Cerpen
Surat Buat Sahabat di Penjara Seberang
SELAMAT Tahun Baru kami ucapkan padamu, Kawan! Semoga dengan kedatangan surat ini kau bisa mengerti
Cerpen | Iswandi Usman
SELAMAT Tahun Baru kami ucapkan padamu, Kawan! Semoga dengan kedatangan surat ini kau bisa mengerti.Teroboslah lubang walau itu hanya seruas jari, kawan. Mungkin kau masih bisa pulang. Kami berharap, semoga kau bisa paham maksud kami.Mustakim, sahabatku. Sekian lama sudah kita tak bertemu. Semenjak kita tamat SMA kita sudah berpisah, sampai kini kita belum bertemu. Aku merantau ke Kota Raja, Johan tinggal di kampung, sedangkan kau merantau ke seberang samudera menuju Malaya yang kau khayal penuh berkah. Tapi bahaya yang kau dapatkan di sana.
Apakah ruang isolasi yang mengurungmu di sana, sudah membuatmu tak mengerti betapa sakitnya keterpurukan? Sehingga kau lupa pulang ke kampung kita, tempat berjuta kenangan dulu pernah kita ukir bersama Johan, sahabat kita. Ataukah penjara itu telah melumatkan masa depanmu, menyedot keceriaanmu, merampas masa mudamu dengan dekam yang teramat menyengsarakan?
Tentunya kau masih ingat pada Mirna, seorang gadis berparas ayu. Dia yang dulu pernah menambat hatimu. Dia pulalah yang dulu selalu berusahamencerahkan pikiranmu, langit ruang kalbumu yang gelap, pengap, seketika itu berubah jadi benderang. Namun kemudian, entah setan apa yang telah merasuki sukmamu, hingga kau memilih untuk meninggalkan istana menyeberang badai, pergi merantau ke negeri jiran yang begitu asing bagimu. Mirna dan kampung kitapun rela kau tinggalkan. Tepatnya, kau pilih derita ketimbang tulusnya cinta Mirna.
Mirna sekarang sudah menggantikanmu di hatinya, mungkin ia tidak lagi menunggumu, sebagai pacar, sebab sekarang Mirna sudah punya suami dan dua orang buah hati, yang cukup mampu menghapus jejak namamu di hatinya.
Tahukah kau, kawan? Semenjak berita tentang penangkapan seorang kurir dadah di negeri jiran sana terdengar oleh Mirna,bagaikan petir yang menggelegar menyambar harapannya hingga hangus tersambar waktu. Tidak hanya itu, yang paling menyedihkan bagi Mirna adalah berita tentang hukuman pancung yang menjeratmu. Sejak kedatangan berita itu ke telinganya, Mirna jauh berubah, dari periang menjadi pendiam. Ia hanya menangis dan menangis. Sampaimengering air matanya, matanya juga sembab menangisi berita malang yang menimpamu di perantauan sana. Tak sanggup bila Mirna membayangkan,bila saja sakratul maut menjemput rohmu di tiang gantungan. Hatinya begitu hancur. Harapannya seketika itu melebur dan terkubur.
Mirna juga mendengar kabar yang diwartakan pelancong yang pulang. Mereka mengabari bahwa kau telah jadi seorang bandit narkoba di negeri seberang. Mirna terus berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar, meskipun ia tak mempercayai kabar yang diwartakan tentang kau di sana. Namun apa daya, Mirna hanyalah seorang perempuan yang cantik, lembut dan menawan. Banyak laki-laki gagah yang berjuang untuk mendapatkan cintanya, hingga Mirna terpaksa harus memilih seorang laki-laki yang akan menemani hidupnya. Johan, ya, Johan.Sahabat kita jualah yang telah menjadi pilihan Mirna, sebagaipenggantimu di hatidan kehidupannya. Orang yang dulu pernah mengisi hari-harimu dalam persahabatan sejati, kini telah mengisi hari-hari Mirna. Pujaan hatimu yang kau sia-siakan.
Kawan. Bukannya aku membela Mirna dan Johan yang melanjutkan hidup mereka berdua dalam mahligai rumah tangga. Aku juga memata-matai mereka. Memantau hari-hari yang mereka lalui. Kulihat mereka saling mencintai, saling menyayangi, saling menghormati dan menghargai. Kuharap kau dapat merestui pernikahan mereka. Tanpa harus menyalahkan kami bertiga.Mari kita sama-sama mendoakan, semoga orang yang pernah kita sayangi dapat hidup bahagia dunia dan akhirat.
Kami juga di siniselalu mendoakanmu. Semoga kau tegar. Jangan pernah melupan Tuhan. Sebab Tuhan takkan menutup mata. Penjara bukanlah hijab penghalang taubatmu pada Yang Kuasa. Yang paling membanggakan bagi kita Tentang Johan, Kawan,dia kini sudah menamatkan kuliah S2 dengan gelar Megister Pendidikan. Johan telah jadi guru yang diampu dan digugu oleh masyarakat di kampung kita. Mungkin tak lama lagi Johonpun akan segera menamatkan S3. Gemilang bukan?Jadi kau tak perlu meragukan nasib Mirna di tangan Johan.
Oya kawan. Aku hampir lupa. Halimun,kampung kita, pada awal tahun baru ini, diguyur hujan yang hampir saja meluluhlantakkanseisi kampung.. Tapi Mirna dan anak-anaknya telah diamankan oleh Johan ke tempat yang aman. Mereka berempat kini telah berada di puncak Bukit Kurma, tempat di mana kurma tumbuh dan berbuah lebat dan rasanya manis melebihi buah kurma Teluk Persia. Kau tak perlu gundah. Banjir yang melanda kampung kita tidak akan melumatkan Mirna.
Di sini kami selalu sabar menunggu kepulanganmu. Tak pernah berharap hanya namamu yang kembali. Tapi dirimu yang kami butuhkan. Bukan pula kabar buruk yang dibawa para pelancong yang pulang. Kami tak ingin mendengar kabar itu lagi. Kami hanya inginkan kabar tentang keberhasilanmu menerobos jeruji penjara Malaya. Jangan sampai kau mati sia-sia. Jikapun kau harus mati, maka matilah sebagai pemberani. Kami rasa itu jauh lebih mulia dari pada penjara.
Saran kami,jangan lagi kau menunggu mukjizat dari Teungku-Teungku di Dewan Kita. Mereka semua kurasa tak mungkin menghiraukanmu, sebab mereka sendiri telah terbelunggu dengan sumpah. Segeralah kau cari celah. Carilah lubang walau hanya seruas jari. Teroboslah lubang itu. Kau pasti mampu. Kau pasti bebas. Bukankah letusan sebutir pelor yang menyalak pada punggung jauh lebih baik daripada harus tereksekusi di tiang gantungan? Kurang lebih kami rasa begitu. Siapa tahu kau mungkin masih bisa pulang.
Sebelum Johan mendayung sampan menuju bahtera di puncak Bukit Kurma yang indah itu, Mirna juga sempat menitip pesan buatmu. Mirna memintaku dengan linangan air mata, supaya aku menittipkan pesan darinya jika saja aku menuliskan surat untukmu. Mirna menyuruhku menulis tentang matahari merah saga yang sedang tenggelam di balik air laut Teupin Kiyuen. Juga tentang burung-burung camar yang terbang di derunya angin. Suara gitarmu melantunkan memori tentang cinta. Tentang hati yang erat bersatu. Tentang lambaian terakhir kalian, saat kau melepaskan genggaman tanganmu pada ujung jemari Mirna, yang kau biarkan sesak menangisi kepergianmu. Mirna hanya mampu menatap boat penumpang gelap milik calo, yang membawamu menyebrang laut Selat Malaka. Sejak saat itu pula, Mirna membungkus rapi tiap kenangan yang ada diantara kalian berdua. Mirna juga menutup pintu hatinya untuk semua cinta. Menanti kau kembali merupakan hal terindah yang pernah Mirna miliki.
Jika saja suatu saat kau berhasil menerobos lubang seruas jari itu dan kembali pulang kekampung, Mirna juga memintaku supaya membawamu ke Bukit Kurma. Ia ingin mengobati rindunya yang berkabut, setelah bertahun-tahun ia pendam. Mungkin hanya sebatas sahabat, bukan lagi sebagai kekasih. Mungkin juga Mirna ingin mengenalkanmu pada sepasang anaknya yang lucu dan manja.
Sebelum surat ini kuakhiri. Izinkanlah aku untuk menceritakan sedikit tentang impian dan cita-citaku yang dulu pernah kuceritakan padamu kala kita masih duduk di bangku SMA.
Aku yang dulu sangat ingin menjadi seorang polisi terpaksa harus mengurungkan niat. Sebab api peperangan antaradua kubu serdadu yang berseberangan ideologi di negeri kita begitu parah merajalela. Aku yang tak mau terbakar mencoba melarikan diri dan segera menyembunyikan cita-cita itu ke liang kubur. Dan aku menguburkan cita-cita itu rapat dengan tanah. Aku hanya tak mau keluargaku terkena imbasnya. Aku juga kerap menyaksikan kebengisan yang dilakukan oleh para serdadu yang sedang bertikai kala itu. Orang-orang kampung kita banyak yang menjadi korban. Mereka kejam, sadis dan tak berperi-kemanusiaan. Pernah juga kudengar kalimat-kalimat entah dari siapa yang menginginkan orang-orang di kampung kita hidup jadi arang dan mati jadi abu.Mereka tak mengharapkan orang-orang kampung kita. Mereka hanya menginginkan tanah di kampung kita. Aku tak mau jadi seperti mereka. Aku masih takut pada murkanya Tuhan. Oleh sebab itu pulalah aku memutuskan untuk jadi petani sawah. Lebih baik mengurus padi di sawah dari pada harus meminum darah dan tunduk pada perintah atasan yang beringas. Bukan maksudku untuk mengungkit kepedihan, Kawan. Namun begitulah ceritanya.