Selasa, 2 Juni 2026

Kupi Beungoh

Asap Rokok di Momen Lebaran: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Ginjal Keluarga

Lebaran identik dengan silaturahmi, opor, rendang, lontong dan rumah yang riuh oleh keluarga. Suatu hari saat...

Tayang:
Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
NIA MULLIDAYANTI - Ns. Nia Mullidayanti, S.Kep, Pengurus GEN-A. 

Oleh: 

Ns. Nia Mullidayanti, S.Kep, Pengurus GEN-A

SERAMBINEWS.COM - Lebaran identik dengan silaturahmi, opor, rendang, lontong dan rumah yang riuh oleh keluarga. Suatu hari saat hari raya idul adha, saya dan keluarga besar sedang kumpul keluarga untuk saling bermaaf-maafan dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Saat sedang bercengkrama, tiba – tiba paman dan saudara laki -laki izin keluar sebentar, “Bun, keluar bentar ya, soalnya mau ngeroko diluar,” ucap salah satu saudara lelaki. bunda sempat terkejut “masa lagi lebaran gini tetap ngerokok, bahaya tau. Disini banyak anak kecil dan ada nenek sama tante yang lagi hamil”.  “Aman kok bun, Cuma di teras, ga didalem rumah,” ucap salah satu saudara laki-laki.

Kerap kali diingatkan, namun peringatan itu selalu terabaikan. Di balik tawa dan kue nastar, ada “tamu” berbahaya yang sering kita abaikan, yaitu asap rokok. Banyak yang mengira bahwa tidak berisiko jika merokoknya dilakukan di halaman rumah. Di tengah kebiasaan makan opor dan rendang saat hari raya, paparan asap rokok sering kali luput dari perhatian. Padahal, keduanya dapat memberikan beban tambahan bagi kesehatan ginjal yang sering terlupakan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, dan lansia dengan kondisi kesehatan tertentu.

World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa saat ini terdapat sekitar 674 juta orang hidup dengan penyakit ginjal kronis di seluruh dunia. Salah satu faktor yang mempercepat kerusakan pembuluh darah yang berperan penting dalam kesehatan ginjal adalah kebiasaan merokok. Selain itu, menurut National Kidney Foundation, merokok dapat merusak pembuluh darah yang dapat mengurangi aliran darah ke ginjal. Kondisi ini membuat ginjal bekerja lebih berat dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal kronis (CKD), gagal ginjal, hingga kanker ginjal.

Pada perokok pasif, efek ini tetap nyata karena partikel halus dari asap rokok dapat menembus paru lalu masuk ke sistem peredaran darah. Hidangan lebaran cenderung identik dengan makanan tinggi garam, gula, dan lemak. Garam berlebih yang kita konsumsi dapat menaikkan tekanan darah, gula dan lemak yang terdapat dalam makanan tersebut memperberat kerja ginjal karna dapat menimbulkan penumpukan lemak di pembuluh darah, akibatnya dapat mengurangi aliran darah ke ginjal sehingga lambat laun dapat mengurangi fungsi ginjal.

Ketika kebiasaan tersebut sering diabaikan, tidak hanya perokok aktif, tapi perokok pasif (keluarga yang tidak merokok) juga turut menanggung risikonya. Merokok di momen lebaran sering dibungkus alasan “toleransi” atau “sekadar sebentar di teras”. Padahal partikel asap menempel di pakaian, sofa, dan karpet (third-hand smoke) tanpa disadari lalu terhirup kembali oleh anak kecil yang bermain di lantai. Tradisi tidak boleh menjadi dalih menormalisasi bahaya kesehatan

Momen berkumpul bersama keluarga yang seharusnya menjadi ruang untuk berbagi kebahagiaan, mempererat hubungan, dan menciptakan kenangan yang baik. Namun, tanpa disadari, kebiasaan kecil seperti merokok di sekitar anggota keluarga dan pola konsumsi yang tidak sehat dapat mengubah momen tersebut menjadi awal dari berbagai masalah kesehatan di masa depan. Dampaknya mungkin tidak sekarang, tetapi perlahan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis pada orang-orang yang kita sayangi.

Pada akhirnya, kebiasaan yang awalnya dianggap sepele justru dapat menghadirkan kesedihan, ketika anggota keluarga harus menghadapi sakit berkepanjangan, biaya pengobatan yang besar, atau bahkan kehilangan orang tercinta. Karena itu, menjaga kesehatan saat berkumpul bersama keluarga bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan bentuk kasih sayang dan tanggung jawab kepada mereka yang ingin kita lindungi. 

Dari gambaran kasus diatas, muncul pertanyaan yang seharusnya dapat menjadi perhatian kita bersama, bagaimana cara melindungi anggota keluarga dari paparan asap rokok? pertanyaan ini penting karena dampak rokok tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif yang merokok saja, tetapi juga oleh anak, pasangan, dan anggota keluarga lain yang berada di sana. Jika keluarga merupakan tempat yang paling aman untuk tumbuh dan hidup sehat, maka setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari paparan asap rokok.

Baca juga: Ada Wahana Edukasi Anti-Rokok di CFD Banda Aceh, Ini Penjelasan Gen-A

Apa yang bisa kita lakukan?
1.    Membangun kesepakatan keluarga bebas rokok
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membuat kesepakatan bersama melalui komunikasi dan kesepakatan keluarga sebelum momen hari raya berlangsung, bahwa selama acara keluarga dan sesudahnya tidak ada aktivitas merokok di dalam rumah maupun di teras rumah. Kesepakatan ini bukan untuk menghakimi perokok, melainkan untuk melindungi seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak, ibu hamil, dan lansia yang lebih rentan terhadap dampak asap rokok. Dengan adanya komitmen bersama, suasana silaturahmi dapat berlangsung lebih nyaman dan sehat.

2.    Menciptakan aktivitas keluarga yang lebih sehat
Momen berkumpul sebaiknya diisi dengan kegiatan yang dapat mempererat hubungan antar anggota keluarga, seperti ngobrol santai, bermain bersama, atau menikmati hidangan sehat. Ketika perhatian terfokus pada interaksi dan kebersamaan, keinginan untuk merokok sering kali dapat berkurang. Selain memperkuat ikatan keluarga, aktivitas positif ini juga membantu membangun budaya hidup sehat dalam keluarga.

3.    Budayakan cek kesehatan keluarga 
Langkah paling sederhana yaitu menyediakan alat cek tekanan darah di rumah dan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, karena tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama kerusakan ginjal. Namun, pemeriksaan tekanan darah saja sering kali belum cukup. Jika memungkinkan, anggota keluarga terutama yang memiliki faktor risiko seperti yang sering merokok, diabetes, obesitas, atau yang memiliki riwayat hipertensi (darah tinggi), sebaiknya melakukan pemeriksaan laboratorium setiap enam bulan hingga satu tahun sekali. Pemeriksaan seperti gula darah, kolesterol, fungsi ginjal dan urin lengkap dapat membantu mendeteksi gangguan kesehatan ginjal lebih dini sebelum berkembang menjadi penyakit ginjal yang lebih serius. 

Lebaran yang semestinya dapat menjadi momen menyembuhkan, bukan menambah luka yang tak terlihat. Asap rokok mungkin tak meninggalkan noda di baju koko, tetapi ia menorehkan jejak pada pembuluh darah kecil ginjal keluarga kita. Mulai hari ini, mari jadikan silaturahmi lebih ramah terhadap kesehatan keluarga. Satu keputusan kecil tidak merokok di area rumah dapat menyelamatkan kesehatan dan ginjal orang-orang yang kita cintai. Rumah bebas asap rokok merupakan investasi terbaik bagi kesehatan keluarga di masa mendatang.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved