Opini
Doa Jibril dan Halal Bihalal
JIKA malaikat Jibril berdoa kepada Allah Swt, lalu yang mengaminkannya adalah Nabi Muhammad saw, siapa berani
Oleh Herman RN
JIKA malaikat Jibril berdoa kepada Allah Swt, lalu yang mengaminkannya adalah Nabi Muhammad saw, siapa berani menyangkal doa itu ditolak Allah? Tiada doa yang lebih baik dari pada doa Jibri yang diaminkan oleh Rasulullah saw. Secara logika, doa Jibril tidak mungkin ditampik Allah, terlebih lagi yang mengaminkannya Rasulullah saw.
Hal ini pernah terjadi di bulan Syawal. Dalam sebuah riwayat disebutkan ketika itu para sahabat sempat mendengar Rasulullah saw mengucapkan “amin” sampai tiga kali. Para sahabat melihat ke sekitar, tidak ada satu manusia pun yang sedang berdoa. Para sahabat heran dan bertanya: “Ya Baginda Rasul, apakah gerangan yang membuat engkau mengucapkan amin sampai tiga kali padahal tidak ada yang sedang berdoa?”
“Tadi selesai shalat, malaikat Jibril turun dan berkata padaku, ya Muhammad, saya hendak berdoa kepada Allah, maukah kau mengaminkannya?” jawab Muhammad. Ada tiga permintaan Jibril ketika itu, sehingga Rasulullah mengucapkan “amin” hingga tiga kali. Permintaan pertama Jibril: “Ya Allah, hari ini 1 Syawal, aku bermohon kepada-MU, jangan Engkau terima puasa dan ibadah seorang anak yang durhaka kepada ibu bapaknya.” Kedua: “Ya Allah, hari ini 1 Syawal, aku bermohon kepada-MU, jangan Engkau terima puasa dan ibadah para istri yang durhaka pada suaminya.” Dan ketiga: “Ya Allah, hari ini 1 Syawal, aku bermohon kepada-MU, jangan Engkau terima ibadah dan puasa seorang muslim yang tidak mau memaafkan sesama saudaranya yang muslim.”
Kisah ini tentu pernah kita dengar dari sejumlah penceramah. Terlebih lagi menjelang hari raya Idul Fitri, riwayat ini kerap jadi “bahan” para penceramah atau khatib saat memberikan nasihat. Doa Jibril ini selalu menjadi catatan penting bagi umat Muslim. Betapa ada tiga gologan yang tidak akan diterima puasa dan amal ibadahnya karena belum minta maaf dan memberi maaf.
Barangkali dari sinilah tradisi umat muslim melakukan halal bihalal setiap masuk hari raya: seorang anak menyembah lutut orang tuanya, seorang istri mencium tangan suaminya, dan setiap muslim bersalaman saling memaafkan. Kebiasaan meminta maaf dan memberi maaf di hari raya ini menjadi budaya dalam masyarakat muslim secara umum. Istilah halal bihalal merupakan ungkapan untuk perbuatan saling memaafkan.
Saling memaafkan
Halal bihalal sebagai ungkapan budaya saling memaafkan di Indonesia dimanifestasikan dalam bentuk kedaerahan masing-masing. Dalam tradisi Jawa, misalnya, ada budaya sungkeman. Dalam kebiasaan Minang ada makan bajamba. Dalam tradisi orang Aceh ada côm jaroe. Pada tindakan yang lebih luas, côm jaroe dilanjutkan dengan seumah bak teu-ôt (cium tangan cium lutut) yang biasanya dilakoni seorang anak kepada orang tua, istri kepada suami, adik kepada kakak, cucu kepada nenek/kakek, dan seterusnya.
Kearifan seumah bak teu-ôt yang dilakukan seorang anak pada kedua orang tuanya berlaku dalam beberapa hal, antara lain menjelang pergi merantau -- apakah untuk mencari nafkah atau melanjutkan pendidikan, di hari pernikahan, sepulang dari rantau (mudik), dan di hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Semua dilakoni sebagai bentuk ketakziman.
Lantas, apa kaitannya dengan doa Jibril yang menyebut “jangan terima puasa dan ibadah seorang anak yang durhaka kepada orangtua?” Tentu tidak semua kita berposisi sebagai ibu dan tidak semua kita berposisi sebagai bapak. Namun, semua kita pasti menduduki posisi sebagai anak. Di sinilah tuntutan tradisi “mudik” lebaran sebagai sebuah keniscayaan. Bagi seorang anak yang sedang bekerja di luar negeri sekalipun, uang bukanlah segalanya, kendati ia dapat berkirim dalam jumlah besar untuk orang tuanya. Namun, bagaimana agar si anak hadir di hadapan orang tuanya pada hari kemenangan, mencium tangan ibu-bapaknya seraya memohon maaf, jauh lebih utama dari sekumpulan uang di mata dua orangtua.
Demikian pula yang sedang menempuh pendidikan di tempat yang jauh dari orangtuanya. Perlu dikenang susah-payah orang tua di kampung mencari biaya hidup dan biaya pendidikan si anak. Meskipun si anak sudah bisa mandiri, perlu diingat susah payahnya orangtua merawat dan membesarkan si anak masa kecil. Rasanya terlalu naif rindu di sudut hati orangtua manakala si anak tidak pulang di hari raya. Hari baik dan bulan baik tentunya orangtua ingin berkumpul bersama anak-anaknya, dengan atau tanpa alasan. Hati orangtua terkadang lebih tipis dari pada kulit bawang. Meski ia tidak memaksa si anak untuk pulang, air matanya tak kuasa ia tahan karena rindu wajah buah hati di hari penuh kemenangan.
Sebagian orang beralasan, minta maaf boleh lewat telepon. Kecanggihan teknologi memang memudahkan, tapi itu semua lain kesannya dengan kehadiran jasad si anak yang menyentuh langsung lutut orang tuanya. Kearifan ureueng Aceh menyebutkan: Poma ngön ayah keulhèe ngön gurè/ ureueng nyan banlhèe bèk tadhôt-dhôt/ meunyoe na salah meu’ah talakèe/ peumiyup ulèe seumah bak teu-ôt. (Ibu dan ayah yang ketiga guru/ mereka bertiga jangan dihardik/ kalau ada salah segera minta maaf/ rendahkan kepala cium lututnya).
Di sinilah letak halal bihalal itu, seorang anak pulang dari rantau mencium lutut kedua nangmbah, seorang istri mencium tangan suami, dan seterusnya. Jika memungkinkan, côm jaroe dan seumah bak teu-ôt dilakukan sebelum ke masjid untuk shalat Id. Artinya, sebelum bersalaman dengan orang lain di luar rumah, utamakan terlebih dahulu sudah tuntas saling memaafkan dengan keluarga di rumah masing-masing. Bilamana tak memungkinkan, segera lakukan setelah salat, jangan setelah mengecap lontong atau leumang di rumah tetangga. Intinya, minta maaf kepada kedua ibu-bapak itu harus didahulukan sebelum halal bihalal bersama tetangga dan kaum muslimin/muslimah umumnya. Ini anjuran agama sekaligus tradisi endatu.
Istri dan suami
Doa kedua Jibril untuk “istri yang durhaka pada suami”. Pertanyaannya, mengapa Jibril menggunakan istilah “istri yang durhaka”, bukan “suami yang durhaka”? Alquran menjawab hal ini, “Setiap lelaki adalah pemimpin bagi setiap perempuan.” (QS. an-Nisa: 34). Artinya, pemimpin (laki-laki) yang akan diminta pertanggungjawaban di akhirat atas istrinya. Bolehnya seorang istri durhaka pada suami hanya karena satu hal: jika sang suami durhaka pada Allah. Namun demikian, suami tidak boleh ego kepemimpinan. Suami juga mesti minta maaf pada istrinya. Inilah yang dimaksud halal bihalal.
Setelah selesai halal bihalal dalam keluarga, barulah dengan sesama umat muslim. Halal bihalal membawa orang saling silaturrahmi, mempererat silaturrahim. Di sinilah esensi hari raya sebagai hari fitri. Diharapkan dengan saling memaafkan, semua benar-benar kembali fitrah. Bahkan, Rasulullah saw menganjurkan umatnya agar mencari nilai tambah dengan “Bersilaturrahmilah meskipun kepada mereka yang berlaku kasar...” (HR. Ath-Tabrani).
Akhirnya, melalui warkah ini saya ingin menyatakan betapa bangga saya sebagai orang Aceh, karena tradisi halal bihalal masih hidup di Tanah Para Ulama ini. Mungkin tidak semua orang Aceh menggunakan istilah halal bihalal, tetapi lakon yang dilakukan sama, sama-sama saling bermaafan kala datang hari fitri. Selamat meraih kemenangan dan mari saling bermaafan!
* Herman RN, Penulis esai, opini, cerpen, puisi. Mengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Unsyiah. Email: hermanrn13@gmail.com