Cerpen

Sepasang Tanduk di Kepala

DIA teringat, bahkan seperti baru tersadar dari tidur panjang, pesan neneknya: bila dia mendurhakai suaminya, kelak akan tumbuh

Sepasang Tanduk di Kepala

Karya Farizal Sikumbang

DIA teringat, bahkan seperti baru tersadar dari tidur panjang,  pesan neneknya: bila dia mendurhakai suaminya, kelak akan tumbuh sepasang tanduk di kepalanya. 

***

Suaminya terbatuk-batuk di kamar. Dua anak laki-lakinya masih sibuk bermain pasir di depan rumah. Dia lagi meremas santan kelapa dengan hati kesal. Dia akan memasak ikan tongkol yang dia di beli di pekan. Ini hari Sabtu, hari pekan, mestinya hari ini dia tidak hanya membeli bahan masakan saja. Di hari pekan, berbagai pedagang dari tempat jauh  datang ke kampungnya menjual berbagai rupa: pakaian, mainan anak-anak, buah-buahan hingga barang elektronika. Dia menyesali itu, mengapa tak sanggup membeli televisi seperti tetangganya. Dia tak tahan lagi, harus terus mendengar rengek si Agam menuntut televisi.

Tidak ada televisi? Aduh, baginya malam terasa sunyi. Rumah panggung itu bagai kerangka-kerangka tua kesepian. Dia ingin seperti rumah tetangganya. riuh oleh suara televisi dan anak-anak yang ceria menontonya.

“Umi, televisi amak si Hasan bagus sekali. Kapan kita punya Umi, aku ingin nonton flm Upin dan Ipin,” tiba-tiba si Agam sudah berada di sampingnya. Belum sempat dia menjawab anak itu sudah berlari-lari pelan  menuju ke halaman rumahnya kembali.

“Kenapa tak kau bilang sama bapakmu,” katanya dalam hati saja. Suaminya di dalam kamar terdengar batuk lagi. Dan dia tak hirau pada batuk suaminya. Dia hanya berpikir tentang uang yang tersisa sepuluh ribu rupiah di kantongnya dan juga perihal beras yang tersisa satu bambu saja. Dia merasa hidup begitu sulitnya. Mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari seorang diri. Sejak suaminya lumpuh dua tahun silam, dialah yang menjadi tulang punggung keluarga. Mendapatkan upah dengan bekerja menjadi pembersih dan memelihara pohon jati milik pejabat di Banda Aceh di dalam hutan kampungnya. Dia bekerja dari pagi sampai sore.

Di tempat dia bekerja, si mandor kebun, Husein, sangat perhatian padanya. Tidak itu saja, laki-laki itu seperti tahu setiap dia dalam kesusahan. Tak jarang si Mandor memberikan upah lebih padanya. Dan dia tidak pernah menolak setiap pemberian itu, karena dia, memang membutuhkannya.  Kawan-kawan sesama pekerja malah memberikan saran padanya: agar dia jangan terlena. Tapi dia tidak hirau, bukankah si Husein tak bertingkah macam-macam.   

Terkadang terpikir juga dalam hatinya, mengapa suaminya tak seperti Husein, mengerti pada kesusahan hidupnya. Penuh perhatian. Jika dia merasa telah letih bekerja di hutan misalnya, si Husein akan datang membawakan minuman dan makanan ringan. Terkadang Husein juga membawakan nasi bungkus untuk makan siang. Dia merasa tersanjung di perlakukan seperti itu. Di rumah dia tidak mendapatkanya, kecuali rintihan suaminya dan kenakalan dua anaknya.

Dia bukan tak sayang kepada suaminya. Sudah berulang kali dia membawa suaminya ke tukang urut dan dukun kampung bermata elang, tapi penyakit lumpuh itu tetap saja tak mau sembuh juga. Dia merasa putus asa, mungkinkah suaminya akan sembuh seperti semula. Dia mulai jenuh, mendapatkan suaminya tak bisa berbuat apa-apa. Maka pertengkaran mulai sering mengaung sampai ke luar jendela. Dia acap mengumpat, mencaci, terkadang seperti pesilat: menendang dinding rumah meski dengan gerak berat dan, si suami, diakhir keributan selalu terduduk. Dia merasa tak berguna. Batinnya merana. Namun ia, dengan cepat akan memaafkan, melupakan setiap pertengkaran. Mengaramkan dendam, sakit hati dan hinaan. “Yusniar, kau berikanlah aku segelas air, tak kau dengar aku batuk,” kata suaminya dari dalam kamar.

Dia terus meremas santan seperti orang geram. Seperti dikalahkan oleh kesabaran.

“Yusniarrr!”

Dia masih tidak peduli pada suara suaminya.

“Yusniarrr!” kali ini terdengar nada suara suaminya serak dan pelan, atau seperti rintihan.
“Agaammm, kau ambilkan bapakmu air minum. Agamm!” katanya lantang.

Si anak laki-laki itu tergesa-gesa memasuki rumah. Mengambil secangkir air lalu dengan pelan memasuki kamar. Tapi terdengar gerutu si anak yang memasang wajah masam. Dan dia terlihat telah selesai meremas santan.

***

Biasanya dia menggunakan kendaraan roda dua pergi ke dalam hutan untuk bekerja, tapi hari ini kendaraannya itu tak befungsi. Entah mengapa tak mau hidup. Mungkin kendaraannya sudah tua. Lagipula, dia hampir tak pernah merawatnya, seperti mengganti oli. Padahal jarak tempuh yang dilalui kenderaan itu begitu jauh. Mestinya dia memperhatikan kendaraan itu seperti dia memperhatikan dirinya sendiri. Tapi, ah itu tak mungkin. Dia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Tapi, pagi ini, dia merasa begitu bodoh. Mengapa abai pada kenderaannya sendiri. Dia tak bisa ke mana-mana jika alat transportasi itu rusak. Di sini, di kampung terpencil ini, kenderaan umum tak pernah ada.   Kampungnya begitu jauh. Tersuruk berpuluh-puluh kilometer dari ibukota kabupaten.

Dia menunggu di persimpangan kampung, menanti seseorang yang dapat memberikannya boncengan. Jarak persimpangan ke tempat kerjanya sekitar dua kilometer, melewati jalan yang di kelilingi pohon-pohon besar. Dan hari ini dia beruntung. Tak lama menunggu, Husein datang seperti pahlawan kepagian. Atau memang sudah digariskan, bertemu pada pagi berhawa sejuk.

“Yusniar, kamu tak membawa kendaraan?”

Husein melontarkan pertanyaannya pelan dan sopan. Juga ada nada kelembutan. Dia yang sejak semalam diselimuti hati kusam, seperti disirami air madu hutan. Seketika, melihat si Husein hatinya riang jalang.

“Iya, Abang. Kendaraanku mogok.”

Husein seperti mendapatkan impian yang sudah lama terpendam. Dan Yusniar sudah lama tak paham siasat si Husein.

“Naiklah bersamaku. Aku juga tak ada boncengan.”

“Baik Abang. Maaf, aku merepotkan.”

“Tidaklah Yusniar. Aku sangat senang.”

Yusniar lalu beboncengan. Husein memacu kendaraan. Jalan menuju kebun itu tidaklah mulus. Ada banyak lobang dan tikungan tajam. Sesekali ada tanjakan. Yusniar memegang erat pinggang Husein karena takut jatuh dari kendaraan. Sesekali terdengar pekik Yusniar kaget,  saat kendaraan terloncat. Dalam perjalanan itu, mereka, bagai dua orang kasmaran. Pekik siamang, cuit burung hutan, dan awam hitam mengantar gerak perjalanan.

***

Di kampung itu, setiap gosip seperti berkaki, melompat ke setiap pintu rumah. Lalu mengawini perempuan-perempuan pesilat lidah. Perihal Yusniar pergi berboncengan dengan Husein menjadi topik hangat. Sampai berbuih-buih mulut mereka memperbincangkan.

“Katanya, Yusniar sempat memegang pinggang.”

“Katanya juga tak hanya pinggang, tapi pusar.”

“Ha, ha ha…”

“Waduh, bisa terangsang itu.”

“Bisa terbang.”

“Apanya?”

“Anunya.”

“Celaka dua belas.”

“Celaka tiga belas. Tak tahu dia, suaminya lumpuh. Perempuan jalang.”

Bagai tak ada. Bagai tak mendengar apa-apa. Yusniar dan Husein di hari-hari berikutnya masih pergi bersama-sama. Entah kenderaanya masih rusak atau sudah direncanakan. Padahal gunjingan itu sudah sampai ke telinga mereka. Mereka tak hirau pada  setiap gunjingan yang keluar dari pintu rumah, di kedai, di jalanan dan di meunasah. Dia mulai terlena pada Husein, dan lupa, bahwa di rumah, dia memiliki suami yang terbaring lemah. Dan si Husein, tanpa sadar, kini istrinya bunting delapan bulan.

***

Dan beginilah, suatu hari  suaminya terbaring kaku di atas pembaringan. Dua anaknya menangis tersedu-sedu.  Baju mereka masih terlihat bekas noda darah. Tadi siang kedua anak itu menemukan ayah mereka tergeletak di bawah jenjang rumah. Kepalanya berdarah.

Para pelayat duduk bersila. Mereka saling berbisik entah apa.

Yusniar duduk di sudut kamar. Sesekali matanya menatap tubuh suaminya itu. Dia merasa sangat lelah hari ini. Rasa bersalah menggerogoti tubuhnya. Kepalanya terasa sakit. Bahkan terasa sangat sakit sekali. Seperti benda entah apa akan keluar dari atas kepalanya. Sesuatu yang ia rasa itu, seperti ingin melompat, menyepak-nyepak, kepalanya terkadang seperti ingin meledak. Dia sangat takut. Wajahnya pucat. Tiba-tiba dia teringat kata-kata neneknya dahulu itu.    

“Nenek tak ingin, suatu hari  kepalamu tumbuh sepasang tanduk. Kamu tak boleh durhaka pada suamimu kelak.”

“Tanduk. Dua tanduk? Apa iya?” Katanya penuh bimbang. Dua matanya berkaca menatap tubuh suaminya. Dia seperti merasa baru terbangun dari tidur panjang.

Aceh, 2014

* Farizal Sikumbang adalah guru SMAN 2 Lamteuba, Aceh Besar. Alumnus jurusan Bahasa dan Sastra FKIP Unsyiah

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved