Minggu, 19 April 2026

Menaklukkan Pulau Rondo-Sabang, Pulau ‘Mati’ Hunian Piton

Pulau Rondo tak punya bibir pantai sehingga mendekati daratan kami diturunkan dari atas kapal naik ke sekoci.

Penulis: Nurul Hayati | Editor: Amirullah
Para Personel TNI harus menggunakan drum berpapan untuk merapat ke Kapal Komando milik TNI saat akan kembali ke Banda Aceh dari Pulo Rondo, di Dermaga Pulo Rondo (21/5). Dangkalnya dermaga tersebut membuat kapal yang mengangkut penumpang dan yang membawa logistik tidak bisa merapat ke dermaga. SERAMBI/ SUBUR DANI 

Selain itu terdapat juga kamp TNI dan helipad. Sebuah menara suar dengan ketinggian 20 meter dan terbagi atas 8 blok berdiri gagah di puncak Pulau Rondo.

Menara itu menjadi traffict ligt bagi kapal-kapal yang sedang berlayar di ZEE. Menurun dari puncak daratan, terdapat tugu nol kilometer yang menjadi batas teritorial darat Indonesia.

Namun untuk bermalam Subur, begitu ia akrab disapa memilih tidur di teras rumah dengan memakai sleeping bag. Pertimbangannya mengingat hawa panas yang membekap Pulau Rondo serta aman dari belitan ular yang kerab menyambangi.

Telah sekian lama ular jenis piton menjadi teman bagi puluhan anggota pasukan pengamanan pulau terluar di tempat itu. Pergantian pasukan biasanya dilakukan setiap 3 – 9 bulan sekali yang terdiri dari 24 marinir dan 10 rider.

“Pasukan yang bertugas telah menerima pesan dari pasukan sebelumnya agar tak mengganggu ular-ular itu. Biasanya jika kita melihat banyak tikus di sekeliling kita itu tandanya di sekitar situ ada ular,” terang Subur.

Pulau Rondo tak ubahnya ‘pulau mati’. Mereka yang berdiam di dalamnya bergelut dengan bagaimana cara untuk bertahan hidup dengan bersahabat dengan alam yang melingkupinya.

Permasalahan terbesar adalah ketiadaan air bersih sehingga harus dipasok dari Pulau Weh, Sabang. Jika pasokan tidak datang setiap bulannya seperti yang dijadwalkan, maka pasukan di tapal batas itu menampung air hujan.

Keterbatasan air memaksa mereka menggunakan dengan bijak sehingga hanya diperuntukkan khusus untuk minum dan wudu.

Sedangkan untuk mandi dan mencuci harus menuruni 500 anak tangga menuju laut. Bisa dibayangkan usai mandi air laut, tubuh akan mandi keringat menapaki 500 anak tangga kembali ke markas.

“Pengalaman tak terlupakan adalah ketika urusan BAB dan mandi saja harus ke laut. Makan nasi pakai alas daun pisang dan beli sebungkus rokok seharga Rp 50.000 sama navigator,” cerita Subur sambil terkekeh.

Rombongan ini menghabiskan waktu 3 hari 4 malam di Pulau Rondo. Waktu yang terasa panjang sekaligus tak terlupakan di sebuah pulau terpencil.

Perasaan ngeri-ngeri sedap mengiringi hingga rombongan beranjak pulang. Tatkala Ketua MAA Kota Sabang yang hendak naik ke kapal menggunakan drum dari darat, malah tercebur ke laut.

Berhubung kapal komando bermuatan barang, Subur dan kawan-kawan pun dialihkan ke Kapal Antares. Karena alasan keseimbangan pula, kapal yang lebih mirip perahu nelayan yang mereka tumpangi terombang ambing dalam hempasan ombak yang berdebur di pertemuan perairan Samudera Hindia dan Selat Malaka.

Prajurit TNI menyabung nyawa menjaga keutuhan NKRI, bahkan di ‘pulau mati’. Menjaga keutuhan setiap jengkal ibu pertiwi seperti yang dinukilkan dalam lirik: Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau/ sambung menyambung menjadi satu/ itulah Indonesia. (nurul hayati)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Wisatawan Padati Tugu KM Nol

 

Purbaya Puji Kuliner Aceh

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved