Jumat, 15 Mei 2026

Ini Rumah Hasan Saleh, Tokoh Kontroversial dari Tanah Rencong

Garasi mobil yang berada sekitar 10 meter dari depan rumah, terlihat sudah lama tak pernah digunakan. Tak ada jejak ban mobil di rumput yang tumbuh di

Tayang:
Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN
Rumah Letnan Kolonel (purn) Hasan Saleh, di Desa Teumeucet, Metareum, Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie. 

Rumah panggung kontruksi kayu yang disangga 20 tiang besar dan enam tiang kecil itu, berdiri gagah di tengah lahan sekira satu hektare. Meski tak ada penghuni, rumah ini terlihat bersih dan terawat.

Garasi mobil yang berada sekitar 10 meter dari depan rumah, terlihat sudah lama tak pernah digunakan. Tak ada jejak ban mobil di rumput yang tumbuh di bagian depan garasi.

Di bagian kanan rumah megah ini terdapat dua rumah permanen yang ditinggali keluarga Hasan Saleh. Salah satunya ditinggali oleh Cut Fatimah, adik dari Cut Asiah, istri Hasan Saleh.

"Cucu Are Kasem, tolong ditemani masuk ke rumah (Hasan Saleh)," kata Cut Fatimah kepada anaknya, T Usman (64), setelah kami memperkenalkan diri.

Kedua kaki Cut Fatimah tidak sanggup berjalan lagi. Ia bergerak dengan cara beringsut dengan pantat yang dilapisi tikar pandan.

"Silakan lihat-lihat, saya mau bersiap Shalat Zuhur," kata Cut Fatimah dengan ramah.

Sejenak, T Usman yang merupakan pensiunan Tata Usaha Fakultas Kedokteran Unsyiah, membawa kami masuk melalui bagian belakang rumah Hasan Saleh. Di dinding ruangan itu, terdapat beberapa foto yang merekam kehidupan Hasan Saleh, istrinya Cut Asiah, serta anak-anaknya.

Terdapat satu lemari yang menyimpan beberapa foto serta barang lama, seperti radio dan sebagainya. Beberapa kursi antik tergeletak di sudut ruangan.

Di bagian atas rumah, terdapat tiga ruangan besar yang nyaris kosong melompong. Lantai kayu di seuramoe likot (bagian belakang rumah adat Aceh), terlihat masih baru, menunjukkan kayu-kayunya baru saja diganti.

"Waktu Pak Iqbal (anak Hasan Saleh) menjabat Presdir PT Arun, beliau sering pulang, meski hanya sebentar. Tapi setelah beliau pindah lagi ke Jakarta, belum pernah pulang hingga sekarang," kata T Usman.

Kehampaan juga terasa di seuramoe keu (bagian depan Rumah Aceh). Hanya ada beberapa foto dan piagam yang mulai pudar diterpa sinar matahari.

Di antara piagam yang tergantung di dinding ruangan itu dikeluarkan oleh Institut Agama Islam Negeri Jami'ah Ar-Raniry, Banda Aceh.

Piagam yang dikeluarkan tahun 1983 itu diberikan atas partisipasi Hasan Saleh pada acara "Pembudayaan Al- Quran dalam Kehidupan Bermasyarakat".

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved