Selasa, 12 Mei 2026

Ali Hasjmy, Sie Reboh, dan Meudagang

Perhatikan, bagaimana kalutnya mereka dengan perbatasan Aceh dan Sumatera Utara, yang dipahami oleh Ali Hasjmy sebagai sesuatu yang di luar Islam

Tayang:
Editor: Amirullah
net
Prof. Ali Hasjmy (mantan Gubernur Aceh periode 1957-1964) 

SERAMBINEWS.COM - Resah saat memasuki wilayah perbatasan Aceh-Sumatera Utara, rupanya bukan kali ini saja dirasakan warga Aceh. Jauh sebelum kebiasaan razia polisi perbatasan yang cukup merepotkan pengendara mobil, kesan tidak bersahabatnya perbatasan bagi orang Aceh juga tertulis dalam catatan seorang Ali Hasjmy, tokoh Aceh yang menulis banyak buku.

Lain dulu lain sekarang, Ali Hasjmy dan mungkin orang sezamannya, berfikir, sulit mendapat makanan halal saat memasuki Sumatera Utara. Ali Hasjmy menulis sebagai sesuatu wilayah yang di luar Islam, akan sulit ditemukan makanan halal. “…sie reboh (daging masak pedas yang tahan lama), sie balu dan lain-lain bahan makanan. Hal ini karena ada berita bahwa di daerah Tapanuli sukar mendapat warung/restoran Islam” demikian tulisnya.

Keresahan Ali Hasjmy ketika itu, tidak jauh berbeda resahnya para pengendara Aceh saat memasuki perbatasan Sumatera Utara.

Sebuah esai tentang ini dikemas ulang oleh Alkaf Muchtar Ali Piyeung dalam blognya www.bung-alkaf.com. Penulis produktif yang menukil ulang catatan-catatan Ali Hasjmy ini, cukup memberi informasi bagi generasi Aceh masa kini tentang semangat mencari ilmu dan bagaimana sesungguhnya merancang masa depan Aceh yang gemilang. Alkaf sendiri, bergiat pada Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy (YPAH).

Berikut narasinya tentang bagaimana, generasi Aceh ketika itu menyiapkan diri membangun negerinya kelak;

Masih segar dalam ingatan saya, bahwa "bus carteran" yang membawa kami dilengkapi dengan periuk, belanga, panci, beras, keumamah (ikan kayu), sie reboh (daging masak pedas yang tahan lama), sie balu dan lain-lain bahan makanan. Hal ini karena ada berita bahwa di daerah Tapanuli sukar mendapat warung/restoran Islam. Demikianlah sepanjang jalan pada waktu-waktu makan kami berhenti/istirahat untuk mendapur/memasak dan kemudian tentunya makan bersama. Suatu kenangan yang indah sekali. Oleh Teungku Syekh Ibrahim Ayahanda! Kami tidak dimasukkan dalam satu madrasah/sekolah, tetapi ditebarkan ke berbagai madrasah/sekolah. Ada yang dimasukkan ke Perguruan Muslim Bukittinggi, MKI (Moderne Islamic Kweschool), Bukittinggi, Madrasah Thawalib Parabek (dekat Bukittinggi), Madrasah Thawalib Padang Panjang, I.N.S (Indonesche National School) Kayutanam (dekat Padang Panjang). (Ali Hasjmy, Semangat Merdeka: 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan Kemerdekaan, hal; 47-48).

SIE REBOH adalah makanan yang awet, dapat bertahan berbulan-bulan. Dan apabila dagingnya telah mengeras, maka makanan itu bisa dipanaskan kembali, dan dapat dimakan seperti baru saja selesai dimasak.

Sie reuboh selalu saja hadir menjadi makanan wajib dalam masyarakat Aceh Besar setiap hari Mak Meugang baik dalam menyambut bulan suci Ramadhan, dan dua hari raya, Syawal dan Haji. Sie Reboh tidak sembarang pula memasak. Sebab cuka-nya, biasanya disebut cuka ie jok sebagai bahan utama selain kunyit, pun harus istimewa karena didatangkan dari Montasiek, Aceh Besar.

Dan bagi orang Aceh Besar, menyantap menu sie reboh memiliki tantangan tersendiri, sebab kenikmatannya berbanding lurus dengan usaha keras untuk mencuci tangan yang penuh dengan sisa gapah (lemah putih) dan membutuhkan perjuangan membersihkanya.

Dalam konteks kebudayaan Aceh, terutama Aceh Besar, sie reuboh tidak sekadar masakan. Terutama bagi yang sedang meudagang (merantau dalam mencari ilmu), peranan masakan itu besar sekali. Selain untuk terus dapat menyantap hidangan secara layak, walau sedang dalam usaha menuntut ilmu seperti juga yang pernah saya alami, terutama sekali dalam merawat ingatan akan kampong halaman, sehingga pantas Ali Hasjmy pun menuliskan kenangannya seperti di atas.

Saya ikut membayangkan, bagaimana sengitnya perjalanan darat generasi baru Aceh tersebut, ke Sumatera Barat untuk menuntut ilmu, sebagai wujud kebangkitan kehancuran akibat perang dengan Belanda. Dan sie reboh, seperti pengakuan Hasjmy di atas, telah memberikan jasa yang tak terkira.

Sebagai pemuda yang baru pertama meninggalkan tanah leluhur, Ali Hasjmy dan juga teman seangkatannya, tentu saja merasakan sensasi yang tidak biasa. Karena bagi mereka, perjalanan itu tidak hanya sebuah pekerjaan fisik, yaitu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Melainkan juga sudah dibayangi kesadaran bahwa mereka akan berjumpa dengan sesuatu hal di luar kebudayaan mereka sebelumnya, yang tentu akan sangat berbeda.

Perhatikan, bagaimana kalutnya mereka dengan perbatasan Aceh dan Sumatera Utara, yang dipahami oleh Ali Hasjmy sebagai sesuatu wilayah yang di luar Islam, sehingga nantinya akan sulit ditemukan makanan halal. ".sie reboh (daging masak pedas yang tahan lama), sie balu dan lain-lain bahan makanan. Hal ini karena ada berita bahwa di daerah Tapanuli sukar mendapat warung/restoran Islam" demikian tulisnya.

Akan tetap rasa kalut itu, cepat pula sirna, setelah mereka sampai ke tanah Sumatera Barat, yaitu ketika Hasjmy menerima sambutan dari Mudir Al Jamiah Al Islamiyah, Muhammad Yunus, di depan pelajar dari Aceh "Sudah menjadi Sunnah Allah, tidak ada yang tetap di dunia imi. Di masa lalu, Aceh menjadi Pusat Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Islam: di waktu mana pemuda-pemuda Minangkabau pergi menimba ilmu ke sana. Sekarang sebaliknya, pemuda-pemuda Aceh datang merantau ke Minangkabau untuk menuntut ilmu" (Hasjmy, 1984: 45).

Di tanah Sumatera Barat-lah, para pemuda Aceh belajar dan kembali menemukan rasa percaya dirinya sebagai satu bagian dari masyarakat dunia yang terhormat. Dan dimulai-lah satu usaha pembebasan, satu usaha penyadaran. Menjadi baharu kembali.

Pengalaman Ali Hasjmy di atas menunjukkan betapa gelombang angkatan dari kelompok inteligensia baru di Aceh tumbuh dengan sangat subur, dengan memanfaatkan jaringan pendidikan modern, baik di Sumatera Barat, kemudian juga di Timur Tengah. Melalui jaringan pendidikan aliiran modernis demikian, maka pembaharuan di bidang agama dan politik dapat dilakukan melalui pendirian lembaga-lembaga pendidikan Islam modern, seperti Jaddam, MIM Lampakuk, Normal Islam Bireuen dan lain-lain. Secara politik-pun, kebangkitan dari kelompok inteligensia ini juga yang mendorong lahirnya Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang memang sangat memiliki pengaruh dalam reformasi pendidikan modern di Aceh, salah satu prestasinya adala dengan membangun sebuah sekolah guru, yang dinamakan Normal Islam School.

Selepas menyelesaikan pendidikan tahap awal di Sumatera Barat, Ali Hasjmy kemudian menjadi guru di Perguruan Islam Seulimeum, lembaga ini pun kemudian juga diisi oleh tokoh intelegensia lainnya yang kemudian memiliki peran besar dalam revolusi sosial berikutnya di Aceh, yaitu Ahmad Abdullah dan Said Abu Bakar (Remantan, 1985: 241). Perguruan Islam Seulimeum ini-lah yang kemudian menjadi pelopor pengusiran Belanda dari Aceh melalui serangan menjelang tengah malam yang menewaskan Controleur JC. Tiggelman. Peristiwa penyerangan ini kemudian, tidak menjadi tonggak keluarnya Belanda dari dan masukknya Jepang ke Aceh, menjadi tonggak peran Ali Hasjmy dalam pergerakan politik di Aceh di kemudian hari dengan menjadi pemimpin Lasykar Rencong, sebuah divisi militer Pesindo Aceh yang memiliki peran besar sekitar tahun 1945-1949 (Hasjmy, 1995: 164-172).

Akhir kata, narasi singkat di atas, melalui jaringan pengetahuan yang oleh generasi Ali Hasjmy telah membuat Aceh kembali bangkit, setelah porak poranda akibat perang kolonial. Bahkan melalui penataan di bidang pendidikan serta agama, sosial dan budaya, kita dapat melihat Aceh yang selalu bersiap melalui setiap perubahan yang ada. Dan tidak disangka, sie reboh-pun ikut menjadi saksi sejarah panjang ini!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved