Cerpen

Sepasang Mante Tua

Seratus tahun lalu, sekelompok pemburu menemukan seorang Mante di belantara hutan yang kini telah

Editor: bakri
TAURIS MUSTAFA
Ilustrasi Suku Mante 

Karya Nanda Winar Sagita

Seratus tahun lalu, sekelompok pemburu menemukan seorang Mante di belantara hutan yang kini telah berubah menjadi lahan pertanian penduduk. Mante itu berjenis kelamin laki-laki, terlihat dari tonjolan daging yang menggantung di antara kedua pahanya. Banyak yang menduga, dia adalah sisa dari jenis manusia serupa yang pernah hidup di bumi ini. Para pemburu membawanya ke tengah-tengah warga dengan kebanggaan yang luar biasa.

“Semua legenda memiliki sisi kebenaran,” kata ketua mereka. “Kami adalah para penemu yang pantas untuk dicatat dalam sejarah karena telah berhasil mengungkapnya.”

Dengan ukuran tubuh kerdil dan penuh bulu, pada mulanya Mante itu tampak sangat menakutkan. Telapak kakinya yang lebar juga menjadi pengantar mimpi buruk bagi sebagian warga yang pernah memiliki kenangan pahit dengan hantu. Para pemburu itu mengurung Mante itu di dalam sebuah sangkar ayam yang ditutupi seprei. Bagi orang-orang yang ingin melihat, diwajibkan untuk membayar. Tetapi jika ingin menyentuh, bayarannya ditambah lagi. Untuk menghindari penilaian yang buruk dari orang banyak, si ketua pemburu itu selalu berkata,”Mahluk ini tidak pantas disebut sebagai manusia,” katanya. “Jangankan untuk memahami bahasa kita, bahkan dia tidak punya kata untuk menyebut dirinya sendiri.”

Pada mulanya tidak ada yang keberatan dengan tindakan yang dilakukan oleh sekelompok pemburu itu. Semua orang menganggap Mante itu memiliki derajat yang setara dengan seekor tupai atau kera. Tetapi setelah kedatangan seorang perempuan asing ke kampung ini, segala bentuk kekaguman warga kepada para pemburu itu berubah menjadi prasangka.

***

“Panggil aku Pukes saja,” katanya. Semua orang normal yang masih punya birahi, tentu tidak bisa menepis godaan yang terpancar dari kecantikan di rona wajah Pukes. Bola matanya yang berwarna ungu, membuat para laki-laki lupa, bahwa mereka punya istri. Bahkan, banyak yang menduga perempuan itu tidak dilahirkan dari rahim seorang manusia, tapi menjelma dari sekuntum bunga teratai.

Ketika Pukes pertama kali muncul di kampung ini, orang-orang masyuk menyaksikan Mante yang ditemukan oleh sekelompok pemburu itu. Layaknya memberi makan seekor anjing yang kelaparan, mereka melempar berbagai jenis sisa makanan ke dalam kandangnya. Mante yang malang itu hanya meringkuk ketakutan. Seandainya dia bisa bicara, mungkin yang pertama kali dikatakannya adalah permohonan ampun.

Setibanya Pukes di tempat itu, orang-orang enggan untuk memperhatikan. Hal itu dikarenakan jubah kumal yang menutupi wajahnya tampak sangat mengganggu. Si ketua pemburu itu bahkan melontarkan cacian dengan menganggapnya sebagai seorang pengemis. Tapi dia hanya mengatakan,”Saya bukan gelandangan, Tuan. Meskipun memang punya permintaan.”

“Setidaknya setiap orang yang datang ke sini punya satu permintaan,” kata si ketua pemburu. “Kebanyakan ingin menyentuh mahluk langka ini.”

“Saya datang bukan sekedar ingin menyentuhnya,” kata Pukes. “Melainkan juga untuk membebaskannya.”

Sontak semua yang ada di tempat itu terkejut bukan kepalang. Si ketua pemburu itu geram dan mengambil ancang-ancang untuk menghajar Pukes yang masih menutupi wajahnya dengan kain lusuh. Tamu kurang ajar yang tidak pernah diharapkan itu adalah orang pertama yang membuatnya merasa terhina. Namun tatkala jubah yang menghalangi rupa perempuan itu tersingkap, mendadak semua orang terbelalak. Lenguhan pujian kepada Tuhan, mengalun dari lisan puluhan laki-laki yang terbius oleh keindahan Pukes. Mereka memang sudah sering mendengar dongeng tentang titisan bidadari dan peri, tetapi baru kali ini melihatnya secara langsung. Si ketua pemburu bahkan tersungkur tidak berdaya di atas tanah dengan mata yang berbinar. Sejak melihat rusa bertanduk emas belasan tahun lalu, dia belum pernah bertemu dengan mahluk yang membuatnya terpikat lagi. “Izinkan aku menyentuhmu,” katanya.

“Tidak, sebelum Anda membebaskannya,” jawab Pukes.

“Kalau begitu, aku akan menyekapmu bersamanya,” kata si pemburu.

Lantas si ketua pemburu itu memerintahkan kepada para anggotanya untuk bersiaga. Posisinya yang sudah terkepung membuat Pukes amat mudah untuk ditangkap. Namun dia sama sekali tidak melawan, apa lagi menjerit. Dia hanya tersenyum simpul sembari menyingkirkan tangan-tangan jahil dari sekumpulan bocah tua nakal yang mencoba untuk memagutnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved