Senin, 15 Juni 2026

Kalimat Efektif dalam Bahasa Aceh

Selain kehematan kata, struktur kalimat efektif juga tidak boleh menimbulkan makna ambigu atau bermakna ganda

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami

Oleh Hendra Kasmi, S.Pd.

Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Saya akan memulai ini tulisan ini dengan sebuah peristiwa paling berkesan. Sebut saja tokohnya Helmi dan Rahmat. Kedua-duanya merupakan mahasiswa FKIP Bahasa Inggris Unsyiah. Rahmat berasal dari Meulaboh, sedangkan Helmi berasal dari Langsa. Suatu ketika mereka menjadwalkan belajar kelompok di pustaka.

Rahmat mengatakan kepada Helmi bahwa jadwa belajar kelompok akan berlangsung besok. "Singöh beungöh watèè jih (besok pagi waktunya)!"ujar Rahmat. Besoknya, Helmi sudah menunggu di pustaka sejak pukul 08.00 WIB. Namun orang yang ditunggu tak kunjung datang sampai Zuhur menjelang. Helmi lalu pulang. Sesampai di rumah ia mengungkapkan nada kekesalannya pada Rahmat yang tidak menepati janji melalui telepon. Rahmat lalu mengatakan bahwa ia baru saja tiba di pustaka dan menuduh Helmi lah yang tidak menepati janji.

Peristiwa tersebut berhubungan dengan keefektifan berbahasa. Kalimat efektif merupakan kalimat yang penyampaian suatu informasi secara tepat dan jelas. Dalam bahasa Aceh dialek pesisir timur dan utara, umumnya untuk waktu yang berlangsung sehari penuh pada esok hari cukup mengatakan beungöh. Sungguh tidak efektif bila mengatakan singöh beungöh  karena mubazir dalam pemakaian kata kecuali untuk menyatakan waktu yang memang pasti berlangsung pada besok pagi. Hal tersebut sungguh berbeda dengan daerah pesisir barat selatan. Untuk menyatakan waktu esok yang berlangsung sehari penuh mereka cenderung mengatakan singöh beungöh.Sedangkan kata singöh untuk menyatakan waktu yang tak terhingga, bisa berhari-hari, berminggu-minggu, atau berbulan-bulan kemudian.

Kalimat efektif dalam kaidah bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Aceh. Kalimat efektif bahasa Indonesia jelas telah memenuhi standar kebakuan dan bisa diterima oleh sebagian besar warga nusantara, sedangkan bahasa Aceh, keefektifan bahasa suatu kelompok masyarakat belum tentu berterima oleh kelompok masyarakat lainnya. Hal ini disebabkan oleh beragamnya dialek dalam bahasa Aceh di antaranya dialek Peusangan, Banda, Bueng, Daya, Pase, Pidie, Tunong, Seunagan, Matang, dan Meulaboh. Selanjutnya sulitnya menerapkan standar baku bahasa Aceh karena fanatisme pemakaian dialek bahasa dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Selain  kehematan kata, struktur kalimat efektif juga tidak boleh menimbulkan makna ambigu atau bermakna ganda. Contoh kalimatnya dalam bahasa Aceh: cie lôn kalön ie pôk kah! Bagi orang pesisir barat selatan Aceh kalimat itu bisa bermakna coba saya lihat sakumu! tetapi kalimat itu bisa juga bermakna (mohon maaf) coba saya lihat air rahimmu! Bagi orang pesisir barat ie pôk bermakna 'saku' dan 'air rahim', sedangkan dalam dialek Aceh lainnya ie pôk  hanya bermakna air rahim, sedangkan untuk menyebut 'saku' kosakata yang digunakan adalah balum atau keh. Sungguh sangat sulit untuk membakukan kata balum atau keh untuk mengganti kata ie pôk supaya efektif karena hal tersebut akan bertentangan dengan nilai sosiokultural masyarakat pesisir barat selatan Aceh. Selanjutnya  kosakata bersinonim dalam bahasa Aceh hanya berlaku untuk dialek tertentu. Berbeda dengan kata-kata baku bahasa Indonesia,  setiap pemakai bahasa tersebut boleh mengganti kosakata tertentu untuk menyebut makna yang sama.

Bahasa Aceh memang kaya akan keberagaman dialek dan pelik dalam penerapan tata bahasa. Bahasa Aceh mempunyai struktur yang khas dan rumit mulai dari unsur morf sampai wacana sehingga  perlu dipelajari secara sistematis dan mendetail. Pemerintah seharusnya tidak menganggap sepele terhadap pembelajaran bahasa Aceh walau selama ini sebagian sekolah dasar di Aceh menjadikan bahasa Aceh sebagai pelajaran muatan lokal, namun untuk jenjang SMP dan SMA pelajaran bahasa Aceh nyaris tidak ada. Selanjutnya, menurut pengamatan penulis, banyak buku-buku kaedah bahasa Aceh  yang terbengkalai di perpustakaan sekolah. Ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bahasa Aceh didiskriminasikan dalam dunia pendidikan.

Redaksi menerima tulisan pembaca yang berkaitan dengan bahasa atau sastra. Panjang tulisan sekitar 600 kata dan dikirim ke alamat pos el: balaibahasaaceh@kemdikbud.go.id  


 Rubrik ini kerja sama Serambi Indonesia dengan Balai Bahasa Banda Aceh



Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
Live
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved