Kapal Tenggelam di Malaysia
Dua Mayat Selamatkan Nyawa Erni
Dengan berat hati Erni meninggalkan mayat tersebut dan beralih ke mayat lain yang lewat di depannya
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Amirullah
Sebelum berangkat pulang, Erni mengaku pernah mengalami rasa gelisah. Bahkan suaminya sempat termenung-menung. Selain itu, Erni juga hampir tertinggal kapal ketika ke kamar mandi. Namun, suaminya cepat menemukannya dan langsung naik ke atas kapal. Akibat kejadian ini, Erni merasa trauma dan berjanji tidak akan pergi lagi.
“Tidak,” katanya spontan.
Padahal, saat pergi ke Malaysia sekitar awal akhir 2013, Erni menggunakan paspor dan terbang melalui Bandara SIM, Blangbintang, Aceh Besar. Di Malaysia, ia bersama suaminya bekerja di sebuah restoran.
Sementara anaknya yang kini berusia empat tahun, tinggal bersama keluarga Erni di Desa Geudong, Kecamatan Kota Juang, Bireuen.
Kendati demikian, Erni mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Aceh dan dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur yang memohon pengampunan kepada pihak otoritas Malaysia. Sehingga Erna dan warga Aceh lainnya bisa pulang dan berkumpul lagi bersama keluarga untuk menyambut lebaran Idul Adha.
Karo Humas Aceh, Ali Alfata mengatakan, semua korban selamat asal Indonesia berjumlah 20 orang, 12 di antaranya berasal dari Aceh.
Dari 12 orang yang dipulangkan, satu orang lagi atas nama Mohd Hanafiah, masih tinggal di Kuala Lumpur karena menjadi saksi di Mahkamah Malaysia bersama satu orang warga Sumatera Utara (Sumut) terhadap tekong kapal asal Sumut.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/erni_20150923_110152.jpg)