Opini
Kasih Sayang Menurut Islam
SECARA historis, Valentine’s Day (Hari Valentine) yang dirayakan pada setiap 14 Februari, sesungguhnya adalah upacara ritual agama Romawi kuno
Oleh Marhamah
SECARA historis, Valentine’s Day (Hari Valentine) yang dirayakan pada setiap 14 Februari, sesungguhnya adalah upacara ritual agama Romawi kuno, yang kemudian menjadi simbol agama Nasrani. Namun, kuatnya pengaruh budaya tersebut melalui informasi yang gencar diterima oleh para remaja muslim khususnya saat ini menyebabkan mereka sulit melawan budaya yang sudah menjadi kebiasaan. Mereka menjiplak habis-habisan perilaku permisif dan serba halal dari budaya Barat, salah satunya ikut-ikutan merayakan hari valentine.
Mengingat masalah merayakan hari valentine ini bukan semata-mata budaya saja, tetapi terkait dengan ritual keagamaan yang tidak sesuai dengan konsep ajaran Islam, maka fenomena ini sangat memprihatinkan. Efek dari gencarnya perayaan hari valentine adalah menghilangnya nilai-nilai spiritualitas dan moralitas dalam diri remaja muslim, juga dapat menghilangkan budaya ketimuran luhur yang selama ini melekat. Tergerusnya nilai-nilai spiritual tersebut terlihat dari semakin jauhnya mereka dari tradisi keagamaan seperti aktif di rohis sekolah, remaja mesjid, shalat berjamaah, dan mengaji. Disamping itu, perayaan hari valentine selalu dihiasi dengan kegiatan hura-hura yang biasanya sangat jauh dari norma-norma agama Islam.
Keikutsertaan remaja muslim dalam hura-hura ini merupakan refleksi kekalahan mereka dalam sebuah pertarungan mempertahankan identitas dirinya. Jika remaja muslim ini sudah memahami bahwa Hari Valentine sama sekali tidak memiliki kaitan sejarah dengan Islam, maka menjadi tugas mereka untuk menghindari dan tidak ikut serta dalam sebuah budaya yang tidak bersumber dari ajarannya. Artinya Hari Valentine bukanlah simbol dan identitas remaja muslim. Valentine’s Day sejatinya sengaja dijajakan ke penjuru dunia sebagai bagian dari skenario liberalisasi (kebebasan).
Patut kita renungkan satu firman Allah Swt dalam Alquran: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. al-Baqarah: 120)
Perlu memahami
Dalam konteks ini remaja muslim juga perlu memahami bahwa meniru budaya religi lain yang tidak sesuai dengan tradisi Islam, maka orang tersebut dianggap bagian dari yang ditirunya. Rasul saw menegaskan: “Siapa yang menyerupai sesuatu kaum, maka dia termasuk dalam kaum tersebut.” (HR. Abu Daud). Hal ini memberikan pencerahan bahwa Islam dengan ajarannya yang universal harus dijajakan secara benar ke seluruh penjuru dunia, sehingga Islam menjadi “imam” peradaban dunia kembali.
Fenomena Valentine’s Day ini salah satunya merupakan dampak keruntuhan peradaban Islam yang sejak lama berlangsung. Remaja muslim masa kini seakan “buta” terhadap peradabannya sendiri diakibatkan munculnya serangan budaya non muslim. Kemampuan remaja muslim untuk bertahan dengan ideal-ideal Islam yang rapuh menjadikan mereka terseret arus besar peradaban dunia yang bersifat permisif, hedonis, dan materialistik.
Lumpuhnya pertahanan mereka terhadap gencarnya serangan budaya lain yang terus menggelembung menjadikan mereka harus takluk dan menjadi “budak” budaya lain. Meskipun keinginan untuk mengikuti sesuatu memang ada dalam diri manusia, akan tetapi menjadi tercela dalam Islam jika yang diikuti itu berbeda dari segi keyakinan. Mengikuti kebiasaan yang bukan Islam artinya sama dengan ikut memopulerkan ritual-ritual tersebut, sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam.
Memang tidak disangkal bahwa Islam tidak melarang cinta kasih, karena Islam sendiri adalah agama kasih dan dan menjunjung cinta pada sesama. Islam adalah agama yang paling konsisten dalam menebarkan kasih sayang di muka bumi ini. Allah Swt berfirman: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128). Ayat tersebut menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sarat dengan kasih sayang. Kasih sayang ini tidak dibatasi hanya pada tanggal 14 februari dan tidak dilakukan dengan cara-cara yang bertentangan dengan norma-norma agama.
Kasih sayang dalam koridor Islam adalah mengikuti cara-cara yang dicontohkan oleh Nabi saw yang dibungkus oleh iman, sebagaimana sabdanya: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks yang sama Rasul saw juga memerintahkan untuk menyayangi makhluk di permukaan bumi ini tanpa membedakan agamanya, dalam sabdanya: “Orang-orang penyayang, pasti disayangi Allah. Maka sayangilah setiap penduduk bumi, niscaya engkau akan di sayangi oleh penghuni langit, yakni para malaikat.” (HR. Abu Daud). Dengan demikian, kasih sayang dalam Islam adalah permanen, bukan temporer, dihargai dan menempati posisi terhormat, kudus, dan sakral.
Tiga tingkatan
Islam membagi cinta dalam tiga tingkatan: Pertama, cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya yang kemudian disebut dengan cinta hakiki; Kedua, cinta kepada orang tua, istri, kerabat, dan seterusnya; Dan, ketiga, cinta yang mengedepankan cinta harta, keluarga, anak dan istri melebihi cinta pada Allah, Rasul, dan jihad di jalan-Nya.
Kasih sayang dalam Islam diwujudkan dalam bentuk yang nyata, seperti silaturrahmi, saling menolong, meringankan beban orang lain yang dilanda musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari perbuatan munkar. Dengan demikian kasih sayang dalam Islam itu ada dalam kehidupan sepanjang zaman, tak terbatas ruang dan waktu. Semangat inilah yang harus dihidupkan dalam pemahaman remaja muslim.
Yang terpenting dari fenomena Valentine’s Day ini adalah bagaimana aqidah Islam dipegang dengan erat sehingga tidak tergoyahkan dengan budaya yang bertentangan dengannya, dan bagaimana memaknainya dengan makna yang rasional. Biarlah urusan agama lain itu dikerjakan oleh orang yang bersangkutan, dan umat Islam menjalankan sesuai dengan yang diajarkan oleh agama Islam. Garis ini mutlak bagi umat Islam sesuai dengan firman Allah Swt: “Katakanlah, hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6). Nah!
Dra. Marhamah, M.Kom.I., Dosen Komunikasi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh, Lhokseumawe. Email: marhamah_rusdy@yahoo.com