragam teknologi untuk kepentingan umat manusia. Cina merupakan negara paling kuat perekonomian saat ini. Rusia bekas Uni Soviet ini juga maju bidang militer atau persenjataan dan lain sebagainya. Sementara negara kita, Republik Indonesia termasuk Aceh di dalamnya, yang masih jauh tertinggal.

Adapun karakter negara berkembang menurut Abdurrahman Assegaf (2003) tingkat kelahiran dan kematian masih tinggi, kondisi sanitasi tidak memadai, lingkungan kumuh, tingginya jumlah pekerja sektor pertanian, GNP (Gross National Product) rendah, tingkat buta huruf tinggi, integritas Nasional labil, investasi rendah, bunga bank tinggi, kekayaan berpusat di kota atau tersimpan di luar negeri, stratifikasi masyarakat dan loyalitas bertumpu pada tradisi, dan banyak pekerja anak. Lebih kurang 10 karakter ini masih melekat pada negara kita.

 Bukan asal-asalan
Kuota penerima beasiswa Aceh dan negara tujuan studi, tentu bukan dilakukan asal-asalan oleh pemerintah Aceh, tapi dilatarbelakangi maksud dan tujuan masing-masing. Secara garis besar terlihat untuk menuntut “ilmu dunia” itu berorientasi pada negara non-muslim katakanlah seperti AS, Asutralia, Inggris, Jepang, Cina dan lain-lain. Sedangkan kalau untuk “ilmu agama” (ukhrawi) ada ke jazirah Arab atau Timur Tengah. Walaupun pada hakikatnya tidak ada pemisahan kedua ilmu ini.

Semua negara di dunia melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan. Brazil sangat gencar mengirim mahasiswa mereka kepada negara-negara maju. Begitu juga India, Cina, Taiwan yang telah terlebih dulu dari kita. Proses transfer manusia akademisi ini tetap berlangsung sepanjang zaman. Kita ketahui, peralihan kemajuan peradaban Romawi dan Yunani ke dunia Islam dimulai dengan upaya mencari ilmu ke negara mereka, membayar Guru Besar mereka untuk mengajar di negara Islam serta menerjemahkan kitab atau buku-buku mereka. Hasilnya umat Islam maju dan berperadaban tinggi yang disebut zaman kejayaan Islam (sekitar 750 M-1258 M), sedangkan Eropa berada dalam zaman kegelapan (dark age).

Akan tetapi lambat laun akibat ketidakperdulian lagi umat Islam kepada pengembangan ilmu, ditambah kekalahan perang dengan Non-muslim serta pertikaian yang terjadi dalam tubuh umat Islam itu sendiri membuat umat Islam terpuruk dan ‘bangkrut’. Akhirnya umat Islam pun menjadi ‘lengah’ dan mengasingkan diri dari menuntut “ilmu dunia”. Hasilnya kemajuan beralih kepada Eropa (dimulai awal 1300 M) atau peradaban barat yang disebut saat ini.

Sejak Zaman Renaisans Eropa (zaman kelahiran kembali) pada abad ke 15 dan 16, Eropa masih unggul terus meninggalkan peradaban Islam sampai saat ini. Mereka yang dahulunya bangsa “primitif” menjadi makhluk lebih dominan berperan dan memberi kontribusi untuk umat manusia. Zaman modern dalam sejarah peradaban Islam (1800 sampai sekarang) seperti disebutkan oleh Harun Nasution merupakan zaman kebangkitan Islam. Umat Islam tersadar dan mulai bangkit untuk `merebut’ kembali kejayaan mereka tempo doeloe.

Dunia dengan setiap peradaban pada setiap negara tak akan ‘hidup’ kalau ilmu tak dimiliki oleh empunya dunia. Ilmu itu wajib mengalir jangan pernah henti. Persepsi manusia itu dapat dibentuk, seperti menuangkan air ke dalam gelas, maka sepatutnya menuangkan air yang menumbuhkan dan menghidupkan.

Selain mahasiswa/i yang diberi beasiswa oleh Pemerintah Aceh, banyak juga pelajar Aceh melanjutkan studi secara ‘mandiri’. Artinya mereka kuliah atas biaya sendiri keluar negeri dan ada juga atas beasiswa international, seperti Fullbright dan Aminef di AS, Daad di Jerman, ADS di Australia, Stuned di Belanda, Erasmus mundus di Uni Eropa, dan juga banyak beasiswa dari negara lain.

Sebaiknya pemerintah Aceh juga mendata dengan baik mahasiswa-mahasiswa penerima beasiswa dari lembaga internasional itu. Apalagi kini Negara-negara maju di seluruh dunia sangat tertarik memberikan beasiswa kepada mahasiswa international. Mereka tahu bahwa semakin banyak mahasiswa international yang datang ke negara mereka, semakin baik pula negara mereka di mata international. Semakin dekat mereka dengan mahasiswa international, semakin cerdas mereka ‘menjajah’ negara itu.  

 Jumlah fantastis
Data penerima beasiswa Aceh pada 2005 hanya 36 orang, lalu meningkat menjadi 48 orang pada 2006, meningkat lagi 65 orang (2007), 761 orang (2008), kemudian menurun hanya 413 pada 2009, 338 orang pada 2010, dan 453 pada 2011, yang jumlah keeluruhannya mencapai 2.114 orang. Jika dikalkulasi lagi per tahun katakanlah setiap tahun 250 orang, maka pada 2050 nanti, mahasiswa yang menerima beasiswa Aceh adalah 9.000 orang. Jika ditambah dengan data mahasiswa sekarang menjadi 11.114 orang. Ini tentu satu jumlah fantantis yang memungkinkan untuk memajukan bangsa ini. Belum lagi mahasiswa-mahasiswa dari kampus-kampus kita di Aceh.

Kalau pemerintah Aceh mengirimkan mahasiswa tanpa target yang kuat, maka usaha ini akan sia-sia belaka. Anggaran yang sebenarnya untuk kesejahteraan masyarakat Aceh tapi diberikan untuk “anak Aceh pilihan” ini akan merugi di masa mendatang. Oleh sebab itu Pemda melalui LPSDMA wajib membentuk Tim Evaluasi, guna mengevaluasi atas program yang dijalankan itu. Tim Evaluasi dibentuk dari kalangan akademisi yang kompeten pada bidang studi masing-masing.

Sebaiknya, mahasiswa yang kuliah ke luar negeri pada bidang sains dan teknologi dianjurkan untuk bekerja dulu di negara lain (negara maju), dan lima tahun setelah itu baru kembali ke Aceh. Hal ini pernah dipraktikkan oleh Cina, mereka tidak langsung memanggil pulang mahasiswanya setelah selesai studi. Tetapi mereka dituntut menjadi ‘intelijen’ teoritis dan praktis di negara itu, sehingga sempurna keilmuannya teori dan praktik untuk dibawa pulang. 

Sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan mahasiswa yang kuliah di luar negeri dengan mahasiswa yang ada dalam negeri. Mungkin perbedaan itu hanya pada penguasaan bahasa dan pengalaman hidup saja. Kalau memang benar seperti ini, alih-alih menghabiskan uang rakyat Aceh lebih baik diberikan saja kepada rakyat Aceh untuk menanam cabe di sawah. Sedangkan kalau sebaliknya, maka para alumni penerima beasiswa itu membuktikan diri mereka untuk pemajuan bangsa ini. Wallahu’alam.

* Syamsul Bahri, Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: syamsulbahri167@ymail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved