Cerpen

Pengantin

KAMAR ini lebih kecil daripada kamarku di rumah. Kata ibu, kamar ini hanya akan aku tempati sementara waktu

Karya Putri Ace Riaula Ramadhona

KAMAR ini lebih kecil daripada kamarku di rumah. Kata ibu, kamar ini hanya akan aku tempati sementara waktu. Aku sedang dipingit, tidak boleh bertemu Erga -  laki-laki yang akan menikahiku seminggu lagi. Kupandangi dinding putih polos yang mengelilingiku. Bosan sekali rasanya. Namun, rasa jenuh itu lenyap manakala bayangan wajah Erga bermain di pelupuk mataku. Senyum simpul, lesung pipi yang mengintip setiap kali dia tertawa dan sepasang mata legamnya yang berbinar jenaka ketika menatapku.

Tanpa aku sadari, sedari tadi aku tersenyum-senyum sendiri. Tapi, apa pun yang sedang aku lamunkan buyar seketika. Keningku mengerut ketika kudengar bisik samar dari balik pintu kamar. Penasaran, aku beranjak mendekati daun pintu; menempelkan telingaku ke kusen berwarna abu-abu itu. Suara itu berhenti, seolah tahu aku sedang berusaha menguping pembicaraan mereka. Kutunggu beberapa lama. Suara dari balik pintu lenyap. Yang terdengar hanya langkah-langkah kaki bergerak menjauhi ruanganku. Sekali lagi, aku mengernyit, bertanya pada diri sendiri: di manakah aku sekarang ini?

Firasat buruk menghantui hatiku. Perlahan, aku kembali duduk di pinggir ranjang. Tanganku mengelus kasarnya seprai putih polos. Sementara pandanganku berkeliling mengitari sudut-sudut kamar dengan gelisah. Tidak banyak barang yang menghiasi kamar ini. Di sudut kanan tempat tidurku terdapat lemari satu pintu, tempatku menyimpan baju-baju. Di sudut lain kamar, di dekat jendela ada sebuah nakas. Sebuah vas bunga diletakkan di atasnya. Vas itu berisi bunga lili. Bunga kesukaanku. Tetapi, sebuah pertanyaan terus menggelayut di pikiranku; di manakah aku?

Aku terlonjak kaget ketika pintu kamarku dibuka. Sosok ibu muncul di ambang pintu. Dia tersenyum menatapku. Hari ini ibu mengenakan baju terusan hijau lumut. Selendang berwarna senada menutupi sanggulnya yang tinggi. Kehadiran ibu membuatku merasa lega. Lantas kusambut ibu dengan tersenyum lebar.

“Delia, Ibu sengaja mampir kemari untuk melihat kamu, Nak. Gimana perasaanmu? Sudah merasa enak tinggal di sini?” tanya ibu. Ada sesuatu yang janggal dari cara ibu memandangku. Ibu terlihat gusar dan cemas. Sejak    dua minggu menginap di tempat ini, aku memang kerap mengeluh pada ibu bahwa aku merasa gelisah dan tidak karuan. Namun, sekali lagi semua perasaan itu ditepis oleh ibu. Kata ibu, itu hanya perasaan gugup menjelang pernikahan.

“Masih tidak betah, Bu.” Aku menatap bolak-balik antara pintu dan sosok ibu.

Seakan menyadari gelagatku, ibu kembali bertanya. “Kamu mencari siapa, Del?”

 “Ayah tidak datang, Bu?” Ibu menggeleng berpura-pura tidak melihat sorot kekecewaan yang terpancar di mataku. Ibu membuang muka-menghindari tatapanku. Lagi-lagi hari ini ayah tidak datang bersama ibu.

“Ayahmu itu sedang sibuk. Dia pergi ke sana kemari cuma untuk mempersiapkan pernikahanmu. Katanya pernikahan kamu harus mewah dan berkesan. Karena kamu putri kami satu-satunya,” tutur ibu setelah duduk di ranjang bersamaku. Dalam hati aku merasa kecut. Mengapa aku sebagai calon pengantin harus menginap dan dipingit di tempat seperti ini? Sementara ayahku mengurusi segala persiapan pesta pernikahanku. Aku mestinya tetap bisa membantu meringankan tugas orangtuaku. Sebenarnya semua ini terasa sedikit aneh. Tapi, kubabat habis ragu yang menggerogoti hati dan pikiranku.Ibu kemudian berseloroh sembari meyodorkan dua buah kantong plastik, “Ini ibu bawakan jeruk kesukaan kamu. Ayo, dimakan! Ibu juga belikan kamu nasi goreng.”

Kuraih makanan dalam bungkus plastik itu seraya terkikik girang. “Ah, Ibu memang baik dan paling mengerti.” Ibu hanya melempar senyum kecil. Penat yang kurasakan sebelum kedatangan ibu telah hilang.

Tak terasa, waktu bergulir semakin cepat. Ibu beranjak dari duduknya. Sebelum pamit pulang, ibu memelukku hangat. Aku kembali ditinggal sendiri. Di sini, di dalam kamar sempit ini entah untuk berapa lama.


***

Aku terbangun dari tidur saat aku rasakan sesuatu yang hangat menyentuh wajahku. Terlalu malas untuk bangun, kubuka sebelah mataku menatap sinar mentari yang menerobos masuk melalui jeruji jendela kamar.

“Selamat pagi, Delia,” sapa seorang perempuan tua bertubuh mungil. Ia sedang mengganti bunga lili yang kemarin dengan bunga-bunga lili yang baru. Perempuan itu satu-satunya orang yang sering kulihat di tempat ini selain ibu. Dia selalu datang ke kamarku setiap pagi dan siang hari.

“Selamat pagi,” sapaku dengan suara parau.

Perempuan tua itu mendekati ranjangku. Dia mengulurkan tangan, membantuku bangun dari tidur. “Sudah pagi. Waktunya kamu mandi,” ujarnya kalem. Ditepuknya-tepuknya lenganku pelan.

Aku berdiri perlahan-lahan. Kukucek mata sembari berjalan sempoyongan menuju kamar mandi kecil di sisi kanan kamar. Perempuan itu tergopoh-gopoh mengikutiku. Dipundaknya tersampir selembar handuk milikku. Sementara tangannya menggenggam sekantong plastik kresek berisikan peralatan mandi yang sering kugunakan. Dia mengikutiku sampai ke dalam kamar mandi. Setiap hari selalu seperti ini. Mengapa dia mengurusiku? Dari membangunkanku tidur hingga menyuapi dan memandikanku. Aneh. Akan tetapi, aku tidak ambil pusing. Mungkin saja dia pekerja suruhan ibu yang ditugaskan untuk merawatku selama aku di sini.

***

Sudah seminggukah? Mengapa waktu berjalan begitu lambat. Aku terus menanti-nanti hari pernikahanku. Hari dimana aku akan segera terbebas dari tempat ini. Tapi, mengapa akhir-akhir ini aku merasa bingung dan linglung?

Bisik-bisik samar yang pernah ak udengar dulu sekali itu kian sering aku dengarkan. Berkali-kali aku coba menelisik apakah yang mereka sembunyikan dariku. Tapi, aku tetap tidak tahu bagaimana caranya. Selama ini aku tidak pernah keluar dari kamar. Sumpek sudah rasanya pikiran dan jiwaku. Andai saja ibu di sini.

Derai hujan mengguyur kusen jendela. Angin menghempaskan kusen-kusen kayu itu ke jeruji besi berkali-kali. Menimbulkan suara dentaman. Aku meringkuk di atas ranjang. Menggelung kedua kakiku merapat pada tubuh. Isak sedih terlontar dari bibirku. Di manakah ibu dan ayah? Dimanakah Erga? Aku takut ditinggal sendiri seperti ini.

Hujan tak kunjung mereda. Angin meraung-raung di luar sana dan suara petir menggelegar membelah malam.

***

Ibu menyisir rambutku. Jemarinya mengelus-elus helai-helai ikal legam rambutku naik turun, mengikuti gerakan sisir yang tergenggam di tangan kanannya. Hari ini, ibu mendandaniku. Dari dulu aku selalu bangga pada ibu. Biar pun pekerjaan ibu hanya sebagai perias, tapi sudah tak terhitung berapa banyak wajah yang disulap menjadi cantik oleh tangan kurus ibu.

“Bu, berapa hari lagi menjelang pernikahanku? Aku mulai bosan di sini,” gerutuku manja. Kupandangi wajah ibu dari cermin berharap melihat senyuman kecil ibu terpantul di sana. Ibu tertegun. Tangannya berhenti bergerak. Sesaat kulihat mata ibu berkaca-kaca. Tapi, saat aku berbalik untuk memastikan. Mata ibu tidak berair. Mungkin hanya halusinasiku saja.

“Tunggu saja. Tidak lama lagi kok. Aduh, anak Ibu sudah tidak sabaran untuk menikah ya?” goda ibu. Aku tersipu. Kusentuh rambutku perlahan. “Bu, rambutku sudah panjang, ya?” Aku berkata sambil mengamati bayanganku di cermin. “Dulu waktu pertama kali aku ke sini, rambutku pendek sebahu. Sekarang sudah sepinggang,” terangku kebingungan.

Ibu mendesah. Sisir di tangannya diletakkan di nakas. Kurasakan ibu mencium ubun-ubun kepalaku. “Delia, rambutmu itu memang cepat sekali tumbuhnya,” ibu bergumam. “Masih ingat waktu kamu SMP?”

Aku tertawa geli ketika mengingatnya. Ketika SMP aku sangat bengal dan tomboi. Potongan rambutku cepak seperti anak laki-laki. Sering sekali aku pergi ke tukang pangkas karena tak sampai sebulan rambutku sudah kembali panjang. Saking seringnya, ayah jadi marah-marah dan mengomeli kebiasaanku memangkas rambut.

Mendengar tawaku, ibu tersenyum. “Tuh, kan. Ingat tidak?” todong ibu berpura-pura galak. Aku hanya mengangguk-angguk sembari tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah ibu.

Ibu menatap ke luar jendela. Semburat jingga membayangi putihnya awan. “Sudah sore ya, Del? Ibu harus segera pulang.” Aku mengamati ibu. Ia meraih tas tangannya. Seperti biasanya ibu merangkulku dalam pelukannya. “Besok Ibu akan datang lagi.” Lalu, ia menghilang dari balik pintu. Kutatap sosok ibu berlalu. “Ah, lagi-lagi aku ditinggal sendiri.”

***

Terdengar bunyi langkah di ubin. Aku bergegas bangkit dari ranjang. Berlari menuju pintu. Kutempelkan telingaku ke pintu kala kudengar langkah-langkah mereka. Setiap hari seperti ini. Sehingga aku hafal betul kapan mereka akan melalui kamarku.

Benar saja. Kudengar derap langkah mereka berhenti di depan pintu kamarku. Lalu, suara bisikan-bisikan itu terdengar. Aku tersenyum puas saat telingaku dapat mendengar jelas percakapan mereka. “Perempuan itu belum sembuh juga?” kudengar suara seorang perempuan berbisik kepada temannya.

“Belum. Padahal, sudah tujuh bulan dia dirawat di sini,” suara lain menjawab.

“Kasihan sekali perempuan itu. Wajahnya cantik tapi, nasibnya sial,” tukas perempuan yang pertama.

Aku terheran-heran.  Apa yang sedang mereka bicarakan? Siapa yang sakit? Tempat apa ini? Beribu pertanyaan berputar-putar di benakku. Namun, kuputuskan untuk bungkam dan melanjutkan mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Tahu tidak? Dia selalu bertanya kapan dia akan menikah. Setiap hari, ibunya akan datang dan menemaninya. Sesekali dia akan mendandani anaknya bak seorang pengantin.”

Kemudian, kudengar suara desahan. “Malang sekali ibu itu. Suaminya menceraikannya. Sementara anaknya menjadi gila karena calon suaminya meninggal akibat kecelakaan mobil.”

Tubuhku terasa lunglai. Akukah orang yang mereka bicarakan setiap harinya? Air mataku tumpah. Kepalaku bergerak-gerak menolak mempercayai apa yang kudengar. Mereka pasti berbohong! Aku harus segera ke luar dari tempat ini. Aku tidak gila! Aku di sini dipingit. Dan aku akan menikah dengan Erga.

Kuraih gagang pintu dan kucoba membukanya. Anehnya pintu ini terkunci. Dengan panik, kuraba lubang kunci. Namun, tak kutemukan sebuah kunci terselip di sana. Kali ini aku mulai meraung-raung. Meminta seseorang untuk membukakan pintu. Meninju-ninju kusen pintu dengan kepalan tanganku.  “Tidak! Aku bukan orang gila! Aku seorang pengantin!  Buka pintunya!” raungku penuh amarah. Lama sudah aku menjerit dan menangis. Suaraku mulai serak. Tetap saja tak ada seorang pun yang datang. Pintu itu masih tertutup rapat. 

* Putri Ace Riaula Ramadhona,  mahasiswi FKIP Bahasa Inggris Unsyiah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved