Citizen Reporter
P Ramlee, Putra Pelaut Aceh Kebanggaan Malaysia
KALI ini saya berkesempatan mengunjungi Penang Island, sebuah pulau kecil Malaysia yang berdekatan dengan Pulau Sumatera
OLEH MALAHAYATI, alumnus MUQ Langsa 2010, Mahasiswi S1 Kesehatan Masyarakat di Helvetia Medan, Sumut, melaporkan dari Malaysia
KALI ini saya berkesempatan mengunjungi Penang Island, sebuah pulau kecil Malaysia yang berdekatan dengan Pulau Sumatera. Pulau ini menjadi salah satu tujuan wisata dan boleh dikata sebagai rumah sakitnya orang Indonesia. Ya, Penang memang memiliki hospital (rumah sakit) besar dengan berbagai dokter spesialis. Saya sendiri berkunjung dalam rangka berobat dan ternyata hospital-nya memang dipenuhi orang Indonesia, terutama dari Aceh.
Namun, yang ingin saya bahas di sini, bukan soal pengobatan itu, melainkan tentang seorang bintang ternama kebanggaan Malaysia yang telah melahirkan berbagai macam karya, baik novel, lagu, maupun film. Dia justru putra Aceh. Siapa lagi, kalau bukan P Ramlee.
Cerita ini saya awali ketika mobil carry ‘90-an yang saya tumpangi melaju dari Jalan Tan Sri Teh Hwe Lim menuju bayan lepas Tnb Pangsipuri, tempat saya menginap. Kebetulan paman saya tinggal di kawasan ini.
Siang itu cuaca di Pulau Penang sangat terik. AC di mobil sudah dinyalakan, tapi tetap saja keringat saya sesekali berjatuhan dan rasa lelah masih bertakhta di sekujur tubuh. Maklum, saat itu saya baru habis konsultasi dengan dokter di salah satu hospital.
Melewati Butterworth, mobil carry tua yang dikemudikan paman saya berhenti tepat di persimpangan jalan. Dengan mata sayu saya mendelik ke luar jendela. Pandangan saya tertuju pada papan penunjuk arah yang bertuliskan rumah Pak Ramlee. Sekali lagi saya baca tulisan yang tertera pada petunjuk arah itu. Sontak saya menanyakan pada paman yang kebetulan berkewarganegaraan Malaysia. Benar saja, rumah itu adalah rumah P Ramlee yang saya kenal namanya dari film Upin dan Ipin. Letaknya di Jalan P Ramlee 10460 Pulau Penang, Malaysia.
Saya ajak paman untuk singgah ke rumah tersebut. Sesampai di kompleks rumah ini rasa kagum menyelimuti saya. Rumah itu terlihat sederhana, tapi dirawat dengan sangat baik. Rumahnya tipe panggung, tipe yang banyak terdapat di tanah kelahiran saya, Aceh. Rumah itu terbuat dari papan kayu beratapkan daun rumbia.
Beberapa jendela menghiasi setiap dindingnya. Bagian bawah rumah itu sudah diberi lantai keramik. Terdapat kursi panjang di sana, juga sebuah sepeda ontel tua yang lucu dan sebuah sampan milik P Ramlee. Kondisinya masih sangat bagus dan terawat.
Yang paling saya sukai di sini adalah tamannya yang dihiasi aneka bunga. Rerumputannya pun tertata rapi.
Lalu saya naiki tangga rumah panggung itu. Saya takjub menyaksikan bagian dalam rumah sang legendaris kebanggaan Malaysia ini. Di ruang depan, terpajang dua buah foto hitam putih. Ada hal yang membuat saya paling surprise, yakni teks (caption) di bawah foto hitam putih itu, tertulis nama Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh, dilahirkan 22 Maret 1952 pada pagi raya Idul Fitri.
Nama itu diawali dengan ‘Teuku’, gelar bangsawan yang justru banyak terdapat di Aceh. Tak salah lagi, artis kenamaan Melayu ini adalah seorang putra asli Tanah Rencong. Ayahnya berasal dari Aceh Utara, yaitu Teuku Nyak Puteh bin Karim, seorang pelaut. Maksud pelaut di sini adalah nelayan antarpulau, bahkan antarnegara.
Bagian dalam rumah ini tak jauh beda dari rumah adat Aceh. Sebuah ranjang tua berkelambu halus terduduk manis di kamar P Ramlee. Rak tua yang dijejeri cangkir dan piring kuno juga tersusun cantik di dapurnya.
Karya P Ramlee sendiri sudah tak terhitung lagi banyaknya. Selain pelawak, produser, aktor film, penyanyi, dia juga penulis lagu dan komposer yang melahirkan banyak karya, seperti Bujang Lapok, Madu Tiga, Laksana Bulan, Hang Tuah, dan masih banyak lagi.
Berbagai penghargaan juga telah diraihnya, antara lain, Best Music Score and Best Supporting Actrees Zaiton dalam film Hang Tuah pada Festival Film Asia yang ketiga di Hong Kong. Ini yang mendapuknya sebagai “bintang Asia dari Aceh”.
Tak jauh dari foto beliau yang terpajang di dinding, ada sebuah biola terbungkus di dinding rumah. Ada rasa haru dan bangga saat memandang lamat-lamat foto dan biola tersebut, milik seorang legendaris berdarah Serambi Mekkah yang telah menghasilkan selaksa karya dan namanya masyhur se-Asia. Saya merasa beruntung, karena sudah sampai ke rumahnya.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |