Cerpen

Pelarian Jali

MALAM bagai jala. Menyebar dan menghimpun kegelapan. Kecuali jangkrik tidak ada fauna lain yang bersuara

Editor: bakri

Karya Salman Yoga S

MALAM bagai jala. Menyebar dan menghimpun kegelapan. Kecuali jangkrik tidak ada fauna lain yang bersuara, semuanya mendekap aliran darah pada urat dan tulang, sebagai tanda kehidupan masih ada. Gulita malam mengintai penghuni kolong jembatan sungai itu, gemericik aliran airnya yang hitam pekat menambah suasana semakin mencekam.

Jali mendekap dinding jembatan yang dibalut lumut. Persembunyiannya begitu melelahkan. Setelah sempat mencelupkan diri dalam selokan di belakang sebuah gedung megah selama berjam-jam, menimbun diri dalam tumpukan sampah-sampah kota seharian penuh, mematungkan diri dalam rerimbunan semak-semak rawa dan kini mendekap di bawah jembatan tua yang rapuh dengan pakaian berlumpur.

Genap lima hari sudah persembunyian Jali. Dalam lima hari itu pula ia telah banyak berpikir tentang diri dan keluarganya, arti sebuah pelarian dan makna tanggungjawab. Lima hari yang melelahkan, yang membuat Jali dewasa dalam kesendirian.

Dari sekian tempat kotor, kumuh dan menjijikkan yang menjadi persembunyianya, hanya di kolong jembatan tua itulah Jali dapat melempar semua kelelahannya. Bajunya kumal dan di beberapa tempat terdapat robekan kecil. Pikirannya melayang kepada Darus, anak sulungnya. Kali ini ia tidak dapat memenuhi janjinya untuk mengembalikan pistol mainan itu. Juga kepada Lena, istrinya yang tengah hamil tua. Dipastikan juga, kali ini Jali tidak bisa mendampingi Lena melahirkan anak kedua mereka.

 Jali tidak dapat memaafkan Mahda. Padahal dalam rencana awal, mereka hanya bermaksud mengambil sejumlah uang. Tidak banyak. Cukup untuk membiayai perawatan istri Jali di rumah sakit.

“Kenapa kau membunuhnya?” tanya Jali kepada Mahda sesaat setelah perampokan itu.

“Aku terpaksa Jal, ia membuka penutup mukaku.”

“Itukan bisa kaututup kembali, mana mungkin ia akan mengenalmu dalam sedetik,” bentak Jali dengan geram.

“Tetapi, tetapi ia juga melawan dan hendak menelpon keamanan,” Mahda beralasan.

“Tapi kau kan bisa menghindar dan merampas gagang telponnya,” potong Jali dengan muka tegang.

“Terlanjur Jal! Tanpa sengaja pisau itu telah lebih dulu kutusukkan ke perutnya,” ucap Mahda sambil menghindar dari ayunan kepal tangan Jali ke arah mukanya.

Setelah pertengkaran itu, Jali tidak pernah bertemu dengan Mahda lagi. Mereka masing-masing berpencar menyelamatkan diri dari sergapan aparat keamanan dan keroyokan orang-orang.

Di tepi kali yang bau; di bawah jembatan papan yang rapuh, Jali merasa seperti menjadi rusa buruan yang pasrah dihantam dan ditembus tombak tajam terasah dengan batu gunung, lalu dilemparkan dari kejauhan. Seperti babi hutan yang dikejar-kejar dan digonggongi anjing-anjing terlatih. Ketakutan dan rasa bersalah memaksa untuk terus berlari sejauh-jauhnya, dan sembunyi sehilang-hilangnya. Tetapi, pelarian ini lebih dari sekedar hukuman.

Dingin udara di bawah jembatan menyusupi setiap pori-pori tangan dan betis. Bau busuk air sungai yang menguap ke udara serasa menembus tiang-tiang jembatan. Aroma bangkai ayam yang tersangkut pada salah satu tiang jembatan bersatu dalam lubang hidung, mengingatkan sebuah cerita beberapa hari yang lalu tentang dua orang lelaki setengah baya yang mempertahankan hidup anak isteri mereka dengan cara merampok.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved