Cerpen

Requiem untuk Istriku

PERNAHKAH kalian membaca riwayat tentang seorang suami yang selama 30 tahun merawat istrinya yang lumpuh?

Requiem untuk Istriku

Karya Muhammad Nasir Age

PERNAHKAH kalian membaca riwayat tentang seorang suami yang selama 30 tahun merawat istrinya yang lumpuh? Setiap pagi, dia memandikan istrinya, menyisir rambut, memoles sedikit bedak ke wajah, lalu mendorong kursi roda yang diduduki istrinya ke halaman rumah yang terang sinar matahari. Dibiarkannya sang istri selama setengah jam ‘diobati’ oleh matahari pagi, lalu dia mendorongnya kembali ke dalam rumah, sebelum kemudian dia berkemas untuk bekerja mencari nafkah.

Aku sedikit terinspirasi oleh kisah si suami tersebut. Tapi aku tidaklah sebaik si laki-laki itu. Sejak kautergolek di tempat tidur selama bertahun-tahun aku tak pernah memandikanmu. Aku juga tak pernah menyisir rambut atau membedaki wajahmu, apalagi mendorongmu dengan kursi roda ke halaman rumah kita.

Kursi roda yang kubeli hanya beberapa hari saja bisa kau duduki, karena waktu itu kau nyaris tak bisa lagi lepas dari pembaringan. Juga tongkat penyangga. Sama sekali tak pernah kau gunakan. Sekarang kursi roda dan tongkat itu tergeletak rapi di sudut kamar tidur anak kita.

Aku yakin semua orang setuju bahwa si suami itu benar-benar laki-laki setia. Bayangkan, 30 tahun. Melampaui usia sebuah generasi. Seandainya dia menikah lagi, mungkin dia bisa gonta-ganti beberapa istri untuk melayani hidupnya. Tapi itu tidak ia lakukan.

Sudah kukatakan, aku bukanlah bandingan untuk suami baik hati itu. Aku hanya sempat merawatmu selama hampir lima tahun, sebelum kemudian Tuhan mengambilmu dari rawatanku untuk dirawat olehNya sendiri.

Tapi aku sangat bersyukur, karena selama hampir lima tahun itu aku sedikit bisa membagi rutinitas pagi yang nyaris sama dengan si suami baik hati itu. Setiap bangun pagi, usai shalat Subuh, aku mengutip kain-kain bekas kotoranmu yang berserak di bawah tempat tidur. Kadang tumpahan kotoran ikut mengotori lantai rumah kita. Kencing, juga tinja. Kain-kain itu kutaruh di ember, mengangkut ke sumur, menyirami air, lalu memijak-mijaknya sesaat, dan membilas beberapa kali, agar sewaktu menyikat tidak terlalu kentara. Terutama kain-kain yang berlepotan tinja.

Kadang kain-kain bekas lepotan tinja itu kuanggap sebagai kotoran dari anak bungsu kita, yang saat itu baru saja menginjak usia 1 tahun. Hahaha..., memang aneh. Kadang kita harus mengelabui sesuatu kenyataan untuk bertahan terhadap kondisi yang berat. Makanya kuanggap kotoranmu sebagai kotoran bayi, agar aku bisa membersihkannya dengan nyaman. Hehehe....

Sewaktu sore pulang dari kantor, rutinitas itu kembali kuulangi. Mengutip kain-kain berlumur kencing dan tinja, hasil ‘olah’ tubuhmu yang ringkih selama seharian. Aku merasa sudah terbiasa dengan pekerjaan ini, sehingga tak lagi terbebani. Mencuci pakaian anak-anak kita juga. Itu telah kuatur jadwal tetap setiap akhir pekan. Aku tak ingin anak-anak kita berangkat sekolah dengan pakaian lusuh dan kumuh. Mereka harus tetap terlihat rapi, gagah dan cantik, meskipun ibunya terbaring sakit.

Pekerjaan memasak dan menyiapkan makanan, juga bukan lagi pekerjaan asing bagiku. Aku ingin setiap kali anak-anak kita mengatakan ‘makan’, pada saat itu makanan sudah tersedia di meja. Dan itu selalu kulakukan untuk mereka. Aku mengambil nasi di periuk, menaruh ke piring-piring mereka. Saat itu kau biasanya akan menyapa, “Lihat aku masih hidup, taruhkan juga nasi untukku...!”

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved