Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Kontrol Pikiran dalam Studi Terorisme

DALAM artikel ini, saya tertarik untuk menelaah model penjelasan mengenai aksi terorisme melalui mind control

Tayang:
Editor: bakri
Ilustrasi 

Oleh Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad

DALAM artikel ini, saya tertarik untuk menelaah model penjelasan mengenai aksi terorisme melalui mind control (kontrol pikiran). Istilah ini digunakan di dalam operasi intelijen yang pernah dijalankan oleh CIA melalui proyek MKULTRA. Operasi ini dijalankan di hampir 80 institusi dan 40 kampus oleh pemerintah Amerika Serikat (AS). Proyek ini sendiri pada ujungnya menjadi sejarah kelam intelijen AS. Namun, istilah mind control masih dipelajari hingga hari ini di beberapa kampus atau institusi pertahanan atau intelijen.

Dalam hal ini, saya tertarik untuk melihat bagaimana aksi terorisme dilihat dari perspektif mind control. Salah satu penjelasan mengenai mind control adalah kendati kita menguasai tubuh kita sendiri, urat-urat saraf seseorang akan menggerakkan tubuhnya, tanpa izin dari yang punya tubuh. Bahkan, terkadang seseorang melakukan hal yang berlawanan dengan keinginannya. Gelombang elektromagnetik yang dimasukkan ke dalam otak seseorang akan memberikan dorongan kuat bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hati nurani. Singkat kata, tubuh seseorang dapat dibajak (hijacked) melalui sistem mind control (Kaku, 2014: 193). Dalam satu ceramah akademik, Stephen Hawking (1998) mengatakan: “All bodies are attracted to each other.”

Karena itu, beberapa negara maju akan memproteksi gelombang elektromagnetik seorang kepala negara, supaya dia tidak dapat dikontrol dari jarak jauh, melalui sistem mind control. Sehingga penguasaan mind control menjadi hal utama bagi para agen-agen senior atau diplomat di dalam menjalankan tugas negaranya. Dalam menekuni studi ini, didapati bahwa ada beberapa kemungkinan juga dalam mengunci sistem pikiran seseorang, melalui jarak dekat atau jarak jauh. Studi mind control dijadikan hal penting, setelah kajian-kajian mengenai alam bawah sadar seseorang. Tidak mengejutkan jika kemudian ahli-ahli spiritual sering bekerja di belakang layar untuk mengatur sistem gelombang elektromagnetik di dalam suatu pertemuan tingkat tinggi atau diplomasi antarnegara. Di dalam dunia sains, para fisikawan lebih banyak membahas persoalan ini dengan berbagai sub-disiplin ilmu di dalamnya.

Sangat mudah
Tatapan mata atau kealpaan dalam konsentrasi penuh menyebabkan seseorang sangat mudah dikendalikan pikirannya. Hal ini kemudian banyak digunakan oleh para penghipnotis untuk merubah sikap seseorang, sesuai dengan keinginan sang penghipnotis. Dewasa ini, hipnotis menjadi trend, ketika seseorang hendak dirubah karakternya. Mereka dibayar mahal untuk pekerjaan ini. Bahkan di Banda Aceh, beberapa orang sudah membuka praktik secara terbuka untuk melakukan perubahan sikap dan karakter seseorang melalui hipnotis. Karena itu, penguasaan alam bawah sadar dan mind control merupakan ilmu yang dapat dipelajari.

Dalam studi terorisme, belum ada tampaknya studi khusus mengenai pengaruh mind control terhadap seseorang calon teroris. Banyak studi terorisme yang melihat aspek-aspek spiritualitas, seolah-olah pengalaman religilah yang paling berpengaruh di dalam aksi seseorang hendak melakukan aksi teror. Padahal, ketika seseorang memutuskan menjadi “pelaku bom bunuh diri”, terkadang hal tersebut berlawanan dengan kehendak nuraninya sendiri. Model mind control ada yang diberikan sejenis obat, seperti yang dimiliki oleh para tentara di dalam medan perang terbuka. Ada juga yang bersifat halusinasi, sehingga ada seolah-olah bisikan yang masuk ke kepalanya untuk melakukan kekerasan tanpa rasa kasihan.

Di Indonesia, berdasarkan beberapa literatur yang ada mengenai terorisme, cenderung tidak melihat aspek mind control dalam penyebaran sel teroris. Lebih banyak dilihat aspek ideologi, latar belakang, masalah sosial ekonomi, dan pemahaman religi,yang menjadi penyebab seseorang menjadi teroris. Sehingga setiap ada peristiwa terorisme, para pengamat teroris dan pengamat intelijen, cenderung menganalisa dari sudut apa yang tampak dipermukaan. Namun, aspek-aspek mind control menjadi sesuatu yang terabaikan di dalam melihat aksi tersebut.

Aksi-aksi terorisme di Indonesia sudah berubah, mulai dari menggunakan remote control hingga meledakkan diri seperti yang terjadi baru-baru ini di Jakarta. Falsafah I kill me then kill you (Aku bunuh diriku, lantas akan membunuh mu) adalah fenomena baru di dalam dunia teror di Indonesia. Adapun radius peristiwa terorisme di Indonesia masih dalam koridor 500 Km dari pusat pemerintahan, di mana sistem intelijen mampu mendeteksi semua gerak-gerik sang teror. Tidak mengejutkan bahwa hampir semua pelaku teror dikenali rekam jejaknya. Bahkan, pengamat intelijen mampu mengurai berbagai sudut mengenai sosok teroris tersebut.

Di AS, pola menebar teror dengan mengunakan senjata di tempat publik, telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Hanya saja di sana cenderung tidak dilihat sebagai aksi terorisme. Masalahnya adalah apa yang terjadi di dalam mind pelaku teror di AS dan pelaku teror di Indonesia? Di sana tidak ada analisa ideologis yang menyebabkan seseorang melakukan teror di tempat publik. Sementara, di Indonesia cenderung dicarikan alasan ideologis yang berbasiskan religi, untuk menjelaskan teror.

Di sinilah perlu dipelajari sistem urat syaraf seseorang, jika dia sudah berkomitmen menjadi pembunuh. Misalnya, seorang sniper di kalangan aparat keamanan, akan berlaku layaknya seorang yang baik-baik. Mereka dikenal dengan cool dan jarang bicara secara serampangan. Takut terbuka jatidirinya yang sebenarnya. Seorang pembunuh bayaran, cenderung menutup diri mereka, seperti layaknya seorang teroris di dalam kehidupan nyata. Hanya saja, pekerjaan mereka membunuh yang diperintahkan ke kepala mereka, didasarkan pada alasan-alasan yang berbeda (materi dan ideologi). Namun, gelombang otak mereka mengatakan bahwa membunuh adalah pekerjaan saya. Majalah Time memberikan gelar Man of War pada Robert Gates sebagi Sekretaris Pertahanan pemerintah AS oleh majalah Time dan Man of Terror pada Osama bin Laden. Pekerjaan mereka sama, yaitu membunuh, hanya alasannya saja yang berbeda.

Dapat dideteksi
Tampaknya masalah yang paling substansi adalah apa yang terjadi di dalam pikiran seseorang, itu yang perlu dijelaskan. Siapa yang mengendalikan pikiran para pelaku teror tersebut. Inilah jawaban yang perlu dianalisa perspektif “pembajakan pikiran manusia.” Dalam teori “manusia sebagai tanah liat” ada asumsi bahwa manusia dapat digerakkan jika pikirannya sudah dikuasai. Dalam studi mind control, kedudukan seseorang dapat dideteksi, sejauh sinyal otaknya masih dapat terpancar. Melalui kecanggihan teknologi, posisi seseorang juga dapat dikendalikan melalui alat elektronik semisal handphone, yang ada pada seseorang tersebut. Inilah tugas para agen intelijen untuk mendeteksi target operasi mereka melalui mind control dan sinyal gelombang elektromagnetik.

Karena kecanggihan tersebut, maka tidak jarang dikatakan bahwa peristiwa teror merupakan suatu rekayasa. Walaupun asumsi tersebut tidak seluruhnya benar. Dalam kajian intelijen ada suatu istilah yaitu higher intelligence di mana ada sisi lain yang tidak bisa dilawan oleh manusia, yaitu kemisteriusan kehidupan manusia di dunia, yang dikendalikan oleh alam lain. Di sini adalah konsep Cosmic Mind yang berisi imajinasi kosmik, mengenai suatu peristiwa tidak bisa dihindari oleh manusia. Berbagai hal ini, misalnya, dapat dibaca dalam karya Jonathan Black yang berjudul The Sacred Historys: How Angels, Mystics and Higher Intelligence Made our World (2013).

Akhirnya, mind control dan higher intelligence selalu menjadi “catatan pinggir” di dalam menjelaskan setiap perilaku manusia di muka bumi. Manusia hanya mampu memberi penjelasan dari setiap “sebab” dan “akibat” aksi teror. Di tengah-tengah itu semua tidak ada sesuatu yang serba kebetulan, mengingat koneksi pikiran manusia akan terus tersambung dengan gerak alam semesta. Teror itu sudah ada sejak manusia diciptakan (Iblis meneror Adam), dan akan terus ada sampai kiamat. Manusia harus mampu menjaga pikiran dan kesadarannya, supaya teror tidak masuk ke pikiran mereka dan meruntuhkan hati nuraninya. Inilah sebenarnya tugas negara di dalam meredam teror. Sebab, sejarah konsep teror juga sebenarnya dimulai oleh negara ketika meneror rakyatnya. Nah!

* Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Dosen pada Program Studi Hukum Pidana Islam, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan penulis buku From Islamic Revivalism to Islamic Radicalism in Southeast Asia (2015). Email: abah.shatilla@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved