Pemilu 2014

Caleg Perempuan Kalah Bersaing karena Sistem

Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Aceh, Rukaiyah Ibrahim Naim, menilai minimnya jumlah perempuan calon anggota

Editor: bakri

BANDA ACEH - Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Aceh, Rukaiyah Ibrahim Naim, menilai minimnya jumlah perempuan calon anggota legislatif (caleg) di Aceh yang terpilih pada Pemilu Legislatif (Pileg) 9 April 2014 lalu bukanlah disebabkan oleh faktor ketidakmampuan perempuan caleg bersaing dengan pria, melainkan karena sistem pemilu yang berbeda dengan sebelumnya.

Menurut politisi PPP ini, pemilu kali ini yang menggunakan sistem suara terbanyak menjadikan para caleg harus bersaing ketat demi mendapatkan suara sebanyak-banyaknya.

“Sistem pemilu kali ini berpengaruh pada jumlah caleg perempuan yang terpilih. Kalau menggunakan sistem ini maka perempuan kalah karena perempuan tak mau menggunakan cara-cara seperti itu (pelanggaran untuk memperoleh suara sebanyak-banyaknya). Perempuan itu kan lebih jujur,” katanya saat dihubungi Serambi, Rabu (30/4) sehubungan dengan liputan eksklusif Serambi berjudul Sulitnya Wanita ke Parlemen yang diterbitkan Senin lalu.

Terkait dengan kemampuan dan kapasitas perempuan sebagai anggota legislatif, kata dia, sudah sangat bagus. Ia mengatakan, banyak perempuan caleg yang berasal dari kalangan akademisi dan aktivis yang berpendidikan. “Karenanya, kalau secara SDM saya rasa caleg perempuan sudah sangat bagus,” ujarnya.

Ia menyebutkan, keberadaan kaum perempuan dalam formasi anggota parlemen adalah hal yang penting. “Dengan adanya perempuan di DPR, maka mereka dapat membuat dan mengambil kebijakan dengan lebih memperhatikan kepentingan kaum perempuan. Mereka dapat menampung suara-suara kaum perempuan,” jelasnya.

Namun demikian, lanjut Rukaiyah, memperjuangkan hak dan kepentingan kaum perempuan tidak hanya melalui DPR. “Bagi caleg-caleg yang tidak terpilih tetap dapat bekerja di jalur lain, selain DPR. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membela dan memperjuangkan hak para kaum perempuan,” pungkas Rukaiyah.

Sebelumnya, Syarifah Rahmatillah dari LSM Mitra Sejati Perempuan Indonesia (MiSPI) mengimbau perempuan caleg yang kali ini gagal merebut kursi parlemen di setiap tingkatan (DPR, DPD RI, DPRA, dan DPRK) jangan patah semangat. Soalnya, perjuangan gerakan perempuan baru saja dimulai.

Fakta menunjukkan, calon legislator perempuan yang berhasil menerobos gedung DPRA pada pileg kali ini hanya 12 orang (14,8%) dari 81 kursi yang diperebutkan. Untuk DPR RI, dari 17 perempuan yang bertarung malah tak seorang pun yang berhasil meraih kursi.

“Perempuan tidak dipercaya atau karena kurang pintar bermain curang? Gemes saya dengan hasil pileg yang semrawut,” kata Caleg DPR RI dari PAN Aceh, Ir Hj Fery Soraya MSIE kepada Serambi.

Caleg dengan nomor urut 1 ini menilai sistem kepemiluan sudah mendukung partisipasi perempuan, namun demokrasi di Indonesia masih bersifat pragmatis sehingga menyuburkan politik uang. Jargon perempuan untuk perempuan, kata Fery, kini juga bukan zamannya lagi. “Perempuan bisa bermanfaat bagi semua, tidak hanya untuk perempuan,” kata istri Dr Ahmad Farhan Hamid MS, Wakil Ketua MPR RI ini. (sr/nr)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved