Minggu, 12 April 2026

Citizen Reporter

Hutan Beton Kepung Baitullah

SEPERTI tertera dalam sejumlah buku sejarah, awalnya Kota Mekkah Almukarramah terletak di lembah

Editor: bakri

OLEH Hj NUR ASIAH IBRAHIM, Mutawwif (Pembimbing) Umrah asal Banda Aceh, melaporkan dari Mekkah Almukarramah

SEPERTI tertera dalam sejumlah buku sejarah, awalnya Kota Mekkah Almukarramah terletak di lembah. Dengan demikian, posisi Kakbah atau Baitullah dapat dilihat dari bukit-bukit yang ada di sekelilingnya.

Posisi Kakbah yang dapat kita lihat dari sekeliling bukit yang mengitarinya itu adalah cerita zaman dulu, ratusan tahun silam. Kini, bukit-bukit di sekeliling bangunan yang pertama kali didirikan Nabi Ibrahim itu telah penuh ditumbuhi hutan beton menjulang ke langit.

Di sekeliling Masjidil Haram begitu banyak gedung jangkung. Hotel berbintang dan mal didirikan tidak sampai jarak 100 meter dari pintu bangunan masjid suci yang mulia itu.

Pokoknya, kini Masjid Haram di mana bangunan Kakbah berada di dalamnya seperti dikepung hutan beton. Inilah amatan dan perasaan saya ketika menatap lamat-lamat suasana mutakhir di sekeliling Baitullah dari Hilton Hotel yang berjarak 50 meter dari dinding Masjidil Haram, tempat kami menginap selama umrah di Mekkah.

Bukit-bukit batu yang dulu dijejaki oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya, kini dihancurkan untuk pembangunan hotel-hotel bertaraf internasional. Banyak bangunan yang sekarang muncul di sekeliling Masjidi Haram justru belum ada dua atau tiga tahun lalu.

Pembangunan besar-besaran di Haram Alsyarif--sebutan bagi Kota Mekkah--ini luar biasa pesatnya, bahkan tanpa mempertimbangkan  keberadaan dan kesinambungan sejumlah situs sejarah Islam di sini. Sejumlah situs sejarah telah punah dan terbenam oleh bangunan pencakar langit yang diinisiasi penguasa Mekkah. Situs-situs sejarah yang kita baca dalam Sirah Nabawiyah, saat ini sebagiannya sulit kita dapati lagi di sekitaran Masjidil Haram.

Salah satunya adalah Baitul Mawlid. Baitul Mawlid adalah nama lain dari kubah dan atap rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan. Begitu juga dengan Jabal Qubais, tempat Nabi Ibrahim menyerukan umat manusia agar berhaji. Kini di atasnya telah didirikan Istana Raja Arab.

Melihat maraknya pembangunan gedung pencakar langit di sekeliling Masjidil Haram, wajar saja bila jamaah haji dan umrah bertanya, apa sebenarnya latar belakang yang mendorong Kerajaan Arab Saudi  “memagari dan mengucilkan” Masjidil Haram dengan hotel berbintang dan mal, serta bangunan jangkung lainnya?

Memang sangat menyenangkan, mondar-mandir dari penginapan ke Masjidil Haram. Bisa jalan kaki, ngopi dulu, lalu kembali untuk shalat di sekitar Kakbah. Tapi apa benar dan sudah tepat hanya dengan cara   demikian kemudahan dan kenyamanan dapat diberikan kepada  dhuyufurrahman atau para tamu Allah itu?

Padahal jika yang diinginkan adalah kemudahan dan kenyamanan agar  jamaah cepat sampai dan mudah mengakses Masjidil Haram dari penginapan, mungkin bukan itu solusinya. Tapi Pemerintah Arab Saudi dapat mengupayakan moda transportasi yang memadai, representatif, nyaman, dan modern. Ini sangat mungkin dilakukan mengingat cadangan devisa Saudi Arabia sangat besar yang bersumber dari  eksplorasi minyak serta sumbangan devisa dari jamaah seluruh dunia  yang datang tiada henti setiap waktu.

Sambil rehat di lobi Hilton Hotel, saya sempat berpikir, untuk kepentingan masa depan dan keagungan Baitullah, apakah sudah tepat kebijakan Pemerintah Arab Saudi membangun hotel dan mal yang sangat mepet dengan Baitullah dan Masjidil Haram?

Saat berada di lantai tertinggi hotel bintang lima itu, betapa hati saya sangat teriris melihat Kakbah menjadi benda kecil dan sangat kecil dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit yang megah.

Dari Kakbah yang menjadi kecil dibanding gedung-gedung sekitarnya itu, kini dengan mudah kita mengakses mal-mal, hotel berbintang, serta pusat perdagangan lainnya yang ada di sekeliling Masjidil Haram. Begitu dekatnya, sehingga jika Anda berada di sisi Baitullah, Anda akan melihat gedung-gedung dan tiang-tiang pancang yang tinggi mengelilingi masjid nan mulia ini.

Apakah gedung-gedung yang terlalu dekat mengepung Baitullah itu tidak mengundang risiko? Soal air, misalnya, tidakkah air sumur Zamzam akan tersedot untuk kebutuhan hotel dan mal? Atau apakah fasilitas hotel berbintang dan mal yang begitu dekat dengan Masjidil Haram tak akan mengakibatkan air sumur Zamzam berpotensi  terkontaminasi atau tercemar oleh air kotor (air tinja dan lainnya) yang bersumber dari toilet hotel berbintang dan mal yang ada di sekeling masjid? Pemerintah dan ulama Arab tentu telah memiliki pertimbangan khusus. Tapi sebagai bagian dari umat, saya cuma khawatir saja.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved