Cerpen
Rimba Pesakitan
LELAKI itu memimpin di depan. Ia berjalan agak pincang karena kaki kirinya pernah patah
“Ibu permisi dulu ke dalam. Mau tidur duluan.Besok harus bangun pagi-pagi sekali,” kataSekarsebelum bergegas memasuki pondok. Aku juga hendak bangkit. Ingin rasanya merebahkan badan selepas berjalan jauh seharian ini.
“Jupri,”langkahku terhenti kala kudengar Mang Ilman menyebut namaku. “Duduklah sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan.” Aku duduk di atas dipan, di samping Mang Ilman. Ia menghisap rokok daun nipah.
Lama aku menunggu Mang Ilman mengatakan sesuatu. Ia tampak melamun sembari terus menghisap tembakau. Mata sendunya menyipit memandang rembulan. Setelah terbatuk kecil, akhirnya ia bersuara, “Sudah kau temukan rimba yang kau cari itu?”
“Belum, Mang. Bukannya kita mencari bersama-sama?” kataku ragu. Benar bukan? Dia lah seharusnya yang lebih tahu karena ia penunjuk jalanku selama ini.
Mang Ilman menggeleng kuat. “Pikir lebih keras lagi, Jup,” tukasnya sedikit keras. Apa mungkin aku melewatkan rimba itu ketika pikiranku sibuk mengeluh?Aku mengernyit, berusaha memutar ulang segala hal yang terjadi selama tiga hari ini; mencoba mengingat-ingat barangkali ada tempat yang luput dari pandanganku.
“Besok. Kau pulang saja,” jantungku berdegup kencang mendengar Mang Ilman mengusirku demikian. “Tampaknya kau masih belum mengerti,” sergahnya tajam.
Tak ingin ribut, aku hanya mengangguk lesu. Heningnya malam seolah menjadi penentu usainya percakapan kami. Mang Ilman beranjak dari dipan, meninggalkan aku termenung sendiri.
***
Sebulan sudah berlalu sejak terakhir kali aku meninggalkan kediaman Mang Ilman. Sudah kukubur harapan untuk menemukan tempat kemana ayah pergi bertahun-tahun lalu. Pertama kali aku kembali ke kampung, kukira ibu akan memarahiku karena pulang tanpa hasil. Sebaliknya, ibu malah melontarkan senyum maklum. Seolah ibu tahu hal itu mustahil.
Pagi ini, aku berniat berangkat ke sawah sedikit lebih siang daripada biasanya. Kuseruput kopi pahit bertemankan pisang goreng ketika teriakan ibu terdengar, “Jupri!” hampir aku tersedak karena kaget. Belum sempat aku berdiri, sosok ibu sudah muncul di ruang makan. Di tangannya tergenggam sebuah amplop. “Ini ada surat. Katanya kiriman untukmu,” terang ibu.
Kuterima surat itu walau tak yakin. Ibu telah duduk di sebelahku, menungguku membuka surat. “Dari siapa, Bu?” tanyaku.
“Ya ndak tau. Makanya langsung dibaca saja,” perintah ibu tak sabaran.
Ternyata surat itu dariMang Ilman. Dalam surat yang semrawut itu,Mang Ilman menjawab pertanyaanku. Seharusnya aku merasa lega. Namun, aku malah tak puas.
“Dari siapa?” desak ibu setelah bungkam sedari tadi, menungguku usai membaca surat.
“Dari Mang Ilman, Bu. Pria yang membantu Jupri mencari rimba pesakitan sebulan yang lalu.” Ibu juga tampak tak puas dengan jawabanku. “Lalu, apa katanya?”