Cerpen

Anak Batu

SEMALAM, mertuaku dijerat polisi. Dia dituduh menyodomi anak di bawah umur. Tadi pagi, sebelum sarapan, ibu mertua

Editor: bakri

Karya Masriadi Sambo

SEMALAM, mertuaku dijerat polisi. Dia dituduh menyodomi anak di bawah umur. Tadi pagi, sebelum sarapan, ibu mertua datang tiba-tiba. Butiran  air mata menetes deras dari kelopak matanya yang keriput. Cekungan bening itu meluap, merembes hingga ke pipi.

Sejak menikah dengan istri dan kini memiliki tiga buah hati, mertuaku tak pernah sekalipun menyambangi rumah kami -  pondok yang kami bangun dengan cinta dan kasih sayang. Rumah kami tak memiliki mesin pendingin udara. Jika udara gerah, anak-anakku akan menghidupkan kipas angin seadanya. Rumah kami juga tak memiliki sofa di ruang keluarga. Negara menghargai upahku seadanya. Hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai pendidikan tiga anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sedangkan istriku adalah ibu rumah tangga sejati. Dia menulis dongeng dan membacakannya di telinga anak kami hingga mereka melayang ke udara. Menyambut mimpi-mimpi. Menumbuhkan harapan untuk perbaikan nasib di masa depan.

Ibu mertua menyebutku keras bagaikan batu. Lahir dari bongkahan karang, tak beribu dan berayah. Kalimat ini berpuluh kali diucapkannya. Berulang kali membakar telingaku.

“Dia itu suamiku. Ayah dari istrimu. Sepatutnya kamu membelanya. Meringankan tuntutannya di pengadilan nanti,” raung ibu mertua. Suaranya nyaring ditimpali isak tangis.

Istriku memeluk ibunya. Menenangkan. Aku bergeming. Nuraniku tak bisa menerima perbuatan ayah mertua. Menyodomi anak berusia empat tahun perbuatan yang luar biasa: dilarang agama dan hukum negara.

“Kenapa diam. Aku butuh jawabanmu sekarang. Wajib hukumnya membantu ayah mertuamu,” tegas mertuaku. Usai bicara, ibu mertua buru-buru menyeret kaki, tergesa-gesa menuju pintu, dan sejurus kemudian tenggelam di balik mobil sedan metalik berkilap.

***

Seribuan lebah seakan-akan bersarang di kepalaku. Suara-suara itu mampu memecahkan telingaku. Pagi itu, kutinggalkan rumah ditemani dengung suara lebah di otakku. Sangat berisik dan membuat tidak nyaman.

Kubereskan berkas-berkas perkara. Hari ini tuntutan seorang terdakwa kasus pembunuhan. Si terdakawa menyembelih pacarnya, karena si wanita meminta dinikahi. Dara berambut panjang sebahu dan berkulit hitam itu menghembuskan nafas terakhir bersama jabang bayi berusia dua bulan dalam kandungannya. Artinya, pria berambut gimbal yang duduk di tengah ruang sidang ini mencabut paksa dua nyawa.

Lidahku lancar membaca halaman demi halaman tuntutan. Tuntutan maksimal dihukum mati, minimal penjara seumur hidup. Mendengar tuntutan itu, keluarga terdakwa histeris. Pria berkumis, berjenggot dan berambut gimbal itu pingsan. Polisi dan satuan pengamanan pengadilan membawanya ke rumah sakit.

Usai sidang, 20 panggilan tak terjawab terlihat di layar monitor hpku. Istriku yang memanggil. Sebuah pesan singkat muncul di monitor: harap telepon jika sudah selesai sidang. “Si Razi, si bungsu baru saja di tangkap. Katanya yang nangkap dari kantor Mas. Dia dituduh terlibat korupsi. Padahal, kan dia alim, rajin ibadah, bahkan sesekali jadi imam di meunasah,” suara istriku memburu di seberang telepon.

“Aku belum tahu kasusnya. Nanti aku hubungi lagi. Sekarang aku kembali ke kantor untuk memeriksa kasusnya,” jawabku lemah. Masalah datang dan pergi. Hakikat manusia yang selalu terbelenggu waktu, menyelesaikan masalah dari waktu ke waktu.

Adik iparku terjerat dalam kasus korupsi. Dia menjadi rekanan proyek pembangunan sepuluh rumah ibadah. Menurut timku, dugaan korupsi mencapai Rp 10 Miliar. Sejak awal aku berdoa agar dia tak terlibat dalam kasus itu. Setiap kali kutanya, dia selalu menunjukkan kopiah putih yang melingkar di kepalanya.

“Tak mungkinlah aku korup. Aku ini imam. Tuhan kan menghukumku di dunia dan akhirat jika aku korupsi,” ujar Razi sekali waktu. Kuteliti berkas kasus itu. Dosa adik iparku telak. Tak terbantahkan. Bukan hanya sekadar korup, dia bahkan menyuap salah seorang pejabat teras di kabupaten ini untuk mendapatkan proyek tersebut.

Suara lebah berbunyi lagi di kepala. Seakan mendongkel isi otak, mengisap darah, mengerat batok kepala. Suara itu semakin terdengar keras.

***

“Bagaimana Razi, apa dia ditahan? Lalu bagaimana dengan ayahku. Apa bisa diringankan hukumannya?” Kalimat itu meluncur deras dari bibir mungil ibu anak-anakku. Rambutnya terbuka. Kerudung putih digantungkan di leher. Rambut awut-awutan. Jika panik, dia selalu menggaruk kepala yang tak gatal.    “Razi tak bisa dibantu. Dia menyuap dan mengorupsi dana proyek. Ayah juga tak bisa kubantu. Biarlah mereka menjalani hukuman yang telah digariskan dalam hukum negara dan agama,” jawabku pelan. Kuajak istriku bersila di atas tikar biru muda. Dia meronta. Suaranya pecah. Air mata jernih menetes deras di pipinya.

Tiga buah hati kami terperanjat, berlari ke ruang tamu. Menyaksikan ibunya sesenggukan. Dia memelas, memintaku membantu keluarganya. Meringankan tuntutan di pengadilan. “Meski sejak pacaran hingga punya anak kita tak pernah disetujui orang tua. Tak pernah adik-adikku menghormatimu. Meski dunia runtuh, kali ini, langgarlah sumpah jabatanmu. Tolonglah mereka suamiku. Mereka ayah dan adikku,” pinta istriku setengah bersimpuh.

***

Rumah ini terasa sepi di minggu pagi. Tiga anakku telah kuantar ke rumah ibuku. Mereka akan menghabiskan hari libur panjang usai ujian di sana. Tubuhku menggeliat perlahan. Di luar terdengar ketukan pintu bertalu-talu. Susul menyusul. Seakan tamu di luar sedang melihat hantu dan ingin masuk ke dalam rumah secepatnya.

Kuseret kaki menuju pintu. Tulang-tulangku seakan tak berfungsi pagi ini. Lemah mengunci sekujur tubuh, seakan menghentikan aliran darah. Masih mengenakan piyama warna biru muda kesukaan istriku, kubuka pintu. Empat pria berpakaian kemeja coklat, rambut rapi, dan mobil bak terbuka bertuliskan “POLISI” di sisi kiri-kanan parkir di samping taman. “Silakan ikut kami. Ini surat perintahnya. Kami telah menemukan kantong plastik hitam berisi tubuh istri Anda,’ ujar seorang pria mengenakan jaket kulit hitam.

Dua polisi berbadan tegap mengapitku. Mereka menyampirkan senjata laras panjang di pundak. Ingatanku melayang. Semalam aku membuang sampah di selokan ujung jalan. Dalam plastik hitam. “Aku membuang sampah semalam,” kataku kepada polisi-polisi itu. “Bukan istriku. Jika dia istriku, dia tidak akan meminta aku melanggar sumpahku. Menegakkan keadilan di negeri ini, semua orang sama di mata hukum.”

* Masriadi Sambo, penulis novel Cinta Kala Perang (Quanta-Kompas Gramedia, 2014). Bermukim di  Lhokseumawe.

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved