Rabu, 13 Mei 2026

Sofyan Ingin Eks GAM Bersatu Lagi

Tokoh pendiri Partai Nasional Aceh (PNA) yang juga mantan juru bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Sofyan Dawood

Tayang:
Editor: bakri

BANDA ACEH - Tokoh pendiri Partai Nasional Aceh (PNA) yang juga mantan juru bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Sofyan Dawood, menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan politik menjelang Pemilukada 2017 dalam pertemuannya dengan Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, Kamis (1/10) malam.

Pertemuan itu hanyalah silaturahmi biasa sambil membahas kondisi Aceh terkini, terutama nasib para mantan kombatan GAM. Sofyan ingin suasana kembali seperti dulu, ketika para eks kombatan GAM bersatu, bersama-sama memikirkan masa depan Aceh yang lebih baik.

“Kita belum bicara agenda 2017. Yang kita bicarakan, bagaimana agar semua eks kombatan bersatu lagi, memperkuat barisan supaya jangan ada permasalahan (permusuhan) lagi,” kata Sofyan Dawood yang ditanyai ulang Serambi di sebuah warung kopi kawasan Banda Aceh, Jumat (2/10).

Tapi, kembali bersatu yang dimaksudkan Sofyan di sini bukanlah kembali ke Partai Aceh (PA), melainkan kembali sebagai sesama mantan eks kombatan. “Partai kita kesampingkan dulu, karena itu kendaraan politik. Kita bersatu kembali untuk menyamakan ide dan pemikiran. Jalannya mau bagaimana, itu terserah,” ucap mantan panglima GAM Wilayah Pasee ini.

Karena itu, lanjutnya, kepada tokoh-tokoh GAM yang ingin jadi gubernur ia persilakan untuk maju, cuma jangan sampai terjadi masalah di lapangan. Jangan ada konflik antara siapa pun, baik internal, kelompok, maupun umum. “Jangan sampai, hanya gara-gara naik jadi gubernur, di lapangan terjadi tumpah darah. Itu saya yang tidak mau,” imbuhnya.

Belum lagi menyangkut kesejateraan para mantan kombatan yang, menurut Sofyan Dawood, sangat menyedihkan. Melalui persatuan, dia harapkan, buah dari perdamaian Aceh bisa dinikmati merata oleh seluruh mantan kombatan, tidak hanya terpusat pada gubernur, bupati, dan anggota dewan.

“Masih banyak eks kombatan yang harus kita perhatikan. Ini perlu, agar ke depan jangan sampai timbul kriminalitas, seperti kasus Din Minimi. Mereka berhak menikmati hasil perdamaian, jangan hanya dinikmati satu atau dua orang saja,” tukas Sofyan.

Ia juga menegaskan bahwa pertemuan Kamis malam itu bukanlah pertemuan dirinya dengan PA, melainkan pertemuan secara pribadi dengan Mualem selaku mantan pimpinan GAM, dan sebagai Wakil Gubernur Aceh.

“Saya dengan Mualem seperti adik abang. Kita sudah bersama sejak masa perjuangan dulu, sebagai atasan dan bawahan. Kita juga sering sharing-sharing tentang kondisi Aceh,” terangnya.

Jadi, menurut Sofyan Dawood, tidak ada yang salah dari pertemuan itu, dan bukan sebagai pertanda bahwa partai yang dia dirikan, PNA, mengalami perpecahan. “Isu PNA pecah, itu omongan dari segelintir orang. PNA tidak pecah. Saya kan tokoh pendiri partai, kita kan nggak mau partai kita hancur,” ucapnya.

Dengan Irwandi Yusuf yang berniat kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh, ia juga mengaku tetap berhubungan baik. “Dengan Irwandi, menurut saya, tidak ada masalah. Komunikasi kami masih tetap baik,” ucapnya.

Begitupun Sofyan mengakui bahwa ia mendukung Ir Tarmizi A Karim MSc sebagai calon gubernur Aceh. Tetapi itu merupakan sikapnya secara pribadi, bukan atas nama partai.

Ia mendukung Tarmizi karena PNA tidak memenuhi syarat untuk mengusung calon. Demikian juga dengan Irwandi Yusuf. Menurut Sofyan, pilihannya untuk maju sebagai gubernur juga merupakan sikap pribadi, bukan partai.

Tapi Sofyan mengingatkan kalau proses politik itu masih panjang. Hingga 2017, berbagai kemungkinan bisa saja terjadi.

Sementara itu, Syardani M Syarif alias Teungku Jamaika menilai pertemuan makan malam semeja antara Muzakir Manaf dengan Sofyan Dawood sebagai bentuk konsolidasi politik menjelang Pilkada 2017.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved