Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Kota Tangguh Bernama Portland

KUNJUNGAN kami ke Amerika Serikat (AS) kali ini selama dua minggu adalah untuk mendampingi tim dari Kementerian

Tayang:
Editor: bakri

OLEH HENDRI YUZAL, Tenaga Ahli Manajemen Kebencanaan Kantor Uni Eropa di Jakarta dan Tim Asistensi Bidang Penataan Ruang, Kemendagri Indonesia melaporkan dari Portland, Amerika Serikat

KUNJUNGAN kami ke Amerika Serikat (AS) kali ini selama dua minggu adalah untuk mendampingi tim dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemndagri RI) dalam rangka pelaksanaan bimbingan teknis untuk meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah dalam pengurangan risiko bencana (PRB).

Kegiatan bimbingan teknis (bimtek) ini dilaksanakan oleh National Disaster Preparedness Training Center (NDPTC) di University of Hawaii, AS. Bimtek ini dimaksudkan sebagai training of trainers (ToT) untuk mencetak fasilitator-fasilitator di daerah yang mampu menyelenggarakan pelatihan, baik di lingkungan kerjanya maupun masyarakat terkait, dengan peningkatan ketahanan terhadap PRB.

Setelah training lima hari, kami melakukan kunjungan lapangan untuk melihat dampak gunung api dan mengunjungi Pacific Tsunami Museum. Kami juga menyempatkan diri berkunjung ke beberapa negara bagian lainnya, termasuk Kota Portland di Oregon State.

Alasan kunjungan kami ke Portland pada medio Agustus lalu adalah karena ingin mempelajari dan melihat langsung perencanaan sistem perkotaan di kota ini dan dapat merasakan perbedaannya dengan kota-kota lain yang telah kami kunjungi. Portland merupakan kota di AS yang terletak di bagian pantai barat, tepatnya di Negara Bagian Oregon. Penduduknya lebih kurang 609.456 jiwa dan luas wilayah 376,5 km². Angka kepadatan penduduknya 1.655,31 jiwa/km².

Portland merupakan salah satu kota yang digolongkan sebagai kota “tangguh” di AS yang memiliki sistem penataan kota dan lingkungan terbaik. Ini tercermin dalam rencana pembangunan strategis Kota Portland bahwa, “Ketangguhan penting dalam menghadapi perubahan alam, Portland harus menjadi lebih tangguh dalam berbagai cara. Kita membutuhkan perencanaan yang matang, fleksibel, dan infrastruktur yang kuat (fisik, sosial, ekologi, dan ekonomi) untuk beradaptasi dengan masa depan yang tidak menentu.”

Berdasarkan letak geografis, Portland memiliki beberapa ancaman bahaya, seperti gempa bumi sebagai ancaman terbesar. Ini karena, posisinya terletak pada lintasan patahan San Andreas. Banjir, cuaca buruk, dan kebakaran juga tergolong bahaya tinggi di kota ini, begitu pula tanah longsor dan gelombang panas. Semua ancaman ini diprediksi terus meningkat sebagai akibat dari perubahan iklim.

Ada beberapa hal yang kami pelajari terkait dengan prioritas Portland sebagai kota tangguh. Pertama, mempertahankan kekuatan jaringan sosial terpadu yang terpusat pada masyarakat dilengkapi dengan layanan dan fasilitas saling berdekatan dengan akses jalan kaki.

Kedua, membangun kesadaran risiko dan langkah-langkah yang tepat untuk mempersiapkan dan menanggapi bahaya ancaman. Untuk menjadi tangguh, masyarakat harus mengenali risiko ancaman dan bagaimana mengambil tindakan.

Ketiga, mendukung ekonomi lokal yang beragam dengan usaha kecil. Sebuah ekonomi lokal yang kuat akan meningkatkan pertumbuhan lapangan kerja dan ketangguhan ekonomi.

Keempat, memastikan akses yang adil terhadap sumber daya, terutama kesehatan, pendidikan, dan transportasi. Bencana yang tidak proporsional akan membahayakan orang dengan sumber daya paling sedikit dan memperlebar kesenjangan yang ada.

Kelima, membangun lingkungan binaan yang melindungi orang dan dapat mengantisipasi berbagai peristiwa alam. Meningkatkan infrastruktur strategis dan pemulihan sistem untuk mengurangi kerentanan jangka panjang.

Ada beberapa langkah yang telah ditempuh oleh Pemko Portland dalam menghadapi berbagai ancaman, termasuk mempersiapkan rencana mitigasi bencana alam dan ancaman, inventarisasi bahaya dan penilaian risiko kerentanan. Semua hal ini disiapkan sesuai standar yang dikeluarkan Federal Emergency Management Agency (FEMA), lembaga Federal Amerika Serikat untuk urusan kebencaan.

Portland juga telah menyelesaikan penilaian risiko dan kerentanan sebagai bagian dari pengembangan strategi persiapan perubahan iklim. Selama dua hari di Portland, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan terkait upaya membangun sebuah kota menjadi tempat yang layak. Juga tempat yang memiliki tingkat kualitas kehidupan yang memadai, sehingga dapat dikatakan “tangguh” terhadap berbagai ancaman.

Kota-kota di Indonesia, khususnya Aceh, sebenarnya bisa menjadi seperti Portland, sejauh adanya komitmen dari pihak pemerintah, masyarakat dan peran sektor swasta untuk membangun sistem perkotaan menjadi sebuah kota tangguh. Kota Tangguh adalah kota yang telah memiliki kapasitas untuk menghadapi guncangan masa depan terkait dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem infrastruktur, sehingga masih dapat mempertahankan fungsi, struktur, sistem, dan identitas yang sama.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved