Breaking News:

Opini

Kopelma Darussalam, Warisan atau Amanah?

PERINGATAN Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh pada setiap 2 September, awalnya dicetuskan oleh Bapak Pendidikan

Bagaimana dengan Darussalam? Darussalam juga sudah dan akan terus melahirkan cendikia-cendikia yang telah dan akan tetap berbuat banyak untuk rakyat. Namun meminjam istilah Malcom Gladwell, jumlahnya belum cukup untuk menciptakan critical mass yang akan menjadi tipping point (titik-balik perubahan) menuju Aceh yang lebih baik dan lebih sejahtera.

Kita masih harus terus berusaha, misalnya untuk melihat tenaga-tenaga pendidik lulusan Darussalam memberi warna pada dunia pendidikan di Aceh yang perkembangannya belum begitu menggembirakan. Mahaguru yang mengabdi di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP), yang memandang Darussalam sebagai amanah, mereka adalah “bidan-bidan” profesional yang dari didikan dan pembinaan mereka diharapkan lahir tenaga pendidik sejati. Pendidik yang memandang anak didik sebagai pembelajar. Bukan bahan baku layaknya sebuah industri.

Dengan kesejahteraan guru yang terus ditingkatkan pemerintah, sudah selayaknya kita berharap akan lahirnya guru berkualitas. Karena guru berkualitas adalah kunci utama yang menentukan wajah dunia pendidikan Aceh.

Selain itu, kita juga sabar menanti hadirnya tenaga-tenaga medis lulusan Darussalam terus berjuang untuk tingkat kesehatan dan pelayanan kesehatan publik yang lebih baik. Dan, kita masih terus berharap, pakar-pakar ekonomi lulusan Darussalam akan terus berjuang, berada di tengah-tengah rakyat untuk bersama menciptakan ekonomi kreatif yang akan memicu pertumbuhan ekonomi Aceh.

 Angkatan Darussalam
Jika masa titik-balik ini tiba, kita punya cukup kaum cendekia Angkatan Darussalam untuk membawa perubahan, bukan tidak mungkin kita melihat Aceh bangkit seperti Jepang setelah peristiwa Hiroshima dan Nagasaki. Selain menjadi penyambung lidah rakyat, cendikia juga menghadirkan keteladanan. Demikian sepatutunya cendikia di bumi syariah ini hadir, sebagaimana Islam diajarkan oleh Rasulullah saw melalui sosok beliau sebagai teladan yang mulia.

Setiap mahaguru dan staf di lingkungan kampus Darussalam, baik dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) maupun Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, adalah representasi teladan dunia pendidikan. Amanah yang tentunya tidak semudah ucapan. Tidak terbayangkan titik-balik perubahan yang terjadi di Aceh jika setiap insan Darussalam tampil sebagai pelopor perubahan, menjadi teladan di berbagai bidang.

Sebagaimana kita maklum, “saat ilmu pengetahuan melayani iman, lahirlah peradaban” (Salim A. Fillah, 2014). Hadirnya sistem akustik di Masjid Cordova, adalah bukti nyata ketika ilmu pengetahuan diabdikan untuk melayani iman. Tidak terbayang bagaimana para arsitek dan ahli pada masa itu merancang bangunan masjid sedemikian rupa, sehingga ceramah Imam Al Ghazali bisa didengar oleh ribuan muridnya. Padahal pada waktu itu tidak ada sound system atau pengeras suara secanggih saat ini.

Bagaimana dengan Darussalam? Jawabannya terpulang pada setiap kita. Tergantung, bagaimana kita memandang dan menempatkan Kopelma Darussalam, sebagai “amanah” atau “warisan”; melihat Darussalam sebagai “kewajiban dan tanggung jawab” atau sekadar sebuah “hak”.

* Dian Rubianty, SE, Ak., MPA., Fulbright Scholar, tinggal di Banda Aceh. Email: dian.rubianty@gmail.com

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved