Sabtu, 9 Mei 2026

Empat Pilar Kehidupan

ISLAM mengajarkan bahwa hidup ini bukanlah untuk berleha-leha, menghabiskan waktu tanpa ada manfaat

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Zarkasyi Yusuf

ISLAM mengajarkan bahwa hidup ini bukanlah untuk berleha-leha, menghabiskan waktu tanpa ada manfaat yang dapat dipetik, baik untuk pribadi maupun orang lain, sebab kehidupan ini adalah ladang untuk hari akhirat kelak. Jangan pernah menyangka bahwa setelah kematian semuanya akan selesai, justru sebaliknya. Setelah kematian, kita akan diminta pertanggungjawaban atas segala fasilitas yang dianugerahkan Allah semasa hidup di dunia.

Dalam menjalani kehidupan ini, semua kita mendambakan kebaikan, ketentraman dan ketenangan dalam menguatkan hidup ini, terutama dalam memperbanyak amal untuk bekal akhirat kelak. Dunia ini pun membutuhkan penyangga yang kuat agar berjalan dinamis, selaras dan sesuai dengan harapan dan aturan yang telah ditetapkan oleh Pencipta dunia ini. Kekuatan dan penyangga itu ada empat pilar yaitu ilmunya para ulama, keadilan umara, kedermawanan orang kaya, dan doa si miskin. Jika empat pilar ini berjalan, maka kehidupan akan selalu dinamis, penuh kenyamanan dan ketenangan.

Ulama dan umara (penguasa) adalah pasangan yang tak dapat dipisahkan, dua kekuatan besar ini merupakan peyangga kehidupan yang kokoh, jika salah satunya pincang maka rusaklah kehidupan ini. Ulama dan umara adalah mitra sejajar yang saling membutuhkan dan melengkapi guna menyelamatkan kehidupan ummat. Kembali kita membuka lembaran sejarah masyarakat madani kota Madinatul Munawwarah, Rasulullah adalah pemimpin tertinggi dalam bidang agama dan juga petinggi dalam urusan Negara, tidak ada persoalan yang tidak tuntas saat itu, tidak ada perselisihan yang tidak dapat dilerai kala itu, kehidupan saat itu aman, tentram dan selalu dalam keridhaan Allah. Mengapa demikian, karena dua pilar ini berjalan sebagaimana mestinya, dua kekuatan ini disandang oleh Nabi Muhammad saw.

Dalam catatan sejarah, kita pernah membaca bagaimana gemilangnya kemimpinan Nabi Daud as yang mampu mengalahkan keangkuhan raja Jalut. Kisah Nabi Sulaiman as dalam memimpin pasukannya, sehingga beliau tidak hanya sebagai seorang Rasul juga sebagai pemimpin yang tegas. Lalu bagaimana cakapnya Nabi Yusuf as dalam menjaga ketahanan pangan rakyatnya yang dilanda kamarau yang berkepanjangan. Para penguasa ini adalah Rasul Allah yang menjalankan kekuasaan sesuai dengan perintah Allah.

Allah Swt mengingatkan Nabi Daud as dengan firman-Nya: “Hai Daud! Kami jadikan engkau penguasa di bumi, laksanakanlah hukum di antara manusia berdasarkan kebenaran dan keadilan, dan janganlah engkau memperturutkan hawa nafsu karena itu akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sungguh orang yang tersesat dari jalan Allah akan mendapatkan hukuman berat, sebab mereka lupa akan hari perhitungan.” (QS. Shaad: 26)

Pidato fenomenal
Dalam sejarah kekhalifahan Islam, kita membaca bagaimana pidato Umar bin Khattab yang fenomenal saat pelantikan dirinya menjadi khalifah, ia berkata: “Wahai kaum muslimin! Apakah tindakanmu apabila aku memiringkan kepalaku ke arah dunia seperti ini (lalu beliau memiringkan kepalanya)?” Seorang sahabat menghunus pedangnya sambil mengisyaratkan gerakan memotong leher, ia berkata: “Kami akan melakukan ini.” Umar bertanya: “Maksudmu, kau akan melakukannya terhadapku?” Orang itu menjawab: “Ya!” Lalu, Amirul Mukminin berkata: “Semoga Allah memberimu rahmat! Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara rakyatku orang apabila aku menyimpang dia meluruskan aku.”

Seiring perkembangan zaman, tentu sangat sulit menemukan figur yang mampu menyandang dua kekuatan besar ini. Lalu bagaimana menyikapinya agar kehidupan ini benar-benar berjalan sesuai dengan aturan yang telah digariskan syara’? Tidak ada cara lain, sinergisitas dua kekuatan besar ini perlu selalu selaras dan dinamis, saling terbuka dan melengkapi. Ulama tampil menjadi penasehat dengan ilmu yang dimilikinya, umara pun tampil tegas dengan petunjuk dan nasihat ulama, sehingga setiap kebijakan dan program selalu dalam koridor yang telah ditentukan syara’. Memposisikan diri sesuai tugas dan fungsi tentu menjadi salah satu cara dalam mewujudkan sinergitas, ulama selalu menjadi panutan dan pelita, umara pun adil dalam menjalankan kekuasaan, menghormati ulama dan mengayomi rakyatnya.

Kebutuhan akan materi tidak dapat dihindari dalam kehidupan ini, sehingga setiap manusia pontang-panting mencari materi demi pemenuhan kebutuhan hidupnya di dunia. Berangkat dari tolak ukur ini, ada dua kutub dalam hidup ini, kaya dan miskin. Orang kaya dipahami sebagai orang yang bergelima materi dan hidup berkecukupan, sedangkan miskin adalah orang yang kurang mampu dalam sisi materi dan hidupnya serba kekurangan. Kaya dan miskin adalah Sunnatullah, persoalannya bagaimana orang kaya meraup amal dengan kekayaan yang dimilikinya.

Begitu pula halnya dengan orang miskin, bagaimana mereka meraih pahala dengan kondisi kemiskinan yang disandangnnya. Dalam hidup, kaya dan miskin saling ketergantungan satu sama lain, disebut kaya karena ada yang miskin. Dalam Alquran, Allah Swt menyebut pendusta agama bagi barang siapa yang tidak memperdulikan anak yatim dan tidak menganjurkan memberikan makan bagi orang-orang miskin (QS. Al-Maun).

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw mengingatkan bahwa pertolongan Allah akan selalu datang bagi hamba-hambanya, selama hamba-hamba tersebut masih menolong saudaranya yang lain. Banyak ayat dan hadist yang mengancam orang kaya yang tidak dermawan, orang kaya yang tidak mempergunakan kekayaannya dalam mencari keridhaan Allah. Satu ancaman tersebut adalah “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur dengan kenyang, sementara tetangganya lapar, padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al Bazzaar).

Lalu, bagaimana kontribusi orang kaya dalam memperkuat pilar kehidupan ini? Seorang sahabat Rasulullah yang terkenal sebagai hartawan (konglomerat) adalah Utsman bin Affan, kekayaan beliau saat itu andai dipergunakan untuk membeli makanan penduduk Madinah setiap harinya, harta beliau tidak akan habis. Andai hartanya itu digunakan untuk membeli tanah dan unta milik penduduk Madinah, hidup beliau tidak akan kewalahan juga (buku Ustman bin Affan, Si Super Dermawan). Meskipun harta melimpah, Ustman bin Affan tidak pernah hidup mewah, kehidupan beliau sederhana, makan apa adanya, serta gemar menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

Jurang pemisah
Jika sifat dermawan tidak lagi singgah di hati orang kaya, maka indahnya hidup dalam kekayaan tidak akan pernah dirasakan mereka, karena berbagi adalah sebuah kenikmatan dalam hidup, terutama dalam membantu mereka yang kurang mampu. Hakikatnya, harta milik kita adalah apa yang telah kita pergunakan pada jalan Allah Swt.

Melihat perkembangan sekarang, dalam masyarakat sepertinya sudah terjadi jurang pemisah yang terjal antara si kaya dan miskin, orang kaya semakin kaya dan yang miskin bertambah miskin. Belum terlihat upaya orang kaya serta kebijakan penguasa dalam upaya mengentaskan kemiskinan, menyelamatkan saudara kita dari kemiskinan karena Ali bin Abi Thalib berpesan bahwa kemiskinan dekat dengan kekufuran.

Jangan pernah meremehkan orang miskin, sebab doa mereka adalah sumber kekuatan orang kaya dan kejayaan ummat. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda: “Barangkali orang yang rambutnya semrawut dan bajunya berdebu, serta selalu ditolak jika bertamu, jika ia bersumpah kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Muslim).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved