Jumat, 17 April 2026

Citizen Reporter

Pesona Tembok Raksasa Tiongkok

BERAWAL dari impian-impian yang tertulis beberapa tahun lalu pada secarik kertas yang sampai sekarang masih melekat

Editor: bakri

OLEH RISKA FIRMANILA, alumnus Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, melaporkan dari Tiongkok

BERAWAL dari impian-impian yang tertulis beberapa tahun lalu pada secarik kertas yang sampai sekarang masih melekat di dinding kamar saya. Tepatnya di poin ke-18 saya tuliskan “Mengunjungi Tembok Raksasa Tiongkok”. Tembok raksasa yang merupakan satu dari tujuh keajaiban dunia itu menjadi magnet bagi saya, khususnya untuk datang ke Negeri Tirai Bambu ini.

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan melanjutkan pendidikan di Negeri Panda ini melalui Program Beasiswa China Scholarship Council (CSC).

Masyarakat Tiongkok menyebut tembok ini dengan nama Changcheng. Tembok raksasa ini telah terdaftar sebagai warisan budaya dunia yang diakui oleh Unesco sejak tahun 1987.

Dengan menaiki subway dan bus nomor 877 sampai juga saya di Badaling, Great Wall China atau Tembok Raksasa Tiongkok. Ada banyak pintu yang bisa dimasuki untuk sampai ke tembok raksasa ini. Namun, kawasan Badalinglah yang terkenal dan banyak dikunjungi turis asing. Perjalanan dari Kota Beijing menuju Badaling saya tempuh sekitar dua jam.

Ada banyak moda transportasi yang bisa dinaiki untuk menuju ke sana. Selain subway dan bus, bisa juga naik taksi yang sopirnya bersedia mengantarkan langsung penumpangnya ke pintu pembelian tiket masuk.

Saya sendiri lebih memilih naik subway dan bus karena selain murah, saya pun bisa berkenalan dengan banyak penduduk Tiongkok di dalamnya. Hal ini bisa membantu saya untuk meningkatkan gaya bicara dalam berbahasa Tiongkok. Salah satu trik agar lancar berbahasa asing adalah berbaur dan berkomunikasi langsung dengan mereka.

Begitu sampai di kawasan Badaling, tidak langsung terlihat pintu masuk ke tembok raksasa. Saya harus berjalan dan mendaki lagi sekitar sepuluh menit hingga sampai di tempat pembelian tiket. Satu tiketnya dihargai 40 RMB. Beruntung, saya membawa kartu mahasiswa pada saat itu, sehingga dapat potongan harga 50%. Cukup dengan memperlihatkan kartu mahasiswa, dikenai biaya 20 RMB saja per tiketnya.

Dengan semangat saya mulai pendakian di tembok raksasa. Konon katanya, belum ada pendaki yang berhasil mendaki dari awal hingga ujung tembok berakhir. Karena tembok raksasa ini tak hanya melingkari seputaran Beijing, tapi juga kota-kota lain, seperti Tianjin.

Saat berjalan menyusuri tembok terlihat beberapa benteng yang di dalamnya ada kamar-kamar kecil dengan pintu berupa jeruji besi seperti di penjara. Benteng-benteng ini merupakan benteng pertahanan masyarakat Tiongkok dulunya. Konon katanya lagi, tembok raksasa ini merupakan kumpulan dari tembok-tembok pendek yang mengikuti bentuk topografi pengunungan Tiongkok bagian utara.

Ukuran panjangnya, belum begitu bisa dipastikan. Soalnya, pada tahun 2009, Badan Survei dan Pemetaan serta Badan Administrasi Warisan Budaya Republik Rakyat Tiongkok melakukan penelitian ulang untuk mengukur panjang tembok raksasa tersebut yang sebelumnya diumumkan memiliki panjang 8.851 km.

Dari hasil penelitian yang terbaru menunjukkan bahwa Tembok Raksasa Tiongkok itu lebih panjang daripada jumlah yang selama ini tercatat.

Di sisi kiri dan kanan tembok ini terlihat hamparan gunung yang luas. Pohon-pohon hijau berjejer menghiasi lekuk-lekuk pegunungan. Di bagian tengah tembok ada sisi terjal untuk didaki. Namun, bagian terjal itu masih bisa dilewati karena ada besi panjang tempat berpegang agar tak terjatuh. Uniknya, tidak hanya anak muda dan orang dewasa yang mendaki tembok raksasa ini. Tapi juga perempuan-perempuan lanjut usia. Sudah nerambut putih pun, kulitnya mulai keriput, badan bungkuk, dan tenaga rapuh, tapi tidak mematahkan semangat nenek-nenek ini melakukan pendakian. Terlihat mereka berpegangan kuat pada besi-besi yang tersedia di sisi kanan dan kiri tembok.

Dalam pendakian yang menyita energi itu, hanya satu kata yang saya ucapkan kepada mereka, “jiayou” yang artinya semangat!

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved