Opini
‘Kota Tamadun’ Etalase Aceh
HARI ini, 809 tahun silam, Sultan Alaiddin Johansyah mendirikan Kerajaan Aceh Darussalam
Oleh Wirzaini Usman
HARI ini, 809 tahun silam, Sultan Alaiddin Johansyah mendirikan Kerajaan Aceh Darussalam. Lokasi berdirinya kerajaan itu masih tersisa dan dapat disaksikan di Gampong Pande. Dari sinilah cikal bakal Kota Banda Aceh terbentuk. Sultan memproklamirkan kerajaan itu pada Jumat, 1 Ramadhan 601 Hijriyah, atau bertepatan 22 April 1205 Miladiyah, di istana kerajaan yang bernama Kandang Aceh Kampung Pande dan selanjutnya dipindahkan ke Kuta Dalam Darud Dunia, di seberang Krueng Aceh.
Sejarah mencatat bahwa sebagai ibu kota negara Kerajaan Aceh Darussalam, Bandar Aceh Darussalam menjadi pusat perkembangan politik, ekonomi, pendidikan, agama dan sosial budaya baik di nusantara maupun manca negara. Kemasyhuran Bandar Aceh Darussalam sejak Pemerintahan Johansyah, Ali Mughayatsyah, Iskandar Muda, dalam Pemerintahan Sri Ratu Safiatuddin adalah bukti-bukti sejarah yang telah terukir dengan tinta emas sejarah ibu kota Serambi Mekkah ini, yang terus dikenang sampai hari ini.
Kota Banda Aceh yang dulunya bernama Bandar Aceh Darussalam dalam sejarahnya telah mengukir relik-relik kemajuan, sehingga Banda Aceh telah menjadi Kota Tamaddun di kawasan Asia Tenggara. Di saat itu, Aceh menjadi sebuah kota modern, tempat berkumpulnya seluruh bangsa di dunia.
809 Tahun adalah sebuah usia yang sangat tua, hampir sama dengan usia sebuah imperium kekhalifahan Bani Umayyah di Kordova, Spanyol, yang terkenal dengan panglimanya Thariq bin Ziyad pada. Usia ini juga melebihi masa kegelapan dunia setelah masa Kenabian Isa Al-Masih pada yang berlangsung hampir 600 tahun. Usia Banda Aceh bahkan lebih tua dari Jakarta, ibu kota negara Indonesia.
Namun seiring perjalanan waktu, usia tidak menjamin segalanya akan otomatis baik. Di hari jadi ke-809, masih banyak pekerjaan besar yang harus diselesaikan oleh seluruh warga kota. Peringatan Hari Ulang Tahun Kota Banda Aceh, yang kita rayakan setiap tahun, harusnya tidak sekadar acara seremonial belaka.
Peringatan itu dilakukan dengan memaknai jati diri dan menjadi bahan renungan kontemplatif nilai dan kearifan sejarah yang pernah dimiliki kota ini. Kita harus membangun kesadaran bahwa masa kini adalah kelanjutan dari masa lalu dan masa kini menjadi sejarah untuk masa yang akan datang.
Karena itulah, maka setiap perayaan hari jadi harus selalu dijadikan momentum untuk memberi semangat, inspirasi dan pencerdasan, guna melahirkan inovasi, kreatifitas untuk dijadikan pilar dalam pengembangan Kota Banda Aceh masa yang akan datang.
Ekonomi mandiri
Sebagai kota yang menjadi pusat pemerintahan dan etalasenya Aceh, Banda Aceh mengalami pasang surut pembangunan. Pada akhir 2004 terjadi musibah gempa bumi dan tsunami yang telah menghancurkan hampir sepertiga wilayahnya. Pemerintah bersama warga dan partisipasi lembaga swadaya berhasil memulihkan kembali, bahkan secara fisik kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Secara kasat mata, saat ini, semua terlihat normal. Tak ada daerah yang terlalu kumuh, seperti yang kerap terjadi di kota-kota besar. Atau tak ada anak-anak yang tidak sekolah, seperti yang lazim kita lihat di daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Secara tradisi, orang Aceh memang memiliki selera yang cukup baik di segala hal. Bahkan dalam memilih kendaraan, kita dikenal sangat pemilih sehingga tak heran jika bus antar provinsi di Aceh memiliki armada sangat baik. Kategori keluarga miskin di Banda Aceh juga tak sama dengan daerah lain. Kita tak pernah mendengar sulitnya orang hidup di Aceh sehingga mereka kesulitan untuk menikmati air bergula.
Standar hidup ini hendaknya menjadi modal penting pembangunan. Banda Aceh memiliki karakteristik yang berbeda. Minimnya serbuan kapital besar di pasar-pasar di Banda Aceh, hendaknya mendorong warga kota untuk menumbuhkan industri sendiri. Apalagi, daerah ini menjadi salah satu tujuan wisatawan, dengan luas hanya 61,32 km persegi.
Kedekatan masyarakat kita antara satu dengan lainnya, dapat menjadi bagian jaringan bisnis yang mampu menopang ongkos produksi, dengan syarat, setiap produk yang dihasilkan harus berkualitas. Dengan dorongan pemerintah untuk memberdayakan masyarakat dengan memberikan pelatihan-pelatihan berkualitas dan pendampingan, dengan demikian, industri di Banda Aceh dapat tumbuh pesat dan memiliki kualitas yang bersaing.
Pertumbuhan kemampuan ekonomi masyarakat adalah salah satu kunci keberhasilan pembangunan. Tanpa kemandirian ekonomi, akan menjadi kendala melaksanakan pembangunan secara maksimal yang menjadi cita-cita bersama, yakni menjadikan Banda Aceh sebagai model kota madani. Kemandirian ekonomi, seperti yang terjadi di masa Kerajaan Aceh Darussalam, adalah kunci untuk mewujudkan Banda Aceh yang madani.
Islam mengajarkan umatnya untuk mandiri. Kemandirian membuat kita percaya diri dalam menentukan masa depan yang akan kita raih. Dan dengan kemandirian, kita dapat menghadapi berbagai tantangan dengan kepala tegak. Kemandirian adalah modal awal untuk mengawali perubahan nyata. Dan itu dapat dibangun dengan langkah-langkah kecil, namun nyata. Senyata kemampuan kita untuk menghidupkan industri-industri kecil di Banda Aceh. Dari hal-hal kecil inilah, kita akan merangkak naik dan diperhitungkan oleh bangsa lain.
Kota Madani
Sejarah Banda Aceh adalah cerita yang tak ada habisnya. Kejayaan Kota Banda Aceh masa lalu adalah milik generasi masa lalu. Setiap generasi selalu mengukir sejarah dan mereka telah mempertanggungjawabkan kesejarahannya. Kita adalah generasi masa kini yang juga sedang mengukir sejarah dan kita juga harus mempertanggungjawabkan kesejarahan kita. Masa lalu, saat ini, dan masa depan adalah sama, sama-sama membuat sejarah dan memberi pertanggungjawaban sejarah untuk masanya.