Jumat, 22 Mei 2026

Serambi MIHRAB

Kontroversi Muawiyah

KALAU ada sahabat Nabi saw yang tergolong paling kontroversial, maka itu tidak lain adalah Muawiyah bin Abu Sufyan

Tayang:
Editor: bakri

 Angkatan laut
Mayoritas kaum Muslimin pada saat itu adalah orang Arab. Mereka adalah orang-orang yang tidak akrab dengan laut. Namun, Muawiyah menyadari pentingnya angkatan laut dan di zaman Umar ia mulai membangunnya. Sayangnya, Umar tidak mengizinkan Muawiyah memakai angkatan laut karena ia tidak mau kaum Muslimin habis ditelan laut (karena mereka tidak familiar dengan laut). Angkatan laut baru dipergunakan pada zaman Usman bin Affan untuk membebaskan Cyprus.

Sebagaimana Umar, Usman bin Affan tidak memakzulkan Muawiyah. Ia terus memberi Muawiyah kekuasaan, menjadi Gubernur daerah mayoritas Syam. Ia menguasai daerah yang sangat luas dan telah menjadi gubernur Usman yang paling berpengaruh. Di awal pemerintahan Usman, di Syam ada beberapa gubernur, yakni Muawiyah bin Abu Sufyan, Umair bin Saad al-Anshari (Himsh), dan Alqamah bin Khalid bin Walid (Palestina). Namun, karena Umair sering sakit-sakitan, ia mengundurkan diri dari jabatannya.

Usman pun memberikan Himsh kepada Muawiyah. Setelah itu Alqamah wafat, Usman pun memberikan Palestina kepada Muawiyah. Hal ini membuat Muawiyah menjadi gubernur Syam seluruhnya. Sampai akhir hayat Usman, Muawiyah mengontrol daerah Syam. Pada zaman modern, Syam meliputi Palestina, Yordania, Lebanon, dan Syria. Jadi bisa dibayangkan seluas apa daerah kekuasaan Muawiyah ketika itu.

Pada zaman Usman, Muawiyah cukup banyak melakukan inspeksi militer ke daerah perbatasan daerah kekuasaannya di Syam. Misalnya, ke Anthakiyah dan Tarsus (25 H.), ke Daruliyah (31 H.). Perbatasan yang berbentuk kepulauan ia serahkan penjagaannya kepada Habib bin Maslamah. Muawiyah juga beberapa turun langsung memimpin pasukannya sampai merambah celah bukit di Konstantinopel.

Setelah sebelumnya ditolak Umar, Muawiyah kali ini mencoba meyakinkan Usman untuk memakai angkatan laut demi membebaskan Qubrush (Cyprus). Usman mengizinkannya dengan syarat Muawiyah harus membawa istrinya dan pasukan yang berangkat harus dengan kemauan sendiri. Dalam misi pembebasan ke Cyprus, kekhalifahan berhasil mengumpulkan hingga 1.700 armada kapal.

Muawiyah memang bak bintang bersinar terang pada masa kekhalifahan Usman bin Affan. Sayangnya, di akhir pemerintahannya, Usman menerima cobaan yang berat. Ia, misalnya, dituduh korupsi, boros, mengangkat keluarganya sendiri untuk menduduki jabatan penting, dan sebagainya, sampai akhirnya ia wafat dibunuh dan posisinya digantikan oleh Ali bin Abi Thalib.

Pada masa-masa genting tersebut, Muawiyah tetap setia membantu Usman. Bahkan, saat mendengar berita terbunuhnya Usman, Muawiyah berpidato di depan penduduk Syam. Ia bersumpah akan menuntut balas kematiannya. Benarkan ‘bara dendam’ dan semangat tueng bila ini termasuk kontroversi, yang kerap menyala dan tak pernah bisa dipadamkan sampai sekarang? (dari berbagai sumber/asnawi kumar)

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved