Kapal Tenggelam di Malaysia
Dua Mayat Selamatkan Nyawa Erni
Dengan berat hati Erni meninggalkan mayat tersebut dan beralih ke mayat lain yang lewat di depannya
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Amirullah
Dalam suasana gelap gulita, semua orang meraih apa saja yang bisa dijadikan peganggan. Saat itu, Erni tidak tahu lagi di mana suaminya. Semua orang dalam keadaan panik ingin menyelamatkan diri. Suara takbir dan minta tolong bersaut-sautan dalam kegelapan.
Beberapa penumpang kapal ada yang tidak bisa berenang dan akhirnya tenggelam. Satu persatu mayat mulai mengapung di tengah lautan lepas. Bahkan, Erni tidak terfikir bisa bertahan dalam ayunan ombak malam itu. Yang bisa dilakukan adalah berenang dan mencari barang apa saja untuk pelampung.
“Saat itu ada satu orang laki-laki bagi bag (tas) pada saye. Tapi beberapa menit bagnya tenggelam, kemudian saye pegang bag ke dua, tapi juga tenggelam,” cerita Erni dengan bahasa melayu.
Di tengah dinginnya air laut, Erni berusaha mengapai benda yang lewat di depannya. Ternyata, yang lewat adalah mayat wanita yang tidak dikenalinya. Pada mayat tersebut, malam itu Erni mengantungkan hidupnya dengan memeluk mayat sampai pagi tiba.
***
Esoknya, mayat yang dipegang Erni semalam mulai mengembung. Dengan berat hati Erni meninggalkan mayat tersebut dan beralih ke mayat lain yang lewat di depannya. Erni langsung memeluk mayat perempuan ke dua yang ternyata dikenalinya.
“Mayat kedua saya ingat, dia orang kita (Aceh),” katanya terbata.
Erni terdiam beberapa saat samba membasuh muka dengan kedua tangannya. Dengan berat Erni berkata, “Saya tak ada pilihan. Sebab saya tak ada pelampung. Saya betumpang hidup dengan dia, sampai nelayan ambil,” ujarnya.
Saat itu, tangisnya pecah. Linangan air matanya membasahi kulit pipinya yang hitam manis. Erni mengatakan, tidak tahu nama mayat tersebut, tapi ia mengenalnya karena keduanya tinggal berdekatan rumah saat di penampungan.
“Saya minta maaf dengan mayat,” ucapnya sambil tersedu.
Saat itu Erni menghadapi dua pilihan, antara hidup dan mati. Erni memeluk erat mayat itu agar tetap bisa mengapung.
Ibu satu anak ini mengaku tidak melihat apapun di tengah laut. Dalam keadaan kesulitan, Erni berdoa, “Kalau memang di sini ajal saye, saye ikhlas. Kalau hari ini bukan ajal saye, Allah tunjuklah jalan dan berilah penolong.”
Saat itu, Erni sudah menyerahkan hidup dan matinya pada kehendak Ilahi. Ia sudah pasrah jika ajalnya berakhir di laut bebas. Tapi faktanya, Allah mengabulkan doa Erni. Beberapa saat berselang, satu kapal nelayan melintas.
Erni kemudian ditolong oleh awak kapal pencari ikan tersebut dan diberi pertolongan ala kadar setelah terendam semalaman dalam air laut.
***
TEPAT pukul 11.00 waktu Malaysia, berkat pertolongan nelayan tadi, polisi laut Malaysia tiba di lokasi kejadian. Saat polisi melakukan evakuasi, Erna mendapat kabar bahwa suaminya telah meninggal. Ia hanya sempat melihat sebentar jasad suaminya di atas kapal sebelum pingsan. Hingga saat ini, ia tidak pernah berjumpa lagi dengan suaminya setelah enam tahun pernikahannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/erni_20150923_110152.jpg)