Kamis, 30 April 2026

Citizen Reporter

Berburu Giok hingga ke Negeri Cina

GIOK Aceh telah sanggup menggemparkan pasar batu mulia di Indonesia, namun dari segi pemasaran masih kalah

Tayang:
Editor: bakri

OLEH IBNU SA’DAN MPd, Kepala Biro AUAK IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, melaporkan dari Beijing, Cina

GIOK Aceh telah sanggup menggemparkan pasar batu mulia di Indonesia, namun dari segi pemasaran masih kalah dibanding Cina. Kami tiba di Beijing, Cina, hari Sabtu (25/4) lalu setelah menempuh perjalanan enam jam dari Kuala Lumpur, Malaysia, lalu dibawa keliling kota oleh tour leader (TL) mengunjungi tempat-tempat bersejarah di ibu kota Cina tersebut.

Pada Ahad (26/4) kami mengunjungi pusat penjualan batu giok di Jin Si Wei, Distrik Chang Ping County, Beijing. Di dalam gedung yang sangat luas tersebut, semuanya berisi outlet perhiasan terbuat dari batu giok. Kami kagum dengan kemampuan orang Cina mengolah batu dalam berbagai bentuk.

Kalau di Aceh giok identik dengan cincin, di Cina tidak demikian, karena aneka perhiasan dapat kita jumpai dengan ukiran yang sangat rumit. Misalnya, dalam bentuk naga, bola berlapis (smiling ball) di mana batu diolah menjadi bola, lalu di dalam bola itu ada bola kecil hingga sembilan lapis. Giok juga dibentuk menjadi aksesori wanita dan pria, alat refleksi, sumpit, bunga, patung, gelas, guci, meja, dan lain-lain.

Di salah satu bagian gedung tersebut juga terdapat tukang yang sedang mengasah batu giok dalam berbagai bentuk. Kemampuan Cina mengolah giok dalam berbagai model perhiasan telah membuat pengunjung tak bisa “mengelak” untuk membeli batu mulia tersebut karena semua pilihan telah tersedia, meski harganya agak mahal.

Tour leader kami dalam perjalanan tersebut adalah seorang wanita Cina bernama Pan Guang Mei alias Emi. Ia sudah lancar berbahasa Melayu/Indonesia dengan logat khas Cina. Menurutnya, pusat showroom giok tersebut adalah milik pemerintah yang menjadikan giok sebagai salah satu objek kunjungan wisatawan untuk berbelanja souvenir. Dalam hal ini, pemerintah memfasilitasi.

Yang menarik adalah penggiringan dari tour leader untuk berbelanja di tempat itu, sehingga di halaman gedung terlihat banyak bus pariwisata parkir menunggu penumpang yang sedang berbelanja.

Penataan outlet yang rapi dan modern menjadi daya tarik tersendiri. Sebagian penjaga counter malah bisa berbahasa Indonesia. Ada juga yang menulis informasi dalam bahasa Indonesia, menandakan tempat ini banyak dikunjungi wisatawan dari Indonesia. Hal itu dikuatkan dengan banyaknya uang rupiah di antara uang negara lain dalam celengan yang ditempatkan di depan patung dari giok yang terletak di pintu masuk bangunan tersebut.

Tour leader di Beijing begitu semangat dalam mengantar wisatawan untuk mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan, karena mereka akan diberikan fee oleh penjual jika pengunjung berbelanja di tempat mereka. Di sini tour leader bisa menjadi corong informasi kepada penjual untuk mempromosikan barang mereka.

Kesan lain begitu kami tiba di Beijing adalah penataan kota yang rapi dan bersih. Kota Beijing yang dihuni 20 juta penduduk dengan 4 juta unit mobil, jutaan sepeda motor, dan sepeda dayung, tentu terbayang kesemrawutan di mana-mana. Namun kenyataannya, Kota Beijing terlihat rapi, tertib, bersih, dan nyaman.

Di semua jalan protokol terdapat jalur sepeda dan pejalan kaki, tong sampah juga tersedia di tempat-tempat umum, tidak ada penjual di sepanjang jalan utama yang dapat mengganggu lalu lintas, di semua ruas jalan ada taman kota, dengan pohon dan bunga yang tertata rapi.

Menariknya, di pusat keramaian yang kami kunjungi banyak pedagang yang bisa berbahasa Indonesia dengan logat Cina. Mereka menawarkan barang kepada setiap orang yang lewat, begitu melihat wajah melayu/Indonesia, mereka akan berbahasa Indonesia, misalnya, menyebut harga barang, “Sepuluh yuan, lima yuan.”

Tapi di tempat yang jarang dikunjungi wisatawan, kita akan kesulitan berkomunikasi karena mereka rata-rata hanya bisa berbahasa Mandarin. Satu lagi kendala saat jalan-jalan di Cina adalah toilet, karena toilet di sini hanya menyediakan tisu, tidak menyediakan air untuk mencuci saat buang air besar dan kecil, kecuali di tempat-tempat muslim, seperti restoran muslim dan masjid.

Kami juga mengunjungi pusat penjualan batu kristal di Golden Palace, Distrik Chang Ping County, Beijing. Di sini terdapat aneka perhiasan kristal, tidak kalah dengan varian yang dihasilkan dari giok. Malah di dalam gedung tersebut terdapat bola kristal terbesar di dunia seberat 42 kg berbentuk bulat berwarna merah.

Dari segi harga, perhiasan kristal di sana juga masih tergolong mahal, apalagi jika dibandingkan dengan pusat penjualan kristal Ashfur di Kairo, Mesir.

Di lantai tiga gedung tersebut terdapat restoran muslim yang juga menyediakan mushala untuk shalat. Seusai makan siang kami shalat jamak qashar yang juga diikuti beberapa muslim dari Xinjiang, Cina.

Sejak ribuan tahun lalu, Cina merupakan sebuah emperium yang bertahan dan memengaruhi dunia hingga saat ini, maka wajar ada seruan: belajarlah hingga ke negeri Cina.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved