Film dan Aktivisme Kezele
COBA nyanyikan lagu kebangsaan!”, bentak seorang tentara.Dengan suara terbata-bata laki-laki itu mulai bernyanyi. Keringat
Beda dengan Arifin, Michaele Kezele tidak menjadikan film sebagai propaganda untuk mengukuhkan kekuasaan. Sebaliknya, melalui film ia mencoba meruntuhkan persepsi lama orang Serbia terhadap Albania dan juga sebaliknya. Kezele menyentuh tepat ke inti. Memperbaiki persepsi yang telah diwarnai oleh kebencian.
Sosok Danica tampak seperti cerminan dari Kezele sendiri. Ia bertindak dan mengucapkan kata-kata yang seolah-olah ingin diucapkan oleh Kezele. Bisa dibilang Danica-sekaligus keseluruhanDie Brucke Am Ibar-adalah lidahnya Michaele Kezele. Dan dengan lidah itu Kezele berbicara.
Sebagaimana lidah yang terkadang tak luput dari silap, terdapat beberapa adegan kecil dan sekuen plot yang tampak belum begitu logis.Namun itu tertutup oleh isu aktual dan tugas kemanusiaan yang begitu mewarnai karya Kezele.
Di penghujung film, tampak seorang tetangga mendekati Danica. Ia menghasut kembali. Dan tanpa rasa takut Danica berkata, “Dengan dua anak yang harus kubesarkan, aku tidak punya waktu untuk saling membenci.”
Danica keluar dari keumuman. Ia memilih nurani.
* Putra Hidayatullah, sastrawan asal Pidie. Bermukim di Banda Aceh.
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |