Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Pengalaman Berhaji Lewat Darat

SEJAK akhir 2014 lalu saya diberi kesempatan menjadi salah satu dari dua mahasiswa yang mewakili Indonesia untuk mengikuti

Tayang:
Editor: bakri

OLEH ENRI MAULIDI RUSLI, Mahasiswa PBA UIN Ar-Raniry Banda Aceh, sedang menempuh program “International Non-Degree Scholarship” di Kuwait University, melaporkan dari Mekkah

SEJAK akhir 2014 lalu saya diberi kesempatan menjadi salah satu dari dua mahasiswa yang mewakili Indonesia untuk mengikuti program beasiswa nongelar tingkat internasional di Kuwait University. Bermula dari situlah perjalanan demi perjalanan spiritual yang akan saya kisahkan ini dimulai.

Sungguh sangat menyenangkan bisa mendapat kesempatan menimba ilmu di negara kaya minyak ini. Selain mendapatkan beasiswa penuh, seluruh kebutuhan hidup dan studi kami ditanggung oleh negara. Kami juga difasilitasi untuk melaksanakan ibadah umrah gratis, bahkan haji. Pendeknya, pelajar sangat diistimewakan di negara ini.

Perusahaan besar setiap tahunnya banyak yang menginfakkan sebagian pendapatannya untuk mendanai umrah para pelajar. Tak heran bila dalam setahun setiap pelajar bisa mendapatkan kesempatan berangkat ke Tanah Suci sampai tiga kali.

Sebagai pelajar luar Kuwait, kesempatan emas ini tidak akan pernah kami sia-siakan, mengingat tingginya biaya umrah dari Indonesia. Perjalanan umrah kami kali ini didanai oleh Fakultas Syariah Kuwait University. Sebagaimana biasanya, ketika pengumuman umrah telah disebar, seluruh pelajar yang berminat bergegas mendaftarkan diri kepada panitia dengan membawa segala berkas untuk pengurusan visa. Beruntungnya, semua yang mendaftar diberangkatkan ke Tanah Suci tanpa melalui seleksi.

Yang berangkat seluruhnya 120 orang, pelajar dari berbagai negara. Walaupun warna kulit, bahasa, karakter, dan asal negara berbeda, tapi kami sudah saling kenal dan kompak. Ibaratnya, kami sebuah keluarga muslim yang punya satu cita-cita yang sama, yakni ingin memenuhi panggilan Ilahi Rabbi. Dalam berkomunikasi, kami juga memiliki bahasa pemersatu, yaitu bahasa Arab.

Saya sangat senang dan bersyukur ketika mengetahui bahwa perjalanan kali ini menggunakan jalur transportasi darat alias naik bus. Bagaimana tidak, bagi saya ini merupakan tabungan pengalaman baru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Seketika itu pula terbayang dalam benak saya betapa indahnya pengalaman menyusuri daratan Arabia yang dikelilingi padang pasir gersang dan dihiasi pohon-pohon kurma di sepanjang perjalanan.

Jarak tempuh dari Kuwait ke Mekkah Almukarramah menggunakan transportasi darat adalah 1.363,42 km. Butuh waktu 20-24 jam perjalanan untuk sampai ke sana. Demi kenyamanan para pelajar dalam perjalanan, tim pelaksana sudah menyiapkan tiga bus kelas eksekutif dengan fasilitas lengkap. Setiap bus mengangkut 35 pelajar, lima panitia, seorang musyrif (pembimbing), dan seorang syaikh (ustaz) yang selalu setia membimbing, menasihati, dan mengarahkan kami tata cara pelaksanaan ibadah umrah yang baik dan benar sesuai sunah Rasulullah saw.

Ada tradisi berbeda yang saya dapatkan di sini, yaitu tradisi menjadikan perjalanan jauh suatu hal yang sangat menyenangkan. Para panitia yang juga terdiri atas pelajar-pelajar senior sudah menyiapkan beragam agenda yang akan diperlombakan di dalam bus. Di antaranya, cerdas cermat seputar ibadah umrah dan kebudayaan Islam, pembacaan syair Arab, pidato, dan lain sebagainya. Karena perlombaannya antarkelompok, panitia juga mengatur posisi duduk kami per kelompok. Ketua kelompok menjadi figur penting untuk menciptakan kekompakan di antara anggotanya.

Sepanjang perjalanan kami diasyikkan dengan acara demi acara yang disuguhi panitia. Ada kalanya kami juga tidur, mendengarkan ceramah syaikh, dan berhenti sejenak untuk makan dan shalat. Saat makan, kami juga berkelompok. Ketentuan kelompok ini terus berlaku sampai kepulangan nanti.

Saat makan biasanya kami disuguhi ruz (nasi) bukhari, sekaligus pasangannya berupa dajaj fahm (ayam bakar) full body di dalam talam besar. Ini kami bersama-sama. Satu talam untuk dua atau tiga orang. Seusai makan, kembali kami lanjutkan perjalanan. Begitulah seterusnya hingga sampai ke Mekkah Almukarramah dan diteruskan ke Madinah Almunawwarah sembari melakukan ibadah-ibadah sebagaimana mestinya dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah.

Perjalanan spiritual kali ini menyisakan pelajaran berharga dalam diri saya. Saya menjadi lebih bisa meresapi dan memahami apa yang dirasakan oleh baginda kita, Nabi Muhammad saw dan para sahabat beliau ketika mereka memperjuangkan Islam dengan keadaan medan tempur yang begitu sulit. Padang pasir gersang dan pegunungan berbatu tanpa pepohonan, begitulah suasana yang terpampang jelas ketika saya menyusuri jalur darat Arab Saudi.

Suasana kebatinan seperti itu lebih terasa lagi ketika memasuki Mekkah dan Madinah. Saya sangat bersyukur bisa menikmati perjalanan darat ini, karena dengan cara itu saya bisa melihat langsung dan dekat tempat-tempat yang pernah disinggahi para nabi dan rasul Allah. Sekian, semoga menginspirasi.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved