Sabtu, 11 April 2026

Dakwah di Warkop, Ikrar Syahadat di Masjid Peunayong

“Sangat bahagia. Saya merasa bagai terlahir kembali dalam keadaan suci. Hidup baru telah dimulai,

Editor: Amirullah
hasanbasri
Robin bersama Hasan Basri M Nur 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Jumat,  3 Juli 2015 bertepatan 16 Ramadhan 1436 Hijriah menjadi awal hidup baru bagi Robin.

Pemuda lajang keturunan Tionghoa dan kelahiran Banda Aceh 1981 ini mengubah keyakinannya dari agama Budha menjadi Islam.

Usai shalat Jumat, dia mengikrarkan dua kalimah syahadah disaksikan puluhan jamaah Masjid Baitul Muttaqien Peunayong, Kota Banda Aceh.

Asyhadu an laa ilaaha illa Alaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulallah”, ucap Robin dengan mata berkaca-kaca. Imam Masjid Baitul Muttaqien, Teungku A. Basyir Jalal, menjadi pemandu prosesi pensyahadatan ini. Usai penyahadatan, dia pun mengubah namanya dari Robin menjadi Rahmat Ramadhan.

Proses pensyiahadatan ini ditulis lengkap oleh Hasan Basri M Nur di laman blognya, www.hasanbasrimnur.wordpress.com. 

Warga Peunayong menyambut gembira Rahmat Ramadhan sebagai saudara baru yang seiman. Mereka tampak antusias mengikuti prosesi pensyadatan ini.

Lalu, sesuai pensyahadatan, satu persatu warga menyalami dan memeluk Rahmat sambil memberikan santunan alakadar.

“Selamat datang dalam Islam saudara kami”, demikian suara terdengar dari kerumunan warga. Tidak hanya kaum lelaki, kaum ibu tampak terharu dan ikut mengucapkan selamat kepada Rahmat.

“Bagaimana perasaan Anda setelah mengucapkan dua kalimah syahadah?”, tanya saya kepada Rahmat. “Sangat bahagia. Saya merasa bagai terlahir kembali dalam keadaan suci. Hidup baru telah dimulai,” jawab Rahmat mantap.

“Sebenarnya saya sudah tertarik pada Islam sejak 15 tahun lalu. Tapi karena sering pindah-pindah tempat kerja dari Banda Aceh ke Medan dan Jakarta jadi nggak sempat fokus mempelajarinya. Tiga bulan lalu saya memutuskan untuk menetap di Banda Aceh dan mulai mempelajari Islam,” katanya.

“Dan, Jumat hari ini saya mantap mengucapkan dua kalimah syahadah di masjid ini. Sebelumnya hidup saya seperti nggak punya tujuan. Saudara-saudara saya semua mengukur hidup ini dengan materi, sangat materialistis. Jika tak punya uang, kita seakan tak berguna,” ucapnya dengan raut muka sedih.

Kepada Dusun Garuda Kelurahan Peunayong, T. Sabri, yang memfasilitasi proses pensyahdatan Robin mengatakan, sejak beberapa tahun lalu pihaknya gencar melaksanakan dakwah melalui warung kopi.

“Beda dengan dakwah dalam masjid yang jamaahnya semuanya muslim dan orang baik-baik,” katanya.

“Di warung kopi kan bermacam orang berkumpul. Kami pun rutin mendiskusikan topik agama sambil menikmati secangkir kopi panas. Dan, ternyata ada saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa ikut menyimak diskusi ini. Jadi, bisa diumpamakan kami menjemput bola,” katanya.

Sabri yang juga penyuluh honorer di Kemenag Kota Banda Aceh menambahkan, setelah beberapa kali mengikuti diskusi biasanya mereka mulai tertarik kepada Islam dan sebagian dari mereka menyatakan mau masuk Islam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved