Citizen Reporter
Busana Aceh pada Sport’s Day Event
BEGITU tiba di Bandara Kota Wuhan, Tiongkok, kami disambut hangat oleh volunteer dan staff international
OLEH SRI ENDANG YULIANI, Penerima Beasiswa China Scholarship Council pada Program Magister di Huazhong University of Science and Technology, melaporkan dari Hubei, Tiongkok
BEGITU tiba di Bandara Kota Wuhan, Tiongkok, kami disambut hangat oleh volunteer dan staff international office Kampus Huazhong University of Science and Technology (HUST).
Setelah itu, kami bergegas naik mobil yang akan mengantarkan kami ke Kampus HUST. Saat memasuki pintu gerbang, saya terperanjat melihat hijaunya kampus. Pepohonan besar tersusun rapi mengapit di kedua sisi jalan, bagaikan koridor hijau. Banyak pula bendera dari berbagai negara tergantung di tengah-tengah jalan yang kami lalui.
Hal pertama yang kami lakukan adalah mendaftar ulang di kantor bagian mahasiswa internasional. Saya lihat bendera berbagai negara tergantung di seluruh bagian atas dinding. Poster wajah-wajah mahasiswa asing juga terpampang besar, menggambarkan keberagaman mahasiswa di kampus ini. Saya amati lingkungan sekitar kampus, sama sekali tak ada suara deru mesin. Yang ada, hanyalah lalu lalang sepeda, kendaraan utama mahasiswa dan dosen, sehingga kampus ini dijuluki Kingdom of Bicycles.
Setiap hari kami berjumpa dan bertegur sapa dengan sesama mahasiswa asing. Ternyata, banyak mahasiswa dari belahan dunia yang menuntut ilmu ke Negeri Tirai Bambu ini. Pada tahun 2012 HUST memiliki lebih dari 2.200 mahasiswa internasional dari 120 negara. Berbagai macam negara, berbagai macam pula kata sapaannya. Bagi saya, kata sapaan itu penting untuk diketahui karena orang akan merasa senang bila kita tahu sedikit tentang negaranya. Layaknya artis yang ingin mengadakan konser di berbagai kota atau negara, pastilah ia sudah mempersiapkan kata sapaan dengan idiom lokal agar terlihat akrab dan menyenangkan hati para pendengarnya. Rusia, misalnya, punya sapaan yang khas “Pree-vyet”, Jerman “Gutten tag”, Bulgaria “Zdraveite”, Cekoslowakia “Ahoj”, Georgia “Gamardjoba”, Hungaria “Jo napot”, India “Namaste”, Italia “Ciao”, Jamaika “Yow wah gwan”, Kamboja “Sua s’dei”, Korea “Annyeonghaseyo”, Polandia “Witaj”, dan masih banyak negara lainnya. Sapaan yang tak terdengar asing oleh saya adalah “Assalamualaikum”, diucapkan oleh mahasiswa dari negara mana pun yang beridentitaskan muslim.
Teman saya yang berasal dari Pakistan, Yordania, dan Arab Saudi sempat menanyakan kami berasal dari mana. Ia minta diceritakan tentang Islam di Indonesia karena melihat kami berbusana muslimah. Saya jawab, “Kami dari Indonesia, tepatnya dari Aceh. Tempat kami dilahirkan dijuluki Serambi Mekkah.”
Karena penasaran, ia bertanya lagi, “Kamu menyebut Mekkah, mengapa demikian?” Lalu saya jawab, “Karena Aceh adalah daerah pertama kali Islam masuk ke Indonesia. Dulunya Aceh menjadi pangkalan/pelabuhan untuk warga Indonesia pergi berhaji menuju Mekkah.” Temanku itu terlihat terkesan dan ia katakan ingin mengunjungi Aceh, melihat kota yang mayoritas warganya muslim.
Ada banyak cara untuk memperkenalkan budaya kita di tengah pergaulan dunia. Salah satunya adalah pada acara yang digelar setiap kampus di Wuhan, yaitu Yun Dong Hui atau dalam bahasa Inggrisnya Sport’s Day Event. Acara ini digelar setiap tahun oleh masing-masing universitas. Tujuannya untuk memperkenalkan pakaian tradisional dari asal negara mahasiswa itu sendiri. Ada beragam pakaian adat dan keunikan yang ditampilkan dari ratusan negara. Setiap wakil negara membawa bendera mereka saat mengitari lapangan terbuka.
14 November 2014 lalu, HUST menggelar Sport’s Event Day. Kami sebagai mahasiswa internasional berpartisipasi memperkenalkan pakaian budaya Indonesia, khususnya Aceh. Dinginnya udara Wuhan tak menyurutkan semangat kami mengibarkan bendera Merah Putih. Kami berjalan menuju lapangan bersama mahasiswa asing lainnya dan terlihat keunikan baju yang mereka kenakan. Satu per satu teman saya memperkenalkan pakaian budaya tradisional yang mereka kenakan. Warga Mongolia mengenakan deel, Skotlandia mengenakan kilt, dan rombongan mahasiswa Arab mengenakan thawb.
Setiba di lapangan, kami disambut mahasiswa Tiongkok yang akan mempertontonkan atraksi baris-berbaris. Tribun dipadati mahasiswa Tiongkok yang ingin menyaksikan peragaan pakaian tradisional dari mahasiswa asing sambil melambaikan bendera kenegaraannya.
Hal yang tak pernah saya lupakan adalah ketika orang-orang menghampiri kami untuk foto bersama. Mereka dari Aljazair dan Pakistan. Ia lihat temanku, Zuhri, mengenakan pakaian unik di mata mereka, yaitu Kerawang Gayo. Saya sendiri, Riska Firmanila, Ainul Fitri, dan Pak Gede mengenakan berbagai macam batik, yaitu batik Kalimantan, Bali, dan Yogyakarta. Momen ini kami abadikan bersama mahasiswa asing lainnya.
Hari itu sungguh sangat mengesankan bagi kami semua. Kami bangga mengenakan salah satu pakaian adat Aceh. Saya berharap anak muda Aceh akan terus memelihara budayanya, karena kebudayaan itu adalah identitas suatu bangsa.
[email penulis: uliyeppo@yahoo.co.id]
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |