Cerpen

Jalan Pulang

Azan Magrib baru saja berkumandang. Langit yang tadinya merah jingga perlahan berwarna hitam pekat

Karya Nanda Feriana

Azan Magrib baru saja berkumandang. Langit yang tadinya merah jingga perlahan berwarna hitam pekat. Di luar mulai gelap. Sunyi. Aku baru tiba setelah menempuh enam jam perjalanan, melewati persawahan yang kerontang dan perbukitan menanjak. Tak begitu elok memang. Tapi itulah kampungku. Ketika tiba, sosok itu kulihat muncul dari balik pintu. Sosok yang mungkin tidak sedang menyambut kepulanganku. Sosok yang sejujurnya tak begitu dekat denganku. Mengenakan baju koko, sarung kotak-kotak, dan kopiah putih ia terlihat berkarisma. Kusalami tangannya.  Kulit tangannya yang keriput menyeruakkan aroma semen. Ia memberi seulas senyum yang dingin. Tanpa sepatah kata pun, ia berlalu, meninggalkan aku dan ibu.

Sebenarnya tidak mudah memutuskan pulang. Ada setumpuk tugas yang aku tinggalkan di sana.  Tapi bukan itu yang membuatku gelisah. Apa yang bisa aku hadiahkan untukmu, Ayah? Aku hanya membawa pulang diriku sendiri, tak lebih dari itu. Itu sebabnya, harusnya aku tidak pulang. Aku gelisah ketika harus menatapnya.

Jika bukan karena ibu menghubungiku, aku akan merancang alasan untuk tidak pulang. Barangkali hal ini lebih adil buatku. Selain libur kuliah Ramadhan atau hari raya, tampaknya daun pintu rumah ini tidak akan terbuka untukku. Jadi, cukup beralasan. Tapi kali ini, aku sudah pulang. Aku telah tiba dan mengetuk pintu rumahmu, Ayah.

Laki-laki itu selalu terlihat sibuk dengan dirinya sendiri.  Ia lebih banyak diam daripada berbicara. Ketika siang hari, dia lebih sering berada di luar rumah. Ketika di rumah, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca. Jika tak membaca ia membereskan isi lemari tuanya yang semuanya berisi buku-buku.

Ibu adalah sosok yang paling mengerti bagaimana ayahku. Termasuk tahu kapan waktu yang tepat untuk mengajaknya berbicara. Keduanya bisa mengobrol panjang lebar sambil duduk berdua di bangku rotan di teras selama berjam-jam. Aku bahkan tak pernah bisa melakukan itu.

Pagi hari, aku sering tak melihatnya di rumah. Ia menghabiskan waktunya di surau dan membangunkan orang-orang sekampung untuk menunaikan shalat subuh.

Sekitar pukul delapan pagi, ketika matahari mulai meninggi, ia baru kembali ke rumah untuk sarapan. Dua buah pulut dan secangkir teh adalah sarapannya setiap hari.  Mulai pukul sembilan pagi, ia meninggalkan rumah untuk bekerja. Dia akan pulang pada sore hari menjelang Magrib. Seringkali ia pulang membawa tubuhnya yang lelah, peluh bercucuran, dan juga aroma semen. Ia lusuh. Bila waktu sembahyang tiba, ia  menata diri dengan sangat apik dan di mataku sungguh mempesona, seperti yang baru saja kulihat.

“Ayah terlihat kurus ya, Bu?” tanyaku.

“Itu karena dia sering merindukanmu,” jawab ibu sendu.

“Aku membuatnya menderita,” aku tertunduk lesu.

“Siapa bilang, kurus tidak berarti menderita. Kamu adalah alasan ia selalu berbahagia.”

Entah mengapa, mendengar hal itu aku semakin didera rasa bersalah.

“Akhir-akhir ini, dia mengerjakan banyak sekali rumah. Kau tahu sendiri, kampung kita sedang berbenah. Banyak warga sedang membangun rumah. Ada yang besar, ada yang hanya merehab saja. Itu alasan ayahmu nyaris tak pernah di rumah,” ujar ibu.

“Padahal rumah kita sendiri masih seperti ini-ini saja, kenapa ayah tidak membangunnya menjadi lebih baik”?

“Ibu tidak tahu. Coba tanyakan langsung pada ayahmu. Sekarang istirahatlah dulu.”

Aku tahu, sulit menanyakan perihal ini pada ayah. Sejak aku tiba, ayah tak pernah mengajakku berbicara. Sejak aku kecil ayah sudah seperti itu. Jarang sekali ia memulai pembicaraan. Ia membesarkanku dalam kebisuan yang sulit aku mengerti. Bahkan hingga hari ini aku belum bisa mengerti. Aku tidak tahu entah mengapa ia membentangkan jarak yang begitu jauh di antara kami berdua. Sudah tiga hari di rumah, ayah belum juga mengajakku bicara. Padahal aku menunggu, setidaknya menunggu ia  menanyakan bagaimana kabarku sejak tinggal sendir di kota.

Suatu senja, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampung. Kata ibu, pada panen raya sebulan lalu para petani mendapatkan hasil terbaik. Aku melihat lahan-lahan sawah yang kosong dan gersang. Di beberapa petak sawah masih terdapat tumpukan jerami. Di situlah anak-anak bermain dan berlarian, sementara beberapa yang lainnya menerbangkan layang-layang di tanah lapang.

 Benar kata ibu, kampung ini telah banyak menunjukkan perubahannya. Rumah -rumah penduduk berubah seperti baru. Surau mulai berdinding beton. Sekolah-sekolah dan Pukesmas terlihat megah dengan warna cat yang tampak segar. Tidak hanya Sekolah Menengah Atas, Taman Kanak-Kanak pun sudah ada di kampung ini.  

“Cut Beuleun, kau kah itu?”

Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Lelaki bertubuh tambun itu kegirangan ketika melihat wajahku. “Tak kusangka, anak Yahya sudah sebesar ini sekarang.”

Aku lantas menyambut hangat sapaannya dan menyalaminya meski aku tak ingat betul siapa sosok yang sedang mengajakku bicara. 

“Lihatlah Beuleun. Ayahmu membangun kampung ini dengan sangat baik bukan? Lihatlah bangunan-bangunan itu. Itu semua berkat tangan uletnya.”

Dia berbicara tanpa jeda. Bahkan aku tidak sempat menjawab pertanyaannya. “Ayahmu memang bukan arsitek. Tapi ilmunya berguna di kampung ini. Entah sudah berapa rumah yang ia bangun. Kalau kau pulang, sampaikanlah salamku padanya.”

Setelah puas berceloteh, lelaki itu pamit. Lama aku coba mengingat-ngingat. Perlahan aku berhasil menemukan jawaban, lelaki yang baru saja bicara denganku Geuchiek Man. Sudah bertahun-tahun ia dipercaya memimpin kampung yang gersang ini. Dia tidak berubah,  masih bertubuh tambun.

Ayahku tidak setambun Geuchiek Man. Sekali lagi, aku didera rasa bersalah. Ayahku kurus dengan uban memenuhi kepala. Tubuhnya yang ringkih memikul bersak-sak semen di tengah teriknya matahari. Tak terbayang bagaimana ia menghabiskan waktunya dengan material bangunan yang memerlukan kekuatan seorang kuli itu.

Tubuh ayah tidak sekekar dulu. Di usia yang semakin senja, ia masih bergelut dengan besi baja, pasir, batu gunung dan kerikil.  Pasir-pasir halus yang berterbangan membuat rambut putihnya mengeras. Benda-benda itu membuat lututnya bergetar. Seharusnya, ia tidak lagi mengangkat beban sekeras itu. Seharusnya ia tidak terlalu cepat tua bersama kehidupan yang lebih keras daripada batu. Seharusnya ia duduk di atas kursi sambil membaca kitab atau mengaji. Seharusnya selepas dari surau ia bisa berbincang-bincang lebih lama bersama Ibu di atas kursi rotan di teras. Tanpa harus pergi bekerja pukul sembilan pagi dan pulang menjelang azan magrib.

Malam itu, usai ia mengaji, aku mendekati ayah. “Ayah, bolehkah aku bertanya satu hal?”

“Bukankah aku tidak pernah melarangmu bertanya, Cut Beuleun?” ia balik bertanya.

“Mengapa kau tidak membangun rumah kita menjadi lebih baik. Apakah rumah orang lain lebih utama bagimu?”

“Ayah akan membangun rumah lain untukmu. Sebuah rumah untuk hari esok. Di sini di dekat rumah kita. Itu lebih baik, Nak.”

“Mengapa kau lakukan itu, Ayah?

“Aku hanya ingin kau tahu jalan pulang. Rumah itu yang nantinya akan menanti kepulanganmu, Cut Beuleun.”

Ayah lantas terdiam, sama sepertiku, lalu membuka kitab tuanya. Jarak pun kembali terbentang di antara kami berdua.

* Nanda Feriana, adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Unimal dan Alumnus Sekolah Demokrasi Aceh Utara

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved